KAWASAN
Kabupaten Lampung Barat (helmi/dok)
16/10/2014 22:06:46
18678

Lampung Barat: Dari Kopi Hingga Tanaman Hias

Harianlampung.com - Kabupaten Lampung Barat sejak lama dikenal sebagai penghasil utama komoditas kopi dan sayuran. Kini, daerah yang berudara sejuk itu sedang mengejar predikat baru sebagai penghasil tanaman hias.

Kopi Lampung yang kenikmatan rasanya terkenal hingga mancanegara, merupakan jasa Lampung Barat. Sejak zaman Belanda, daerah yang sebagian wilayahnya berada di lereng dan punggung Bukit Barisan itu, menjadi sentra penghasil kopi jenis robusta.


Pada masa kejayaanya, kopi ini tidak hanya menjadi komoditas ekspor andalan Lampung. Tetapi juga memberikan kemakmuran bagi banyak penduduk di daerah itu. Cerita rumah panggung sederhana di lereng-lereng bukit memiliki antena parabola, lengkap dengan perabot rumah tangga seperti televisi dan kulkas, bukan pemandangn aneh ketika itu. Meski jaringan listrik PLN belum ada, masyarakat berswadaya mengadakan listrik melalui mesin diesel.

Selain kopi, Lampung Barat juga dikenal sebagai penghasil sayur-mayur terbesar di Provinsi Lampung. Setidaknya, ada empat kecamatan yang menjadi sentra sayuran di kabupaten itu. Yaitu Way Tenong, Sekincau, Balik Bukit, dan Sukau.


Sayuran kentang, cabai merah, kubis, labu siam, tomat, wortel, buncis, dan sawi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan warga setempat. Tetapi juga dinikmati hampir seluruh warga Lampung. Bahkan, komodias sayuran Lampung Barat juga memasok ke daerah lain, seperti Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Padang, hingga Jabotabek.

Selain tanahnya subur, Lampung Barat yang berada pada ketinggian hingga 1000 meter dari permukaan laut,  dinilai cocok untuk mengembangkan tanaman hias. Untuk ini, Pemda Lampung Barat ingin mewujudkan Liwa Kota Berbunga dengan menjadikan daerah itu penghasil berbagai tanaman hias.


Untuk menyukseskan program itu, pemda setempat bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor dan Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Hias Departemen Pertanian. Lampung Barat memiliki iklim dan tanah yang cocok untuk pengembangan tanaman hias.

Wilayah yang dinilai cocok untuk pengembangan tanaman hias meliputi Kecamatan Sumberjaya, Gedung Surian, Way Tenong, Sekincau, Belalau, Batu Brak, Balik Bukit, dan Sukau dengan luas sekitar 248.857 m². Tanaman yang akan dikembangkan antara lain anggrek, mawar, helicona (pisang-pisangan), krisan, sedap malam, melati, palem, dan bugenvil, juga herbra. Tanaman Paku Sura dipilih sebagai maskot tanaman hias Lampung Barat karena sudah banyak ditanam masyarakat di daerah Sukau dan Sumberjaya.

Pariwisata

Selain sektor pertanian, Lampung Barat juga memiliki potensi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Provinsi Lampung, wisata andalan daerah ini adalah Danau Ranau di Pekon Lumbok, Kecamatan Sukau.

Untuk menarik minat wisatawan, setiap tahun Pemda Lampung Barat menggelar Festival Danau Ranau. Beragam kegiatan digelar untuk mengundang wisatawan menikmati panorama indahnya danau dengan latar belakang Gunung Seminung dan perbukitan hijau.


Beragam pilihan wisata bisa dinkimati pengunjung Danau Ranau. Mulai dari sekadar memancing, mengendarai perahu keliling danau bersama keluarga, atau mencoba olahraga paralayang. Terbang dari ketinggian sekitar 400 meter, wisatawan akan disuguhi indahnya panorama alam, danau, bukit hijau, hingga lahan pertanian yang membentang luas.

