GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
12/8/2017 00:08:36
1214

Episode 2: Ketika Mbak Pur Berkehendak

Harianlampung.com - Adakah yang bilang, bahwa Mbak Pur gagal dalam bisnis? Hampir tak ada. Kondisi ini menciptakan gejolak di dalam dirinya. Harta melimpah ruah, melampaui batas-batas kebutuhan hidup sebagai manusia.

Jangan hanya dekat dengan kekuasaan, perlu lebih dalam. Kekuasaan harus digenggam, dikuasai. Kekuasaan harus mampu dikontrol secara penuh. Bukan hanya sebatas menjalin hubungan kedekatan saja. Begitu syahwat yang menggelora dalam diri Mbak Pur. Bingung untuk menggunakan harta bendanya. Mungkin syahwat ini merupakan dampak atas kegagalan berumah tangga.

Namun Mbak Pur menyadari, agak sulit bagi dirinya untuk secara langsung menjadi penguasa. Padahal, sejak empat tahun tahun lalu, Mbak Pur berhasil menempatkan Ronald dan beberapa temannya sebagai pemegang puncak kekuasaan. Utamanya di wilayah tempat berdiri Pabrik Permen. Bahkan lebih dari itu, Mbak Pur  masuk lebih dalam, turut menentukan siapa saja yang berhak untuk menduduki kursi-kursi kekuasaan. Ini pun belum cukup.

Roda terus berputar. Jarum jam pun demikian. Tak ada yang bisa jalan secara sempurna. Roda bisa bocor atau meletus, jarum jam bisa terseok-seok, bahkan berhenti berputar.

Mbak Pur merenung, berkontemplasi. Apakah roda dan jarum jam yang selama ini berputar terseok-seok? Atau malah berhenti. Tidak mungkin. Selama ini cukup besar dana yang digelontorkan untuk merawat semua itu. Bahkan biaya yang dikeluarkan melaluli maniulasi CSR hampir sebanding dengan biaya menyedot lemak dan operasi plastik, demi mempertahankan kecantikan sekaligus kesintalan tubuhnya.

Tibalah Mbak Pur pada kesimpulan: Roda dan Jarum Jam harus diganti. Sudah kedaluwarsa dan tidak efektif lagi, baik sebagai pengantar ataupun penunjuk arah. Kekuasaan yang diwakili kepada Sang Putera sudah tidak bisa dikelola secara prima. Perlu diganti.

“Dik, kamu ke Jakarta, kakak mau bicara?” suara Mbak Pur terdengar manja ditelinga sang adik.

“Iya Kak, sore saya terbang ke Jakarta,” balas Juned.

Setelah menekan tombol off pada iphone teranyar, Mbak Pur termenung? Saatnya bicara serius dengan sang adik? Sembari hilir mudik di ruang kerja, Mbak Pur bergegas ke kamar mandi dipojok kanan ruangan. Dia berkaca, menghitung kerut-kerut di wajah. Dia berpikir,kalau soal usia dan penampilan, masih terlihat cantik. Cukup mengundang hasrat bagi pria untuk mendekati.

Mengenakan baju berwarna hitam, tanpa lengan, Mbak Pur meluncur ke warung kopi kesayangannya di sebuah mall yang tak begitu jauh dari kantor, Senayan City. Warung kopi yang sengaja dibuat untuk sekadar menjadi tempat menjamu kawan dan lawan bisnis.

Semerbak parpum yang membalut wangi tubuh sintal Mbak Pur, membuat pria-pria yang berpapasan di tangga berjalan melirik.

Seperti biasa, mengambil tempat di pojok kanan warung kopi, sebuah tempat pribadi yang sangaja dibuat, Mbak Pur melemparkan tubuh diatas sofa yang lembut. Matanya menyapu seluruh isi ruangan yang penuh dengan kursi-kursi pengunjung. Aman, tak ada satupun tamu yang dikenal atau bahkan mengenal dirinya.

Hanya dalam hitungan menit, sosok Juned masuk ruangan. Dia langsung menyambangi Mbak Pur. Cipika – cipiki, lantas duduk. Tak terlalu tua secara usia, hanya berjarak 3 tahun bila dibanding dengan Juned, pikir Mbak Pur.

