KAWASAN
Kabupaten Lampung Tengah (helmi/dok)
16/10/2014 22:12:58
20926

Lampung Tengah: Jalur Utama Lintas Sumatera

Harianlampung.com - Lampung Tengah merupakan kabupaten yang terbentuk sejak Lampung masih menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Pada era reformasi, daerah ini dimekarkan menjadi tiga daerah otonom: Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Kota Metro.

Sejalan dengan pemekaran wilayah, pusat pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah yang semula berada di Kota Metro, dipindahkan ke Gunung Sugih dengan pusat perkenomian dan perdagangan di Bandarjaya.


Sementara sistem pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah, berjalan sesuai perkembangan. Pada zaman Pemerintahan Penjajah Belanda, Lampung Tengah merupakan wilayah Onder Afdeling Sukadana yang terdiri atas tiga distrik. Yaitu, Sukadana,  Labuhan Maringgai, dan Gunung Sugih.

Kemudian pada Zaman Penjajahan Jepang, wilayah Lampung Tengah berubah menjadi Bun Shu Metro dan terbagi menjadi beberapa Gun Shu, marga dan kampung.


Setelah Indonesia Merdeka, Bun Shu Metro menjadi Kabupaten Lampung Tengah. Bupati pertama dijabat Burhanuddin (1945-1948). Pada masa ini, disebut Pemerintahan Marga karena dilibatkannya pemimpin marga dan kampung dalam unsur pemerintahan.

Pemerintahan Marga tak berlangsung lama dan diganti dengan sistem Pemerintahan Negeri (1953-1975). Pemerintahan ini terdiri dari kepala negeri dan dewan negeri. Kepala negeri dipilih oleh  dewan negeri dan kepala kampung.


Ketika itu, Lampung Tengah memiliki sembilan negeri yaitu Trimurjo, Metro, Pekalongan, Sribawono, Sekampung, Sukadana, Labuhan Maringgai, Wayseputih, dan Seputih Barat.

Sistem Pemerintahan Negeri pun akhirnya berubah karena dinilai kurang serasi dengan pemerintahan kecamatan. Pada tahun 1972, Gubernur Lampung secara bertahap menghapus pemerintahan negeri dengan tidak lagi mengangkat kepala negeri yang habis masa jabatannya. Selanjutnya berlaku pemerintahan kecamatan.


Pada era reformasi yang melahirkan otonomi daerah, terbit UU No. 12 Tahun 1999 tanggal 20 April 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Lampung Timur dan Kota Madya Metro. Dua daerah otonomi yang terakhir merupakan pemekaran dari Lampung Tengah.

Setelah pemekaran, Kabupaten Lampung Tengah juga memekarkan wilayah pada tingkat pemerintahan di bawahnya. Kini, Lampung Tengah memiliki 28 kecamatan, 276 kampung, dan 10 kelurahan.


Berikut kecamatan di Lampung Tengah: Anak Ratu Aji, Anak Tuha, Bandar Mataram, Bandar Surabaya, Bangun Rejo, Bekri, Bumi Nabung, Bumi Ratu Nuban, Gunung Sugih, Kalirejo, Kota Gajah, Padang Ratu, Pubian, Punggur, Putra Rumbia, Rumbia, Selagai Lingga, Sendang Agung, Seputih Agung, Seputih Banyak, Seputih Mataram, Seputih Raman, Seputih Surabaya, Terbanggi Besar, Terusan Nunyai, Trimurjo, Way Pengubuan, Way Seputih.

Pembauran Penduduk

Sebelum dimekarkan, Lampung Tengah merupakan kabupaten terluas kedua di Lampung. Setelah menjadi tiga daerah otonom, wilayah yang kini dipimpin Bupati H. A. Pairin ini memiliki wilayah 9.189,50 km² dengan penduduk sebanyak 1.109.884 jiwa (tahun 2004).

Penduduk di Lampung Tengah didominasi dua unsur yaitu masyarakat pribumi dan pendatang. Penduduk asli sudah menetap turun menurun bermukim wilayah ini. Ada daerah yang menjadi tempat mayoritas masyarakat pribumi, seperti Gunung Sugih yang kini menjadi pusat pemerintahan.


Sedangkan masyarakat pendatang yang tiba dan bermukim di daerah itu, sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Umumnya mereka adalah masyarakat dari Pulau Jawa dan Bali yang datang dan menetap di wilayah itu bersamaan dengan program transmigrasi yang dilakukan pemerintah.

