INVESTASI
Bank Indonesia (polindonetwork/dok)
04/8/2015 17:38:40
937

BI: Makro Ekonomi Indonesia Aman

Harianlampung.com - Meski kondisi ekonomi Indonesia tengah lesu, namun Bank Indonesia (BI) memastikan stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan Tanah Air tetap terjaga. Hal ini karena inflasi diperkirakan semakin terkendali dan berada dalam kisaran sasarannya, sebesar seperempat persen pada 2015.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, hal ini disepakati setelah BI melakukan rapat kordinasi dengan beberapa kementerian ekonomi, seperti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Di tengah berbagai tantangan dinami eksternal dan internal tersebut, defisit transaksi berjalan diperkirakan akan menurun dan berada pada tingkat yang lebih sehat," kata Agus di kantor BI, Jakarta, Selasa (04/08).

Agus mengatakan, meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini mengalami tekanan sejalan dengan mata uang dunia lainnya, namun dengan fluktuasi yang tetap terkendali.

“Stabilitas sistem keuangan akan tetap solid, ditopang oleh kuatnya ketahanan sistem perbankan dan terjaganya kinerja pasar keuangan,” kata Agus.

Menurut Agus, terjaganya kestabilan makroekonomi dan sistem keuangan tidak terlepas dari pengelolaan kebijakan makroekonomi yang ditempuh secara hati-hati dan konsisten, antara pemerintah dan BI.

Meski begitu, BI dan pemerintah tetap mewaspadai risiko berlanjutnya perlambatan ekonomi domestik. Sebab yang perlu direspons secara tepat dan terukur, di tengah masih lambatnya dan belum berimbangnya pemulihan ekonomi global.

Agus mengatakan, BI telah menempuh berbagai langkah kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan tetap konsisten mengupayakan terjaganya stabilitas perekonomian.

“Pertama, menempuh kebijakan moneter yang tetap prudent dan konsisten, di tengah tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global," kata Agus.

Kedua, dalam menghadapi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, BI juga menerapkan kebijakan makro prudensial yang akomodatif guna memberikan stimulus kredit dan menjaga momentum pertumbuhan.

"Lalu yang ketiga, yaitu mendorong percepatan reformasi struktural, termasuk upaya melanjutkan pendalaman pasar keuangan dan meningkatkan efisensi sistem pembayaran," kata Agus.

Agus berharap, koordinasi kebijakan BI dan pemerintah akan terus diperkuat guna meningkatkan kembali keyakinan terhadap prospek ekonomi Indonesia.

"BI dan Pemerintah berkomitmen untuk menempuh bauran kebijakan makroekonomi nasional, sesuai dengan kewenangannya masing-masing. Implementasi bauran kebijakan tersebut akan dilakukan secara konsisten, sinergis, dan tepat waktu," kata Agus.
(pin)