GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
18/8/2017 10:33:49
1018

Episode 5: Ketika Mbak Pur Geli

Harianlampung.com - Lembaran 100 dolar menempel begitu lekat dengan kulit dompet. Terlalu lama berada di dalam. Negara yang kerab dijuluki sebagai penganut kapitalisme ini menisbahkan kalimat: In God We Trust disetiap lembar mata uangnya. Kepada tuhan mereka percaya. Sebaliknya, kita yang katanya bukan penganut kapitalis meletakkan kepercayaan kepada uang: In Money We Trust. Seakan semua bisa dibeli dengan uang. Dalam era demokrasi, uang menyasar hingga pertarungan merebut suara rakyat hampir pada setiap Pemilu.

Gothe bilang, uang telah menjadi Dewa Dunia. Karenanya rakyat memerlukan kekebalan. Ya, kekebalan moral, mental dan intektual untuk menangkal intervensi uang. Memang godaan uang mudah sekali membuat seseorang terperosok dalam jurang kenistaan.

T: Bisa dijelaskan maksud anda soal politik yang anda artikan jadi soal bisnis?

Mbak Pur: Politik kan kekuasaan. Setelah berkuasa apa yang dicari? Selain gengsi, kan uang. Tanpa itu bagaimana rumusnya meraih kekuasaan.

T: Itu arti penting bagi anda merebut kekuasaan?

Mbak Pur: Ya tidak sepragmatis itu.

T: Bisa dijelaskan?

Mbak Pur: Disini letak seni berdiplomasi dan bernegoisasi. Selalu ada pasangan, ada yang menyerang ada yang bertahan. Ada yang kita perankan buruk, ada yang baik. Kita sudah banyak pengalaman  dalam Pilkada. Kuncinya tetap partai politik. Soal figur, menyusul. Bisa dikosmetikkan, tergantung berapa banyak dana yang disiapkan.

T: Pada praktik semacam ini, sepanjang pengalaman, berapa banyak yang berhasil?

Mbak Pur: Lebih banyak yang berhasil. Hanya satu yang gagal pada Pilkada lalu.

T: Mengapa bisa gagal?

Mbak Pur: Ada sabotase. Kita dilkhianati. Tapi sudah diantisipasi. Pemenang sudah kita rangkul.

T: Seperti apa merangkulnya?

Mbak Pur: Ya itu tadi, diplomasi dan negoisasi. Mereka berkomitmen, ya kita beri bonus. Semacam ganti rugi, gitu.

T: Bisa diberi tahu, dimana?

Mbak Pur: Khusus yang ini, di sekitar Pabrik Permen kita.

T: Kembali soal pemilihan gubernur. Sejauhmana persiapannya?

Mbak Pur: Setelah Juned jadi Ketua Go-Kart, kita dorong untuk jadi gubernur. Sekarang dalam proses.

T: Apa pentingnya untuk merebut kursi gubernur?

Mbak Pur: Tentu penting. Apalagi ini berada di kawasan strategis. Kita tidak mau kehilangan kekuasaan disana.

T: Apa alasan anda memilih Juned?

Mbak Pur: Dia seperti adik saya. Kita percaya, disamping memiliki kedekatan khusus yang cukup lama.

T: Selain itu?

Mbak Pur: Kita kan tidak mau kehilangan kendali. Sejauh ini Juned bisa dipercaya. Banyak anggaran yang dia pangkas. Terlalu berlebihan. Tapi kita tahu, bisa jadi ini bagian dari taktik dia agar mendapat kepercayaan lebih. Kita tidak gampang terlena dengan sikap-sikap seperti itu.

T: Kedekatan khusus seperti apa?

Mbak Pur: Saya geli menjawab pertanyaan yang ini.(sembari menggeser letak kaki, menyilang kaki kanan diatas kaki kiri, wajahnya sedikit tersipu. Mbak Pur membuang pandangannya mengarah ke jendela, menerawang).

T: Kog geli?

Mbak Pur: Gimana ya.. Terlampau sensitif untuk dijelaskan. Lebih bersifat personal. Ada pertanyaan lain?

