HUKUM
dr. Purnama, dr Mas Dwi Cahyo dan dr Dedi Jarius (doni/harlam)
16/12/2014 08:15:32
7369

Tersangka Korupsi Alkes Dinyatakan Sakit

Harianlampung.com - Tiga saksi alhi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Tanjungkarang dalam sidang lanjutan kasus korupsi pengadaan alat kesehatan di lingkup Dinas Kesehatan Kota Badarlampung yang merugikan negara Rp1.2 miliar, Senin (15/12), menyatakan kondisi kesehatan terdakwa Ridwan Winata semakin memburuk.

Ketiga saksi ahli itu, dr. Purnama, dr Mas Dwi Cahyo dan dr Dedi Jarius. Ketig dokter ini melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap  terdakwa Ridwan Winata. Dalam persidangan ketiga dokter tersebut mengatakan, terakhir melakukan pengecekan terhadap kondisi Ridwan, kesehatannya semakin lemah, untuk bicara saja yang bersangkutan susah. 

"Untuk saat ini kondisi yang bersangkutan semakin lemah," tutur ketiga ahli dihadapan majelis hakim yang dipimpin Poltak Sitorus . 

Ketiganya menjelaskan, pernah diminta oleh pihak Kejaksaan untuk melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa Ridwan Winata di rumah sakit Medistra Jakarta. Pemeriksaan Akhir pada 11 Desember 2014 .

Dalam keterangannya, dr. Mas Dwi Cahyo (Dr urologi RSAM) membenarkan Ridwan pernah menjadi pasien di RSUAM dan pernah melakukan operasi tumor ginjal kanan dan paru-paru kiri pada Februari 2009 lalu. "Pasien lalu dirujuk ke Jakarta,  karena RSUAM  tidak mampu menanganiny," katanya.

Ia menjelaskan, pada operasi tersebut ginjal kanan sudah diangkat. Sedangkan ginjal kiri bengkak dan sudah dipasang selang sejak dua bulan terakhir dengan harapan ginjal kiri agar membaik, "Ini ginjalnya satupun tidak normal," ungkapnya .

Sementara itu, dr Dedi Jarius (spesialis Paru-paru RSAM) mengatakan, paru-paru Ridwan sudah dipasang selang,  karena paru-paru sebelah kiri sudah tidak berfungsi 100 persen, "Tapi paru kanan masih normal," kata dia. 

Ia menambahkan, penyakit  kanker  yang diderita Ridwan sudah masuk stadium 4. Pada Januari 2014 berdasarkan hasil pemeriksaannya dan permintaan jaksa, Ridwan dirujuk ke Jakarta. "Kondisi sekarang parah, karena tergantung dengan oksigen. Berbeda dengan sewaktu masih dirawat di Lampung, yang bersangkutan masih kelihatan segar," bebernya .

Dedy mengatakan, rujukan ke Jakarta ini atas izin dari ketiga dokter dan disetujui oleh Direktur RSAM, bukan semata-mata karena permintaan Ridwan.

Pegawai Kesehatan Kanwil Kemenkumham, dr Purnama yang pernah diminta memeriksa Ridwan dan ikut ke Jakarta menjelaskan, kondisi terdakwa lemah dan susah untuk dibawa ke Lampung guna menjalani persidangan. "Pasien didiagnosis sejak tahun 2009. Kami tidak bisa memperkirakan batas waktu kesembuhannya," katanya.

Purnama menambahkan, jika dipaksakan sebenarnya Ridwan bisa dibawa ke Lampung. Namun ia tidak menganjurkan, karena kondisi  kesehatan Ridwan terus menurun. "Kalau melihat riwayat penyakitnya, ada kemungkinan pasien ini ada kemungkinan untuk menjalani kegiatan sehari-hari tapi bukan berarti sembuh total," terangnya.

Diketahui, terdakwa Ridwan Winata yang merupakan (Dirktur PT Magnum Global Mandiri) pihak rekanan dalam proyek pengadaan (alkes) Kota Bandarlampung tahun 2012 senilai Rp9,9 miliar. Bersama dengan dr Wirman (Mantan Kadis Kesehatan Kota Bandarlampung) didakwa melakukan tindak pidana korupsi yang mengakibatkan kerugian negara kurang lebih sebesar Rp1,2 miliar. Terdakwa dr. Wirman sudah divonis dengan pidana penjara selam satu tahun.
(doni/mnz/mf)