KAWASAN
Perahu nelayan di Pesisir Barat (sam/harlam)
16/12/2014 17:24:20
4281

Bantuan Nelayan di Pesisir Barat Dipotong 16 Persen

Harianlampung.com - Dugaan pungli proyek Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan bidang Perikanan Tangkap (PUMP-PT) Tahun 2014 di Pesisir Barar, Provinsi Lampung, semakin terbuka. Dana bantuan yang diberikan kepada kelompok nelayan tidak utuh lagi, tetapi dipotong 16 persen.

Ketua Kelompok Nelayan  (Pokyan) Lanting Pekhing,  Nusirwan terang-terangan mengakui dana yang diterima kelompoknya dipotong sebesar 16 persen oleh oknum Unit Pengembangan Perikanan (UPT) Tangkap Dinas Peternakan Kelautan dan  Perikanan  (DPKP) Pesisir Barat.

Menurut dia, pemotongan dilakukan saat pencairan dana pada November 2014. Bantuan sebesar Rp100 juta yang seharusnya diterima Pokyan Lanting Pekhing,  dipotong 16 persen atau sebanyak Rp16 juta yang diserahkan kepada Rusmansyah selaku Kepala UPP Tangkap di Kuala, Kecamatan Pesisir Tengah.

Masih menurut Nusirwan, potongan itu merupakan kesepakatan awal antara kelompok nelayan, pihak UPP dan Dinas PKP setempat, saat sosialisasi. “Waktu itu kami diberi tahu bahwa bantuan ini ada potongan resmi dari pusat sebesar enam belas persen. Karena itu kami ikut saja soalnya disebut resmi,” terang Nusirwan polos.

Selain potongan 16 persen, kelompok ini juga menyerahkan dana sebesar Rp79 juta, lagi-lagi kepada Rusmansyah  untuk dibelanjakan barang-barang sesuai permintaan kelompok. “Jadi sisa dana di kelompok kami hanya Rp5  juta. Itulah yang kami gunakan untuk operasional seperti,  membeli bahan bakar minyak, pelumas dan lain-lain keperluan kelompok,” jelasnya.

Sedangkan hasil belanja yang dilakukan UPP Tangkap, kelompok yang beranggotakan sepuluh orang nelayan ini menerima barang-barang berupa,  5 unit perahu ukuran 6 meter yang dihargai Rp7, 750 juta per unit.

Kemudian, 5 unit mesin motor  ketinting merek Yamaha MZ 2000 6,5 PK (dibandrol Rp4 juta per unit), serta 30 buah jaring (seharga Rp400 ribu per unit). Sehingga, jika mengikuti harga yang ditetapkan UPP, barang-barang yang diterima kelompok ini berjumlah total Rp70.750.000. Namun Nusirwan tak bisa menjelaskan, ke mana sisa dana yang diserahkan pada  pihak UPP.

Anehnya, barang-barang yang diterima kelompok ini tidak sesuai permintaan awal mereka. “Semula kami minta mesin tempel lima belas PK biar cocok dengan perahunya. Tapi menurut Pak Rusmansyah dananya tidak cukup. Terpaksa kami pakai mesin ketinting saja,” akunya.

Mengacu Surat Keputusan Dirjen Perikanan Tangkap KKP Nomor 32/KEP-DJPT/2014 tertanggal 20 Maret 2014 tentang pedoman teknis pelaksanaan PUMP-PT, maka pengadaan yang dikerjakan Pokyan Lenting Pekhing jelas-jelas menyalahi aturan. Dalam juknis dijelaskan mesin motor ketinting hanya cocok digunakan pada perairan rawa, sungai dan danau, bukan untuk di perairan laut.

Selain itu, sama dengan kelompok lainnya yang juga diwawancarai harianlampung.com, Pokyan Lanting Pheking juga tidak pernah membuat Rencana Usulan Bersama (RUB) serta laporan pertanggung jawaban penggunaan dana. Seluruh tahapan tersebut  dikerjakan pihak  UPP Tangkap DPKP Pesisir Barat.

Fakta ini menabrak aturan teknis kegiatan PUMP-PT hingga berdampak  tidak transparannya  pelaksanaan program ini. Bahkan terjadi pungli (pungutan liar) pada Pokyan penerima bantuan.   

Saat hendak dikonfirmasi,  Kepala  UPP Tangkap DPKP Pesisir Barat tidak berhasil ditemui. Padahal sepekan sebelumnya, kepada harianlampung.com Kepala UPP Tangkap Rusmansyah  dengan tegas menyatakan, tahun 2014  tidak ada program bantuan apa pun untuk Pokyan  di kabupaten setempat. Namun,  saat ditunjukan data 29 Pokyan di Pesisir Barat menerima bantun program PUMP-PT dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Rusmansyah mengubah keterangannya dan mengakui adaanya  bantuan  tersebut.

Meski demikian, Rusmansyah mengaku tidak memahami benar aturan kegiatan tersebut. Semuanya dikerjakan langsung oleh kelompok, sebab dananya langsung  masuk ke rekening kelompok.

“Saya malah merasa direpotkan dengan adanya jabatan ini. Bisnis saya jadi enggak ke urus,” ujar Rusmansyah yang juga merupakan pengusaha pengepul ikan di daerah Kuala,  Kecamatan Pesisir Tengah ini.
(rico/mnz/mf)