Mbak Pur menumpahkan seluruh kekesalannya kepada sang adik. Sebuah kekesalan yang dalam. Ya, patah arang terhadap Ronald yang melangkah melampaui kewenangan yang diberikannya. (simak pada Episode Ketika Mbak Pur Patah Arang, sebuah wawancara khusus).

“Hampir semua larangan yang saya gariskan, dilanggar,” ungkap Mbak Pur berapi-api.

“Saya pikir sudah seizin bunda,” balas Juned. (Bila berdua, sang adik menyapa Mbak Pur, Bunda).

“Tidak. Putera sudah melampaui batas-batas toleransi. Dia sudah terlalu jauh bermain politik. Citra di mata publik jadi rusak, bahkan mengancam citra dan keberadaan Pabrik,” kata Mbak Pur.

(Juned lantas menuturkan semua langkah dan gerak  yang dilakukan Ronald dalam menggunakan kekuasannya).

“Saya sudah berupaya mengingatkan, tentu dengan cara saya. Bunda tahu sendiri, saya tidak diberi peluang lebih jauh. Lebih lagi sekarang, saya tidak bisa berbuat, sudah diluar,”timpal Juned.

Mbak Pur menatap dalam mata sang adik. Dia menerawang. Terlintas dalam benaknya, upaya-upaya yang sudah dilakukan Juned dalam mengamankan bisnis. Juga terlintas dibenak, kehangatan-kehangatan yang pernah dilalui bersama Juned.

“Kamu tak perlu berbisnis. Sebab, tak akan berhasil berbisnis bila tak memiliki kekuasaan,” ungkap Mbak Pur (Mbak Pur mengubah sapaan terhadap Juned. Kamu, sebuah panggilan yang begitu saja meluncur dari mulutnya. Tentu saja sebagai balasan sapaan sang adik kepadanya, Bunda).

“Maunya bunda saya terjun ke politik, tidak berbisnis?” timpal sang adik.

Lantas Mbak Pur bertutur tentang kegelisahannya selama ini. Mbak Pur menumpahkan rasa kecewa yang mendalam terhadap Ronald dan ayahnya.

Mulai dari belum jadi apa-apa hingga menjadi penguasa. Mulai dari cukup hingga berkelebihan. Seluruh liku-liku prilaku sang putera, mulai dari menjadi pengutil dana proyek-proyek pembangunan hingga prilaku ke-lelakiannya diumbar Mbak Pur. Prilaku mengkhianati anak,  istri karena suka berhubungan dengan banyak wanita. Bahkan hingga bersinggungan dengan narkoba.

 “Saya sudah putuskan, kamu terjun ke dunia politik,” ujar Mbak Pur.

uJUned bingung. Bagaimana caranya terjun ke politik. Walau selama ini kerab bersinggungan dengan para politisi, tapi posisinya berbeda. Selama ini tidak menjadi anggota partai politik karena ada larangan bahwa Aparatur Sipil Negara dilarang jadi anggota parpol.

Waduh, saat ini harus menjadi anggota parpol. Perlu mendaftar ke parpol. Memang bisa? Begitu bola-bola pikiran Juned.

“Saya harus jadi politisi? Parpol mana yang akan menerima saya?” celetuk Juned.

“Tak perlu masuk parpol. Kamu langsung jadi ketua parpol,” ujar sang bunda.

Sontak Junde terkejut. Tidak percaya. Bagaimana caranya?

Mbak Pur lantas bercerita panjang lebar soal langkahnya merampas tampuk pimpinan sebuah parpol di kawasan Pabrik Permen. Tak lupa dia pun menuturkan bahwa langkah awal merebut kursi pimpinan parpol sudah diawali oleh sang putera. Namun semua itu dilakukan sang putera semata-mata guna menyusun kekuatan untuk kepentingan dirinya. Singkatnya Mbak Pur memenggal langkah Ronald.

“Bunda sedang atur semua. Ikuti saja langkah-langkah yang aku ambil. Kamu siapkan?,”

“Jika sudah demikian, ya aku siap melaksanakan perintah,” balas Juned sembari meneguk expresso pekat. (Sapaan kembali terlihat mesra, saling meng-aku dan meng-kamu)

“Jangan grogi gitu dong,” ujar Mbak Pur sembari menyapukan tissue di bibir bagian bawah Juned yang tercemar larutan expresso.