GAGASAN
Hikmahanto Juwana (POLINDONETWORK/dok)
12/6/2015 11:31:55
1310

Waspadai Penyelundupan Hukum Terkait Izin Usaha Freeport

Harianlampung.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) disarankan agar berhati-hati dan cermat terkait dengan berubahnya status PT Freeport Indonesia (Freeport) dari Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Jangan sampai perubahan ini menjadi akal-akalan dan jalan bagi Freeport untuk mendapatkan perpanjangan kontrak lebih awal dari seharusnya.

Saran itu disampaikan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana kepada pers, Kamis (11/06). "Meski disampaikan keunggulan dari perubahan status KK ke IUPK namun Presiden harus mewaspadai hal ini.”

Hikmahanto mempertanyakan, apakah perubahan status ini merupakan penyelundupan hukum yang dilakukan oleh Freeport agar memperoleh perpanjangan lebih awal. Sebab kontrak Freeport sebetulnya akan berakhir pada 2021, dan sesuai ketentuan yang ada, kontrak baru dapat diperpanjang 2 tahun sebelum berakhir.

“Padahal 2 tahun sebelum berakhirnya KK berarti saat Presiden Jokowi akan mengakhiri masa jabatannya. Dalam situasi seperti itu Presiden tidak layak mengambil keputusan yang strategis,” ujar Hikmahanto.

Hikmahanto menjelaskan, bila dilakukan perubahan status maka IUPK berdasarkan Pasal 83 huruf (g) akan memberi Freeport operasional 20 tahun lagi. Artinya Freeport dapat beroperasi di Indonesia hingga 2035 bila dihitung sejak tahun 2015. Lebih lama 14 tahun dari jatuh tempo KK di tahun 2021.

Alasan kedua, perubahan status ke IUPK juga akan memberi hak kepada Freeport untuk dapat memperpanjang 2 kali untuk jangka waktu masing-masing 10 tahun. Dia menuturkan, bila hak ini dijalankan, maka Freeport akan bisa beroperasi di Indonesia hingga 2055.

“Bila benar perhitungan tersebut maka ini menjadi hal kedua yang harus diperhatikan oleh Presiden,” ujarnya.

Hikmahanto menambahkan, alasan ketiga, bila dugaan penyelundupan hukum benar terjadi, maka paska-pemerintahan Jokowi berakhir, aparat penegak hukum bukan tidak mungkin akan melakukan penyelidikan dan penyidikan terkait perubahan status KK.

“Mereka yang diperiksa mulai dari birokrat terendah yang mengusulkan hingga sampai ke Menteri, bahkan Presiden. Ini yang membuat para pejabat tidak dapat tenang diakhir masa jabatannya,” ujar dia.

Menurut Hikmahanto, penyelundupan hukum oleh aparat penegak hukum akan dicurigai adanya perilaku koruptif meski dari pengambil kebijakan tidak memiliki niat jahat untuk memperkaya diri sendiri. Kendati begitu, dia juga mengatakan, proses perubahan status KK ke IUPK besar kemungkinan tidak bermasalah bila tidak ada penyelundupan hukum dan dilakukan secara transparan. “Bahkan Presiden mendapat persetujuan dari DPR.”

Sebelumnya, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Dadan Kusdiana dan Presiden Direktur Freepot Maroef Syamsuddin menyampaikan kesepakatan yang dicapai oleh pemerintah dan Freeport untuk mengubah status KK menjadi IUPK.  

Disampaikan bahwa perubahan status dalam tahap penyelesaian. Bila telah mendapat persetujuan dari Menteri ESDM, maka akan dilaporkan ke Presiden Jokowi.
(pin/eh)