INVESTASI
Gula rafinasi impor. (Ilustrasi)
19/11/2014 09:41:14
7895

Lampung Larang Gula Impor Masuk Tanpa Izin

Harianlampung.com - Pemerintah Provinsi Lampung melarang gula impor masuk ke wilayahnya tanpa izin. Kebijakan ini untuk melindungi industri gula dan petani tebu lokal.

Larangan itu termuat dalam Peraturan Gubernur (Pergub) No. 59 Tahun 2014 tentang Larangan Impor Masuk dengan Bebas ke Lampung. Peraturan ini membatasi peredaran komoditas impor beras, gula, kopi, daging sapi, dan jagung.

"Saya sudah bosan dengan impor. Lampung ini kaya tapi masih impor. Nah, dengan pergub ini kita kontrol betul komoditi impor yang akan masuk ke Lampung," kata Sekda Provinsi Lampung Arinal Djunaidi di aula Kominfo, Selasa (18/11)

Peraturan itu muncul menyusul keluhan pengusaha gula yang menderita kerugian akibat rendahnya harga gula di pasaran yang tertekan karena membanjirnya gula impor. Pergub diharapkan bisa kembali mendongkrak harga gula dan membatasi produk impor.

Arinal menjelaskan, dengan Pergub itu semua barang impor yang akan masuk ke Lampung harus mendapatkan surat izin bongkar di pelabuhan dengan gubernur. Untuk itu, pihkanya pun segera mensosialisasikan pergub kepada forkopinda, pelabuhan, pelinddo dan importir.

"Kepada pengusaha pelaku impor harus menerapkan aturan ini, baik dari Lampung maupun luar Lampung yang akan masuk ke Lampung. Saya minta dinas terkait segera mengirim surat semua yang terkait termasuk kepada Kementerian Perdagangan, buatkan tanda terima surat masuk dan keluarnya. Karena penerapan pergub ini dimulai awal 2015," tegasnya

Arinal meminta agar pemerintah pusat tegas terhadap pemberlakuan impor gula, termasuk komoditi lainya. Impor gula rafinasi kebutuhan naisonal 3,2 juta ton namun yang beredar di lapangan mencapai 5,5 juta ton. Perusahaan importir gula yang mendapat izin hanya enam, dalam perjalannnya menjadi 11 perusahaan.

"Iya, petani tebu maupaun pengusaha tebu di Indonesia dan lampung jadi susah karena banyak gula impor masuk. Ini harus ditertibkan, izin impor itu sudah jelas peruntukanya diberikan kepada pengusahaan yang punya kebun dan pabrik," bebernya

Arinal menegaskan, jika peraturan tersebut tidak ditaati maka pemprov akan mengambil langkah tegas dengan memberikan sanksi. "Pergub itu harus jalan, kalau tidak barang impor itu tidak boleh dibongkar dan perusahan importirnya kita rekomendasikan untuk dicabut izinya," tegasnya

Direktur Keuangan PTPN 7, Agoes Riyanto, mengatakan PTPN 7 Bunga Mayang merugi akibat harga gula di pasaran rendah. Biaya oprasional yang harus dikeluarkan untuk menutup harga jual.

"Kami sudah coba bertahan hampir enam bulan untuk menahan gula tidak dijual karena harganya rendah, tapi tidak kuat. Sebab biaya produksi tetap harus dibayar dan gudang pun tidak cukup menampung hasil produksi tiap hari. Kami jual kisaran Rp7.900--Rp8.100 di bawah ketentukan Rp8.500 per kg," katanya

Kebutuhan  gula rumah tangga nasional mencapai 5,10 juta ton dari total 7 juta ton dengan produksi BUMN dan pengusaha 2,6 juta ton. Sementara produksi gula Lampung mencapai  750 ribu ton atau 40 persen dari kebutuhan gula nasional 3,2 juta ton dan suprlus 450 juta ton jika untuk kebutuhan Lampung saja.

"Ya, kalau PTPN 7 menghasilkan produksi gula tahun 2014 hanya 21 ribu ton, kalau dijual Rp8.100 per kg, tidak ada yang mau beli, makanya merugi," katanya

Untuk menutup kekuranagan gula tersebut, pemerintah memasukkan gula rafinasi impor melalui Roysugart 3,7 juta ton. Gula rafinasi ini adalah jenis gula yang harganya murah dengan kualitas manis yang rendah karena bahan dasarnya bukan dari tebu dan berbeda dengan gula pabrikan.

"Ciri-ciri fisiknya sangat sulit dibedakan antara gula rafinasi dan gula dari tebu. Tapi yang jelas rasanya lebih manis gula dari tebu, kalau gula rafinasi satu sendok itu tidak manis," tandasnya.
(r6/mf/bln)