HUKUM
Pagar sekitar Stasiun Kereta Api Kotabumi dirubuhkan.
17/11/2014 13:45:17
6041

Warga Resah, Khawatir Rumahnya Digusur PT KAI

Harianlampung.com - Sejumlah warga Kelurahan Cempedak, Kotabumi, Lampung Utara, resah dengan tidakan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang merubuhkan pagar di sekitar stasiun Kotabumi. Warga khawatir, tindakan itu berlanjut pada penggusuran rumah mereka.

Sejumlah warga di Lingkungan IV, Kelurahan Cempedak, sekitar Stasiun Kereta Api Kotabumi, resah resah karena perubuhan pagar itu mendadak tanpa ada sosialisasi atau pemberitahuan sebelumnya. 

Yang membuat warga semakin resah, menurut Cipto (54), warga memperoleh kabar bahwa belasan rumah warga di sekitar stasiun akan digusur oleh PT KAI. 

"Kami tidak terima jika rumah kami mau digusur," kata dia sembari menunjuk ke arah puluhan petugas stasiun berikut beberapa anggota TNI yang melakukan perubuhan pagar bangunan.

Menurut dia, ada sekitar 14 rumah warga yang kabarnya akan digusur oleh PT KAI. Karena itu, dia mengharapkan ada kebijakan dari pihak stasiun agar dapat mempertimbangkan masalah tersebut. 

"Anehnya pengusuran rumah  ini tanpa adanya pemberiahuan dulu terhadap kami," jelasnya tentang kabar yang kencang beredar di masyarakat.

Warga protes karena mereka yang bermukim di seputaran lahan milik PJKA tersebut, bukan penumpang gratis. Tetapi, warga telah melakukan pembayaran sewa terhadap pihak stasiun. 

"Kami menyewa tempat ini, bukan hanya menumpang saja, jelas jika digusur kami tidak bisa terima," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Kotabumi, Lampung Utara, Catur mengaku, PT KAI hanya merubuhkan pagar dan tidak bermaksud melakukan pengusuran rumah warga. "Kita tidak mengusur rumah warga," ujarnya sembari tersenyum.

Dijelaskannya, perubuhan pagar dilakukan di Balai Pengobatan stasiun, karena gedung tersebut akan dialih-fungsikan menjadi Balai Wisma Bumi. "Ini hanya penataan aset PT KAI saja," jelasnya.

Tentang pihak stasiun melakukan penarikan biaya sewa tempat tinggal bagi warga yang bermukim distasiun, Catur mengaku tidak tahu. Sebab ada bagian tersendiri yang mengurusi bidang itu. "Saya tidak memahami penyewaan itu, ada bidangnya masing-masing," tutupnya. 

Sebelumnya, PT. KAI Sub Divre III.2 Tanjungkarang, melakukan pemetaan (mapping) aset se-Lampung mulai November ini. Pengukuran aset milik perusahaan persero perkeretaapian ini, untuk menyelamatkan aset yang selama ini terbilang tidak terurus.

"Tujuan mapping ini untuk menyelamatkan aset PT KAI khususnya di Subdivre III.2 yang selama ini belum terurus," kata Muhaimin, Kepala Bagian Humas PT KAI Sub Divre III.2 Tanjungkarang.

Ia mengatakan, mapping diperkirakan akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, karena saat ini masih tahap pengukuran lahan yang tersebar di kota Bandarlampung. 

Menurut dia, tahap mapping ini berlangsung lama karena tersebarnya aset milik PT KAI di seluruh Lampung. Belum lagi bangunan warga yang permanen, hingga menyulitkan petugas melakukan pemetaan. 

"Baru berapa persen saja yang terukur, sedikit sekali. Ini berlangsung lama," kata Muhaimin. 

Ia menegaskan mapping aset ini belum masuk tahap penertiban terhadap warga yang menempati lahan milik PT KAI tersebut. Lahan milik PT KAI Sub Divre III.2 Tanjungkarang, saat ini sebagian sudah banyak ditempati warga bertahun-tahun. Sebagian warga dipungut uang, dan sebagian lagi tidak jelas statusnya.
(def/mf/bln)