HUKUM
Oegroseno (harlam/dok)
24/1/2015 07:30:24
1726

Mantan Wakapolri: Penangkapan Bambang Janggal

Harianlampung.com - Mantan Wakapolri Komjen (Purn) Oegroseno mengatakan, ada kejanggalan dalam penangkapan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto oleh Bareskrim Polri. Ogroseno menilai, Kabareskrim Irjen Budi Waseso telah bertindak lancang dan tidak menghormati Plt Kapolri Badrodin Haiti sebagai pimpinannya.

Demikian disampaikan Oegroseno kepada pers di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (23/01). Tindakan lancang itu terlihat dari pernyataan Wakapolri Badrodin Haiti yang  tidak mengetahui adanya penangkapan Bambang Widjojanto oleh petugas Bareskrim Polri, Jumat (23/01) pagi.

Oegroseno mengatakan, tindakan Bareskrim itu melangkahi wewenang Wakapolri yang juga menjabat sebagai Plt dari Kapolri. "Dianggap kecil aja, “ngapain lu ngatur gw?” Kalau Wakapolri kayak saya, saya tempeleng," ujar dia.

Oegroseno menyoroti soal laporan terkait Bambang yang pernah dicabut, lantas dimasukkan kembali ke Bareskrim pada 15 Januari 2015. "Makanya sekarang kalau dicabut dan dilaporkan kembali, itu akrobat. Harusnya kan dikumpulkan dulu fakta-fakta di lapangan. Polisi itu tugasnya membuat terang suatu perkara, bukan mengumpulkan barang bukti. Kalau mengumpulkan barang bukti itu namanya pemulung barang bukti. Nggak boleh!" ujar Oegroseno.

Kejanggalan lainnya, ujar dia,  tahapan sebelum tersangka dicokok haruslah diawali dengan pemanggilan saksi-saksi. Baru setelah itu ada pemanggilan tersangka. Bila tersangka adalah pejabat negara, seperti Bambang, maka seharusnya penangkapan dibicarakan dulu sampai tingkat Kapolri. Ternyata Wakapolri yang saat ini menjadi Plt Kapolri tidak mengetahui penangkapan itu.

Oegroseno juga mengkritik cara penangkapan Bambang, dimana ia ditangkap dan diborgol di depan anaknya. "Masa tidak ada cara-cara penangkapan yang beretika? Cara penangkapan sudah tidak sah, apalagi ada anak kecil. Ini pelanggaran berat. Anak kecil melihat bapaknya seperti itu, bisa benci ke polisi," kata Oegroseno

Oegroseno menyatakan, tindakan Budi Waseso yang memimpin Bareskrim, telah membuat institusi Polri menjadi tercemar. "Ini demi nyawa organisasi Polri. Yang seperti ini harus dibersihkan. Indonesia ini ada bencana alam, kecelakaan pesawat, banjir, yang paling parah sudah saya prediksi, bencana Hukum," terangnya.

Oergoseno mengatakan ia sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi, ketika Kabareskrim Suhardi Alius diganti mendadak dengan Budi Wasoso pada saat yang hampir bersamaan dengan diberhentikannya Jenderal Sutarman sebagai Kapolri.

Oegroseno berharap Wakapolri saat ini membentuk tim kembali untuk mencari sosok yang pantas memimpin tubuh Polri. Nama-nama itu kemudian diusulkan kembali kepada Presiden Jokowi dan mendapatkan masukan dari Kompolnas, KPK, dan PPATK.

"Check siapa yang bagus, jangan yang ada kepentingan. Kapolri itu bukan sama kayak Jaksa Agung. Kapolri itu sulit. Menkopolhukam itu angkatan laut masa tahu organisasi Polri?‎" ujarnya.
(pin/eh)