Sebelum dimekarkan menjadi dua kabupaten, Lampung Barat dan Pesisir Barat, daerah ini memiliki tempat wisata pantai berpasir putih, berpanorama indah, dengan ombak tinggi yang dinilai sebagai terbaik ketiga di dunia. Pantai itu berada di Krui dan kini masuk wilayah Pesisir Barat.

Sejak 1967

Proses panjang dan berliku yang ditempuh masyarakat Lampung Barat untuk menjadikan daerahnya kabupaten definitif. Untuk ini, sudah dirintis sejak tahun 1967 dengan menggelar musyawarah besar yang dihadiri para tokoh masyarakat, pemuda, pelajar dan mahasiswa se- Indonesia.

Musyawarah itu menghasilkan resolusi yang menuntut pemerintah agar menjadikan daerah bekas Kawedanan Krui itu menjadi Daerah Tingkat II. Musyawarah juga membentuk panitia nasional dan panitia eksekutif untuk memperjuangkan resolusi itu.

Pada tanggal 11 Juli 1967, DPRD Kabupaten Lampung Utara menanggapi tuntutan itu dengan menerbitkan Keputusan No.30/II/DPRD/67  tentang Peningkatan eks Kawedanaan Krui menjadi Daerah Tingkat II Lampung Barat.

DPRD Lampung Utara juga meminta Pemerintah Provinsi Lampung memperhatikan resolusi yang diajukan masyarakat Lampung Barat. Hal ini tertuang dalam surat bertanggal 20 April 1967 yang ditujukan kepada Bupati Lampung Utara.

Kendati sudah memperoleh dukungan dari kabupaten induk, usaha pembentukan Kabupaten Lampung Barat belum juga terwujud, bahkan seperti hilang ditelan waktu.


Harapan kembali muncul ketika Bupati Lampung Utara mengingatkan Pemprov Lampung tentang resolusi warga Lampung Barat.  Ini tertuang dalam surat bupati dengan No.PU.000/1232/Bank.LU/1978 tertanggal 27 September 1978.

Pembentukan Kabupaten Lampung Barat semakin dekat saat Menteri Dalam Negeri menerbitkan Keputusan Nomor 114/1978 tentang Pembentukan Wilayah Kerja Pembantu Bupati di Provinsi Lampung. Yaitu, Pembantu Bupati Lampung Selatan Wilayah Kota Agung, Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Liwa dan Wilayah Menggala.

Yang ditunggu masyarakat Lampung Barat akhirnya terwujud. Pada tanggal 16 Agustus 1991 lahir Undang-undang No. 6 Tahun 1991 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Lampung Barat.

Kabupaten hasil pemekaran Lampung Utara itu, diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Rudini pada tanggal 24 September 1991. Hakim Saleh Umpusinga dilantik sebagai bupati pertama Lampung Barat.

Untuk melengkapi perangkat pemerintahan, pada tanggal 6 Februari 1992 dibentuk DPRD Lampung Barat dengan 32 anggota. Jumlah ini berdasarkan hasil perimbangan suara yang diperoleh masing-masing kontestan pada pemilu 1987.

Umpusinga yang pada awal menjadi bupati tanpa melalui proses pemilihan, setelah DPRD terbentuk kemudian menggelar pemilihan kepala daerah. Hasilnya, Umpusinga dipercaya sebagai Bupati Lampung Barat periode 1992-997. Kemudian ia digantikan oleh Letkol I Wayan Dirpha (1997-2012). Kini, Lampung Barat dipimpin oleh Mukhlis Basri dan Dimyati Amin sebagai bupati dan wakil bupati untuk periode 2012-2017.

Kabupaten berpenduduk 419.037 jiwa itu (Sensus 2010),  pusat pemerintahannya berada di Liwa. Kota ini dipilih dengan alasan Liwa merupakan persimpangan lalu lintas dari berbagai wilayah yaitu Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung.
(mf/dir/das)