HUKUM
Ilustrasi
27/11/2014 16:26:55
3891

10 Anggota Polres Lamtim Diadukan ke Propam

Harianlampung.com - Sekitar sepuluh anggota Polres Lampung Timur diadukan ke Propam Bandarlampung.  Para petugas itu diduga melakukan perbuatan tidak manusiawi terhadap Sindu Manata, warga Hargomulyo, Kecamatan Sekampung.

Herry Rio Saputra, dari Konsultan Hukum Mawardi & Partner, menjelaskan, peritiwa bermula pada Rabu sore, 5 Nopember 2014, di sebuah bengkel di Hargomulyo, Sindu Manata ditangkap oleh penyidik Polres Lampung Timur.

Membawa dua buah mobil, polisi yang berjumlah sekitar 10 orang itu menangkap Sindu tanpa alasan jelas karena polisi tidak menunjukkan Surat Perintah Penangkapan dan menjelaskan mengapa dia ditangkap.

Setelah ditangkap, anggota Polres Lampung Timur terbagi dalam dua tim. Satu tim melakukan penggeledahan di rumah Sindu, dan tim lain pergi membawa Sindu. Penggeledahan juga dilakukan tanpa menunjukkan Surat Perintah Penggeledahan kepada keluarga, ujarnya, Kamis (27/11).

Pasca penangkapan, Sindu tidak langsung dibawa ke Polres Lampung Timur melainkan dibawa ke suatu tempat yang sangat sepi dalam keadaan terborgol dan mata tertutup.

Di tempat tersebut, Sindu dipaksa mengaku telah melakukan pencurian mesin ATM di sebuah bank yang berlokasi di Lampung Timur. Sindu yang tidak mengakui perbuatan tersebut dipukul, ditendang dan atau disiksa oleh anggota polisi yang membawanya dalam keadaan tangan masih terborgol dan mata masih tertutup.

Tidak hanya itu. Menurut dia, anggota polisi yang membawanya juga melepaskan dua tembakan kepada Sindu. Satu pada paha kanan dan satunya pada pergelangan kaki kiri.

Karena Sindu tidak mengakui perbuatan yang dituduhkan anggota polisi yang membawanya, anggota polisi tersebut memaksa Sindu mengaku telah melakukan perampokan 3 kg emas di tengah jalan di Merandung, Lampung Timur sekitar dua tahun silam atau sekitar tahun 2012.

"Apa yang dilakukan oknum penyidik/anggota Polres Lampung Timur itu merupakan tindakan yang tidak profesional dan proses penyidikannya, tidak menjunjung tinggi penghormatan terhadap HAM sehingga berpotensi mengkriminalisasi masyarakat dan mengaburkan fakta-fakta yang sesungguhnya terjadi" ujarnya.

Karena itu, Ria menegaskan, patut diduga bahwa oknum penyidik/anggota Polres Lampung Timur tidak mempunyai dua alat bukti yang cukup untuk menetapkan Sindu sebagai tersangka.

"Karena itu oknum penyidik/anggota Polres Lampung Timur melakukan upaya paksa yang tidak dibenarkan berupa kekerasan untuk mememperoleh pengakuan," ujarnya.

Herry Rio Saputra menilai, kekerasan yang dilakukan oknum penyidik itu memenuhi unsur penyiksaan seperti yang didefinisikan dalam Pasal 1 Konvensi tentang Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia.

"Ketentuan itu sudah diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 serta bertentangan dengan Perkap Polri Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi HAM oleh Polri," tegas Rio.

Apalagi kekerasan tersebut dilakukan ketika kondisi kesehatan Sindu yang sedang terganggu karena belum lama ini melakukan operasi pengangkatan tumor usus besar dan masih harus melakukan kemotherapi untuk memulihkan kesehatannya. Sehingga kekerasan tersebut menimbulkan rasa sakit yang sangat hebat terhadap dirinya.

Karena itu, Rio mendesak Komplnas, Komnas HAM, Kapolri, Kapolda, Irwasda Polda Lampung, dan Kabid Propam Bandarlampung melakukan investigasi atau memeriksa proses penyidikan yang dilakukan oleh Polres Lampung Timur terhadap Sindu Manata.

Selain itu, ia juga meminta pihak berwenang memeriksa oknum penyidik yang terlibat; menghukum anggota polisi yang terbukti melakukan penyiksaan, ancaman kekerasan, dan perekayasaan proses hukum yang sedang berjalan.
(bln/mf/hl)