GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
14/8/2017 23:07:24
1258

Episode 4: Ketika Mbak Pur Patah Arang

Harianlampung.com - Cukup lama menanti, setelah mengalami lika-liku melelahkan, tiba juga saat melakukan wawancara dengan Mbak Pur. Sementara Juned sudah didapuk menjadi Ketua Partai Go-Kart menggantikan Adit.

Banyak tema tersusun dalam memori. Kapan lagi, inilah saat untuk membuka tabir. Mengambil tempat di sekitar kawasan SCBD, seperti yang dijanjikan, Mbak Pur duduk santai di sofa pojok ruangan. Hanya ada empat kursi dan satu meja dalam ruangan bernuansa ghotic.

Perempuan setengah tua (es-te-we) ini mengenakan baju terusan berwana hitam, disebelah kanan bagian atas, dekat dada tertera logo The House of Gucci. Sebuah merek pakaian bergengsi dari Italia. Warna sepatu yang digunakan Mbak Pur selaras dengan gaun. Juga keluaran produsen ternama di dunia, Cristian Louboutin. Sebuah maha karya desainer ternama dan bisa dipastikan hanya bisa ditaruh pada kaki perempuan golongan orang-orang kaya dan mashur saja.

Sepoi-sepoi udara penyejuk ruangan berhembus, ditengah wawancara, tercium bau wangi yang menghambur dari tubuh Mbak Pur. Bisa dipastikan dia memakain parfum bermerek dunia, Clive Christian’s Imperial Majesty . Sebuah merek parfum khusus, dimana untuk setiap jenis hanya diproduksi sebanyak 10 botol saja. Petikannya:

T: Terima kasih Mbak Pur telah berkenan meluangkan waktu.

Mbak Pur: Sama-sama. Apa kabar?

T: Baik dan sehat (sembari dengan ujung mata, saya memperhatikan perubahan posisi duduk Mbak Pur) Bisa diceritakan, kenapa sampai marah terhadap sang putera, Ronald ?

Mbak Pur: Cukup panjang bila diceritakan. Pointnya.. Ronald sudah melampaui batas-batas kepatutan. (dengan cekatan, tangannya menyapu ujung rambut).

T: Bisa saja gossip. Apakah tidak terlalu cepat membuat vonis?

Mbak Pur: O.. tidak. Semua laporan sudah diteliti. Baik dalam kapasitasnya sebagai penguasa ataupun sebagai pribadi. Semua clear.

T: Tapi kan bisa saja rekayasa. Bisa saja ada unsur rasa tidak suka?

Mbak Pur: Itu sudah diklarifikasi. Tak ada unsur itu. Bahkan bukan hanya kepada Juned, kepada Handi (binaan Mbak Pur yang juga jadi penguasa - red) sudah terklarifikasi. Saya patah arang.

T: Jika patah arang, bukankah akan berdampak cukup signifikan terhadap Pabrik Permen?

Mbak Pur: Ya, sudah kami pikirkan. Keputusan ini memang diluar rencana. Tapi apa boleh buat. Solusinya sedang kami siapkan.

T: Seberapa besar dosa Putera?

Mbak Pur: Cukup besar dan menyangkut soal citra. Baik citra dirinya maupun citra perusahaan.

(Tidak diduga, betapa ringannya Mbak Pur menjawab pertanyaan-pertanyaan. Bahkan yang dalam dugaan sensitif).

T: Bisa diberi contoh?.

Mbak Pur: Yah… gimana ya. (sembari menggeser posisi duduk, menempatkan kaki kiri bersilang diatas kaki kanan).

T: Bisa dijelaskan? (saya menatap tajam mata Mbak Pur. Mbak Pur balik menatap. Mata kami beradu. Sebuah tatapan yang bisa membuat lawan bicara bergetar)

Mbak Pur: Begini. Terakhir sudah diupayakan untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Tanpa Ronald tahu. Saya menugaskan beberapa pihak untuk menyelesaikan. Menjelang finalisasi dengan pengacaranya Santi yang namanya Dewa, saya memanggil Ronald. Sebelumnya saya memanggil Juned, Handi dan Herdi serta meminta Arfat untuk menjadi negoisator. Apa yang terjadi, Ronald tidak mengakui perbuatannya. Dia bilang itu bohong, pemerasan, politiklah. Jawaban ini merupakan puncak yang membuat saya patah arang.

T: Bisa begitu..?

Mbak Pur: Ya itulah kenyataan. Pakai sumpah diatas kitab suci. Padahal seluruh data dan fakta pendukung sudah saya dengar dan miliki. (suara Mbak Pur agak meninggi).

T: Seberat itukah masalahnya?

Mbak Pur: Tidak juga. Konsep perdamaian sudah disepakati. Namun Ronald tidak mengaku, ya untuk apa saya menyelesaikan. Kan dia tidak merasa bersalah.

(Mbak Pur meminta izin untuk menuju kamar kecil. Lintasan gerak tubuhnya kembali menghamburkan keharuman Clive Christian’s Imperial Majesty ).

T: Apakah sudah final keputusannya? Sebagai ibu, tentu rasa sayang kepada putera tak luntur?

(Mbak Pur kembali menatap. Terpancar kekesalan diwajahnya) “Mau apalagi. Upaya selama ini sudah cukup.”

T: Sejauhmana antisipasi yang sudah disiapkan terkait dampaknya ke Pabrik Permen?

Mbak Pur: Setelah Handi kalah pada Pilkada 2017, pemenangnya sudah bincang-bincang dengan saya. Ya.. ada titik kesepahaman. Semua masih dalam proses.

T: Kesepahaman seperti apa?

Mbak Pur: Ya, Windi dan suaminya berkomitmen untuk menjaga Pabrik Permen.

T: Bukankah saat ini banyak masalah yang muncul? Windi masih lama dikukuhkan?

Mbak Pur: Handi kan orang kita. Masalah yang muncul kan bisa sementara ditangani Handi. Juned juga membantu dengan jaringan politiknya.

T: Rumit juga ya?

Mbak Pur: Biasa saja. Kita sudah biasa. Tak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Kita lihat saja.

T: Bisa pindah topik?

Mbak Pur: Tentu bisa. Asalkan masih berkisar soal kawasan Pabrik Permen. Jangan menyentuh soal-soal pribadi.

T: Sekarang akan memasuki era pemilihan gubernur. Sejauhmana persiapan yang dilakukan, pasca patah arang dengan Ronald?

Mbak Pur: Jangan memulai dengan yang berat-berat. Itu kan kata banyak orang soal politik. Kacamata saya, itu tetap soal bisnis. (Simak Episode: Ketika Mbak Pur Geli)