T: Baiklah, saya tidak ingin menggali lebih jauh. Seberapa besar persiapan yang sudah dilakukan untuk Juned?

Mbak Pur: Sangat besar. Sekarang masuk tahap sosialisasi ke seluruh wilayah pemilihan. Kita persiapkan dengan serius. Juned merupakan kandidat kita untuk menukar peran Ronald.

T: Soal partai bagaimana?

Mbak Pur: Kita tahu, Go-Kart masih ruwet. Tapi itu bukan masalah. Ada beberapa titik kunci yang Juned pegang. Beberapa masih menggunakan oran Adit. Kita kasih peran mereka. Yang penting mesin Go-Kart jalan dulu.

T: Terus?

Mbak Pur: Sementara dirangkul. Tapi kita tahu kualitas dan karakter mereka. Saat ini mereka masih diperlukan. Setidaknya untuk meredam gejolak yang ada. Saatnya, sesuai dengan kondisi, tentu kita tukar. Lebih besar bahaya dibanding manfaatnya. Mereka sangat jelas bermental khianat. Sementara ini kita manfaatkan saja dulu.

T: Itu soal Go-Kart. Bagaimana dengan koalisi?

Mbak Pur: Beberapa sudah kita rintis. Ada titik terang. Tapi kita tetap mengukur dulu, sejauhmana Juned bisa berlari kencang. Sekarang sudah masuk pada tahapan, mengkombinasikan gerak mesin partai dan mesin hore-hore. Kita lihat nanti perkembangannya.

T: Sudah sejauh itu?

Mbak Pur: Lebih jauh dari itu. Kita juga mengantisipasi dan turut memacu gerakan kandidat lain. Dari sini akan terlihat, siapa sesungguhnya yang riil patut untuk menduduki kursi gubernur. Anda tentu sangat tahu, tidak ada pengusaha yang ingin mencari musuh. Terpenting bagi kita, perlu ada efisiensi dan efektifitas. Kawan perlu banyak, tapi tetap efisien dan efektif.

T: Kalkulasinya tetap pada rangkaian strategi binsis?

Mbak Pur: Sejak awal saya katakan. Ini bukan politik, tapi bisnis. Semua kan hanya kalkulator, wayang, alat saja. Selalu ada hitungan soal untung yang diraih, kita tidak pernah bicara rugi.

T: Anda yang menjadi dalangnya?

Mbak Pur: Ya tidak seperti itulah…(sembari meneguk lemon juice, wajahnya tersenyum dan berona merah. Begitu kontras dengan kulit putihnya).

(lantas saya teringat dengan Prof.Dr.Teuku Jacob, Profesor Emertus Antropologi dari Universitas Gajahmada. Dia pernah menulis dengan tajuk Hegemoni Kaum Parasit.

Bumi kita penuh dengan parasit, sehingga merekalah sebetulnya yang memerintahkan bumi ini. Menurut para ahli, parasit empat kali lebih banyak daripada organisme yang independen.

--- Manusia mempunyai lebih banyak dari itu. Ada hewan yang dihuni beratus jenis Tuma pada kulit dan bulunya. Tambahan lagi, parasit dapat mempunyai parasit pula, dan parasit ini diisap oleh parasit derajat ketiga ---

Bermacam-macam cara parasit merugikan induk semangnya. Ia dapat mengisap darah, mencuri zat gizi, mengebiri, mengganggu otak, melemahkan kekebalan badan –- Tapi parasit tidak merampas dan membunuh, karena akan kehilangan sumber hidupnya.

--- Hewan-hewan yang erat tali kekerabatanya dapat ketamuan parasit yang sama.Lives that live on and in man dapat bersemayam dan mencari makan pula pada kera. Species dan individu yang akrab bahkan mempunyai kutu yang sama, sehingga disebut sekutu.

Parasit kerap memakai taktik gerilya Mao Zedong: Kalau diserang bersembunyi; kalau musuh mundur, kejar; dan kalau musuh lemah, hantam. – Dalam peradaban manusia banyak pula kita temui parasit.).