GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
13/8/2017 21:43:41
1397

Episode 3: Ketika Mbak Pur Memutuskan

Harianlampung.com - Siang hampir menuju akhir. Namun udara kota metropolitan tetap terasa panas. Suhu udara di Restoran Jepang yang berada di atas lobby sebuah hotel megah di kawasan Senayan, juga terjangkit suhu diluar. Padahal hembusan udara penyejuk ruangan terbilang kencang. Sebuah kehangatan yang lebih disebabkan suhu tubuh penghuni ruangan.

Di meja makan panjang, duduk empat orang pria yang terkenal sebagai mantan pembalap. Ada Nusahid, mantan pembalap Bali (balap liar), lantas Aryanto, mantan pembalap Formula, Bobby, mantan pembalap MotoGR, dan Kahar, mantan pembalap klas 1000 cc. Mereka kini menjadi politisi, bergabung  di Partai Go-Kart. Sebuah partai politik yang sesuai dengan profesi mereka sebelumnya.

Ke-empat pria gagah ini menjadi tamu Guntur, pengusaha kaya raya yang penuh kuasa. Ya Guntur, kakak lelaki Mbak Pur. Mereka duduk di kursi, melingkari meja. Guntur sendiri menempati kursi di kepala meja. Sementara Juned yang mendampingi, duduk di sebelah kiri.

Guntur menjadi tuan rumah. Perbincangan dibuka Nusahid, yang kini menjadi salah satu petinggi Partai Go-Kart. Karena profesinya sebagai pembalap, walau sudah menjadi pejabat partai, kerap ketika berbicara, kedua bibir Nusahid saling berbalap, bak ketika memasuki tikungan-tikungan tajam di lintasan sirkuit. Saling meliuk dan berpacu antara bibir bawah dan bibir atas.

Nusahid bercerita tentang perkembangan suhu politik terkini, pasca dilengserkannya tokoh Go-Kart di wilayah Pabrik Permen. Utamanya tentang rencana menempatkan Djojo atau Bambang menjadi pimpinan, sebagai pengganti Adit yang dilengserkan.

Guntur menanggapi cerita Nusahid dengan ringkas. “Itu kan kehendak Ronald. Saya boleh dong punya kehendak.”

Mendengar pernyataan Guntur, Nusahid dan tiga rekannya terkejut. Bukankah kehendak Ronald juga merupakan kehendak Guntur.

“Ah, Pak Guntur bisa aja. Ini sudah mulai tertata rapi, sesuai rencana semula dengan Mbak Pur,” sergah Nusahid, menampilkan gerak bibir yang khas.

“Ya itu kehendak mereka. Saya juga punya kehendak,”sambung Guntur.

Aryanto yang duduk disebelah Nusahid menyergap pernyataan Guntur. “Memang Pak Guntur punya kehendak apa?” ujarnya dengan suara khas, kepater jika menyebut huruf R (mungkin karena kelamaan tinggal di Paris).

“Saya ingin Juned yang menjadi Ketua menggantikan Adit,”tegas Guntur sembari mengarahkan telunjuk ke Juned.

“Wah, ini perubahan rencana. Perlu saya diskusikan dengan rekan lainnya, khususnya Pak Ketum,” timpal Nusahid.

“Silahkan dibicarakan. Seluruh konsekwensi biaya saya tanggungjawab. Penting bagi saya, Juned jadi ketua,” ujar Guntur.

“Jika demikian dan sudah kehendak Pak Guntur, kita siap ubah rencana awal dan siap dilaksanakan,” balas Nusahid.

Lantas terjadi pembicaran bisik-bisik, antara Nusahid dan Aryanto. Setelah kening berkerut, sembari saling bisik antara telinga, akhirnya wajah keduanya cerah. Sebuah tanda bahwa ada kesepahaman diantara mereka. Saling berbagi tugas guna menjalankan kehendak Guntur.

“Jadi Pak Guntur ingin posisi Djojo dan Bambang dikesampingkan?” tanya Aryanto sembari menyeruput green tea hangat.

