INVESTASI
Agoes Riyanto, Direktur Keuangan PTPN VII
10/11/2014 15:02:01
3373

PTPN VII akan Lepas Saham 30 Persen

Harianlampung.com - PT Perkebunan Nusantara VII kembali melakukan persiapan untuk melaksanakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO), setelah holding BUMN perkebunan resmi di-launching pada 2 Okotober 2014 lalu.

Direktur Keuangan PTPN VII Agoes Riyanto menjelaskan Kementerian BUMN dan induk holding memberikan prioritas kepada PTPN VII untuk melaksanakan IPO pada tahun 2015. “Kami sudah sangat siap, karena sebenarnya persiapannya sudah kami lakukan sejak beberapa tahun lalu,” kata Agoes Riyanto.

Setelah holding terbentuk status PTPN VII menjadi anak perusahaan. Jadi, persetujuan untuk IPO cukup izin dari induk holding dalam hal ini PTPN III. Penawaran saham perdana direncanakan dilaksanakan pada triwulan II tahun 2015.

“Kami juga tetap memperhatikan kondisi dan situasi pasar. Yang jelas, saat ini kondisi pasar komoditas, terutama dari sisi harga jual, belum menggembirakan, sehingga kami perlu mencari timing yang tepat untuk pelaksanaan IPO,” ujarnya.

Dalam menghadapi IPO, sejumlah persiapan telah dilakukan. Rencananya, PTPN VII akan melepas 30 persen saham ke publik dengan proceed yang diharapkan sebesar Rp2,5 triliun. Dana tersebut akan digunakan perusahaan untuk melanjutkan pendanaan investasi dan memperbaiki struktur permodalan (capital structure).

“Terutama dalam pengembangan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), pengembangan karet, gula, dan teh,” katanya. Proses IPO selanjutnya adalah penunjukan penjamin emisi serta lembaga profesi penunjang pasar lainnya.

Ia berharap tahun 2015 nanti setelah tercatat sebagai emiten bursa, kinerja PTPN VII akan melejit. “Kami optimistis berhasil,” ujarnya dan menegaskan bahwa untuk meningkatkan kepercayaan pasar, perseroan juga telah menetapkan sejumlah kebijakan strategis, yaitu optimalisasi sumber daya modal, sumber daya keuangan, sumber daya manusia, sistem serta optimalisasi kemitraan dan lingkungan.

Menurutnya, salah satu langkah penting yang dilakukan perseroan adalah penerapan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG), antara lain meningkatkan mutu dalam penerapan prinsip keterbukaan informasi publik.

Hal itu ditandai dengan terpilihnya PTPN VII sebagai juara pertama pada Annual Report Award (ARA) 2013 untuk kategori BUMN non-keuangan non-listed. Penghargaan yang dihelat atas kerja sama tujuh instansi penyelenggara tersebut diterima langsung oleh Direktur Utama PTPN VII Kusumandaru N.S. dalam Malam Anugerah ARA 2013, di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (16/10/2014).

Diperolehnya penghargaan tersebut menjadi modal kesiapan perseroan melangkah ke lantai bursa. “Penghargaan ARA 2013 ini merupakan wujud komitmen PTPN VII atas penerapan prinsip-prinsip GCG, terutama dalam hal kualitas keterbukaan informasi publik,” ujarnya. Penerapan GCG semakin penting dalam upaya meningkatkan kepercayaan publik.

 Selain itu, dalam bidang pengelolaan lingkungan, 9 unit usaha di lingkungan PTPN VII juga menerima penghargaan Industri Hijau (Green Industry Award) Tahun 2014 dari Kementrian Perindustrian. Penghargaan diserahkan oleh Menteri Perindustrian di Gedung Kementerian Perindustrian, Rabu (15/10/2014).

Kesembilan unit yang menerima penghargaan tersebut adalah Pabrik Gula Bungamayang, Unit Kebun & Parik Karet Kedaton, Tulungbuyut, Wayberulu (Lampung), dan Padangpelawi (Bengkulu) serta Unit Kebun dan Pabrik Sawit Bekri (Lampung). Keenam unit ini menerima penghargaan Industri Hijau Level 5.

Sedangkan tiga unit usaha lainnya menerima penghargaan Industri Hijau level 4, yaitu Unit Kebun dan Pabrik Sawit Betung, PG Cintamanis (Sumatera Selatan) dan Unit Pabrik Karet Pematangkiwah (Lampung).

Penghargaan tersebut menunjukkan komitmen PTPN VII terhadap pengelolaan lingkungan dilaksanakan dan berjalan dengan baik. Terutama dalam pengolahan limbah, pengelolaan lingkungan hidup, dan proses produksi yang ramah lingkungan.

 Agoes Riyanto menjelaskan IPO dilakukan tidak semata-mata untuk mencari modal atau dana segar saja, akan tetapi dengan IPO pengelolaan perusahaan akan lebih transparan serta menerapkan prinsip-prinsip GCG. Karena perusahaan yang sudah IPO itu menggunakan UU Pasar Modal dan lebih mengedepankan keterbukaan informasi kepada publik dan pemegang saham.

 Agoes juga menjelaskan aset PTPN VII dalam tiga tahun terakhir terus meningkat dan pada tahun 2015 mencapai Rp9 trilun. PTPN VII bergerak dalam bisnis empat komoditas utama, yaitu karet dengan luas kebun 35 ribu hektar, sawit dengan lus kebun sekitar 60 ribu hektar, tebu dengan luas kebun sekitar 25 ribu hektar, dan teh dengan luas kebun sekitar 1.500 hektar.

 Selain itu juga memiliki Pabrik Pengolahan Karet sebanyak 10 unit, Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit sebanyak  7 unit, pabrik gula 2 unit, dan 1 unit pabrik teh. Lokasi kebun dan pabrik tersebar di tiga provinsi, yaitu Lampung, Sumatera Selatan, dan Bengkulu.
(san/mf/nad)