Sejak tahun 1952 sampai dengan 1970, pemerintah telah memboyong sekitar 53.607 kepala keluarga atau sebanyak 222.181 jiwa dan ditempatkan di 24 lokasi di wilayah Lampung. Dari jumlah itu, sebanyak 6.189 KK atau sebanyak 26.538 jiwa menetap di 13 lokasi di Lampung Tengah.

Daerah yang berjarak sekitar 75 km dari Ibukota Provinsi Lampung itu mayoritas penduduknya bersuku Jawa dan beragama Muslim. Umumnya adalah para transmigran yang sudah menetap secara turun temurun. Ada juga suku Sunda dan Bali yang juga bermukim di sana melalui program transmigrasi, namun jumlahnya tidak sebanyak suku Jawa. Suku lain seperti Padang, Batak, Aceh, dan Madura, juga banyak yang bermukim di sana, umumnya di pusat perekonomian, seperti Bandarjaya.

Di beberapa kecamatan di wilayah timur Lampung Tengah, seperti di daerah Kecamatan Seputih Mataram dan Seputih Raman, mayoritas penduduknya bersuku Bali. Di wiilayah ini, masih sangat kental kehidupan beragama masyarakat Hindu. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pura dan peringatan keagamaan yang digelar warga setempat. Bahkan, bahasa penuturnya pun masih menggunakan Bahasa Bali.


Kendati berasal dari berbagai suku, kehidupan masyarakat Lampung Tengah sudah berbaur dalam kehidupan yang harmonis. Bahkan, ada satu wilayah yang masyarakatnya terbiasa bertutur dengan tiga bahasa sekaligus, Lampung, Jawa, dan Sunda.

Posisi Strategis

Kabupaten Lampung Tengah secara geogragis letaknya strategis. Dua jalan lintas utama menuju kota-kota di Sumatera, melintas di wilayah ini. Yaitu, jalur utama lintas tengah Sumatera atau jalur lama dan lintas timur Sumatera. Kedua jalur itu juga sekaligus menjadi penghubung utama antardaerah di Provinsi Lampung.

Letak yang strategis itu membuat daerah Lampung Tengah menyimpan banyak potensi ekonomi. Infrastruktur yang terjaga baik, terutama jalan lintas utama, membuat banyak industri yang berhubungan dengan pengolahan hasil pertanian dam peternakan, tumbuh di daerah ini. Pusat industri ini berada di wilayah Terbanggi Besar.

Selain itu, Lampung Tengah juga dikenal sebagai sentra pertanian, terutama penghasil padi. Bahkan, Lampung Tengah dikenal sebagai lumbung padi bagi Provinsi Lampung. Juga, menjadi sentra produksi singkong dan industri tepung tapioka.

Kota Kecamatan Gunung Sugih yang menjadi pusat pemerintahan kabupaten, juga menyimpan potensi ekonomi. Tiga sungai besar, Sungai Bungur, Way Seputih, dan Sungai Tippo yang mengelilingi Gunung Sugih, memberikan berkah bagi masyarakat. Selain menjadi penghasil pasir, sungai itu juga menjadi sumber pengairan ribuan hektare sawah di daerah itu.

Bupati Lampung Tengah dari masa ke masa.

    Burhanuddin Amin (1945 – 1948)

    Zainabun Djajanegara (1948 – 1952)

    R Syahri Djajoyoabdinegoro (1952 – 1957)

    Syamsudin V Djajamarga (1958 – 1959)

    Mohfian Hasanuddin Carepeboka (1959 – 1960)

    Hasan Basri Darmawijaya (1961 – 1967)

    R. A. Oemar Kadir (1967 – 1972)

    Zainal Arifin Waluyo SH (1972 – 1973)

    S Prawinegara (1973 – 1978)

    R Soekirno (1978 – 1985)

    H Subekti Jayanegara (PLH) (1985)

    Drs.Suwardi Ramli (1985 – 1995)

    Drs.Herman Sanusi (1995 – 2000)

    Drs. H. Andy Achmad Sampurna Jaya, M.Si (2000 – 2009)

    H. A. Pairin, S.Sos (2009 – 2010)

    H. A. Pairin, S.Sos (2010 – 2015)
(mf/dir/das)