“Atur saja. Bukan urusan saya,”tegas Guntur.

“Bagaimana dengan Ronald. Bukankah dia yang mengawali ?”tanya Aryanto.

“Bapak aturlah. Diayun-ayun tidak masalah. Bapak lebih pandai dari saya cara mengaturnya,”jawab Guntur.

Pemibicaraan terputus. Guntur berdiri sembari memajukan tangan kanannya. Nusahid dan rekannya termenung. Menerawang akan ketiban rezeki tambahan. Secara bergilir, Guntur menggamit tangan Nusahid dan Aryanto, lantas tangan Bobby dan Kahar. “Deal ya,” ujar Guntur.

Sejak awal pertemuan, Juned hanya terdiam. Namun mimik wajahnya menunjukkan kecerian. Nusahid menggamit lengannya. “Selamat ya,” ujar Nusahid, bergantian dengan Aryanto. Hanya satu kalimat yang meluncur dari mulut Juned: “Kita ini selalu siap menjalankan perintah.”

Lantas Guntur mempersilahkan tamunya untuk mencicipi hidangan khas Jepang yang sudah tersedia sejak awal pertemuan. Sembari bergurau, pengusaha kaya raya ini menunjukkan kesaktiannya. “Juned, beres ya. Jaga kepercayaan ini dengan baik. Kita sudah seperti keluarga. Jangan kecewakan saya.”

” Sambil memberhentikan gelas green tea didepan bibirnya, Juned hanya berkata “Siap Pak.”

Tak lama berselang, ditengah pembicaran ngalor-ngidul, sosok pria berbadan tegap masuk ke ruangan. Langsung menghampiri Guntur. Empat buah kantung kertas gemuk berwarna hitam dan bersablon Gucci, ukurannya tidak terlalu besar, tingginya hanya sekitar 20 cm, diserahkan sang pria. “Berikan ke bapak-bapak itu. Masing-masing satu,” ujar Guntur kepada sang pria.

Mengelilingi meja makan, pria berbadan tegap yang belakangan diketahui sebagai pengawal Guntur, memberikan satu persatu kantung yang dibawanya. Pertama diberikan pada Nusahid, lantas Aryanto, kemudian kepada Bobby, terakhir kepada Kahar. Usai berkeliling meja, sang pengawal langsung keluar ruangan.

“Sekadar oleh-oleh buat anak-anak di rumah. Atas waktu bapak-bapak yang saya sita, sehingga terlambat pulang” ujar Guntur.

Malam menemui asanya. Tak lama, pertemuan usai. Secara bergilir mereka  meninggalkan ruangan. Satu persatu.

Nusahid menjabat tangan Juned, dia berucap:”Kita komunikasikan segera. Nomor kontak berapa?” “Siap,” balas Juned sembari menyebutkan nomer telponnya 0812XXXXXXX. Nusahid langsung menyimpan didalam daftar kontak.

Ditengah tapakan langkahnya turun ke lobby, sengaja Juned tidak menggunakan lift, wajahnya sumringah. Tentu teringat pembicaraan bersama Mbak Pur di Senayan City, tiga hari lalu.

Situasi ini membuat saya penasaran untuk bisa melakukan wawancara langsung dengan Mbak Pur. Begitu banyak hal yang harus digali lebih jauh. Mulai dari soal pemicu yang membuat Mbak Pur sampai mengakusisi partai politik, hingga berapa persen saham yang dibeli? Apa yang ingin diperbuat setelah Juned menjadi Ketua? Tentu juga soal mengapa Mbak Pur sampai begitu kecewa terhadap Ronald.

Sembari menanti konfirmasi waktu wawancara dengan Mbak Pur, pikiran saya membayangkan banyak wajah yang marah bila mengetahui betapa ganasnya kendali uang dalam menciptakan boneka-boneka kekuasaan, khususnya di kawasan Pabrik Permen. Simak pada Eisode: Ketika Mbak Pur Patah Arang.