GAGASAN
Ilustrasi (Helmi/dok)
16/12/2014 12:24:54
1316

Ada Hantu di Bukit Tuyul?

Harianlampung.com - Guna mengaktualisasikan kiprahnya, Tuyul lebih mengeratkan ‘hubungan intimnya’ bersama Bunglon—kebetulan, sejak reformasi melindas pemerintahan yang sarat KKN, banyak tokoh-tokohnya jadi penganggur.

Kini, kolaborasi ini melontarkan beragam intrik-intrik politik guna memecahkan rasa persatuan diantara sesama anak negeri. Agar lebih bergema, Tuyul, yang kebetulan mengelola media massa, dipergunakan Bunglon untuk mensosialisasikan beragam intrik.

Mulai dari cara mengganggu lawan-lawan politik, hingga menista kelompok yang tidak sehaluan dengan ideologi mereka. Padahal, pola kolaborasi seperti ini, sangat mengancam ketentraman negeri. Namun apa mau dikata, Tuyul dan Bunglon tak peduli, walau negeri harus terpecah menjadi sejuta. Yang penting, eksistensi kelompoknya harus diraih kembali, seperti di era pemerintahan KKN itu.

Sebenarnya, soal ideologi ini tidak sepenuhnya dilaksanakan dan diyakini oleh Tuyul dan Bunglon. Sebab, ideologi yang mereka gembar-gemborkan, plus dibumbui stigma menegakkan demokrasi, ternyata hanya merupakan selimut belaka. Bukankah demokrasi tanpa tegaknya hukum akan menjadi anarkhi. Itukah yang akan dicapai?

Disisi lain, prilaku kesehariannya, lebih sebagai bourjuis dan kapitalis. Buktinya, ketika era mereka mampu mengendalikan penguasa, angka korupsi begitu tinggi. Bahkan sampai tak tersentuh oleh hitungan kalkulator 20 desimal. Ingat, Tuyul dan Bunglon merupakan bagian dari kerajaan para konglomerat hitam yang meluluhlantahkan negeri, hingga terjerembab ke tabir krisis multidimensi.

Mengapa kini gelisah? Awalnya adalah soal dosa masa lalu. Sebab, banyak kelompok nasionalis dan Islam  yang menjadi korban ulah mereka, sudah mulai terbuka matanya. Ingat, bagaimana kasus Tanjungpriok diplintir melalui media-massa, ketika itu? Bahkan tentara yang menjadi bumper pemersatu negeri, pun tak luput dari makian dan cercaannya. Dengan bertameng jubah demokrasi dan hak asasi manusia, tak sedikit tokoh  yang dikambinghitamkan, hanya dengan kepandaian memutarbalikkan fakta dan realita.

Kini, kelompok Tuyul dan Bunglon dari hari ke hari kian merasakan, apa yang dinikmati mereka dimasa lalu, secara perlahan mulai hilang. Era sudah berganti. Alam sudah berubah. Kesadaran tentang hilangnya nikmat masa lalu inilah yang kemudian membentuk karakter gelisah. Dan kini mulai bangkit kembali.

Memang harus diakui, pola kerja yang dibangun Tuyul dan Bunglon di era ini, terbilang canggih. Salah satunya melalui media massa. Hanya, sepandai-pandainya Tuyul melompat, tetap saja akhirnya masuk neraka. Dan konspirasi penumbangan anak negeri yang memiliki nasionalisme tinggi, itu kian terlihat manakala mereka sukses melakukan intervensi pada dunia hukum dan peradilan.

Sayangnya, anak negeri yang memiliki cita rasa nasionalisme tinggi, masih malu-malu untuk tampil dan merapatkan barisan, guna mengantisipasi gerakan Tuyul dan Bunglon, yang secara all-out menggunakan seluruh teori agitasi dan provokasi. Harus disadari,  gerakan seperti ini tak pernah akan berhenti, hingga negeri ini jatuh di dalam genggaman kaum kapitalis yang menjadi skondan mereka. Dan isyarat itu terlihat secara jelas, ketika cermin kaum kapitalis menampakkan mukanya.

Harus diakui, pola provokasi dan agitasi untuk mengisi ruang publik  memang canggih dilakukan Tuyul melalui gaya jurnalismenya. Bukan itu saja, pola agitasi itupun dilakukan hingga keruang hukum. Entah apa logikanya, ketika pengacara mendikte dan mengajari hakim yang memimpin sidang.

Seandainya saja, gaya jurnalisme “Ada Hantu di Bukit Tuyul?” yang dikembangkan itu dibenarkan oleh hukum dan perundang-undangan, tak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi di dalam ruang publik di negeri ini. Setiap detik, setiap jam, dan setiap hari, akan jatuh korban. Pasalnya, proses mengisi ruang publik yang ada, hanya dijejali dengan  fitnah, konon dan adu domba.

Maka, akan tragis sekali nasib negeri ini, bila semua itu menjadi sebuah realita di masa depan.Janganlah para pendiri negeri mempersalahkan, bila rasa nasionalisme untuk mempertahankan iklim demokrasi yang utuh di negeri ini menjadi sirna. Tatanan hukum, moral, dan etika profesi bisa bablas seluruhnya. Kenapa? Setiap individu yang mampu, dipastikan ingin mengembangkan dan mengisi ruang publik dengan menggunakan gaya jurnalisme “Ada Hantu di Bukit Tuyul?”. Fitnah dan nista akan dibenamkan keseluruh penduduk negeri melalui media massa. Seharusnya, jurnalis hanya melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernya. Jadi bukan dengan gaya jurnalisme Tuyul. (Fadzri Try Utama)