KAWASAN
Kabupaten Tulang Bawang (der/dok)
17/10/2014 11:24:42
10172

Tulang Bawang: Mengutamakan Industri Perkebunan

Harianlampung.com - Pada tanggal 20 Maret tahun 1997 berdasarkan Undang-undang No. 2 Tahun 1997, kabupaten Tulang Bawang berdiri dan menjadi wilayah tingkat dua terluas di Provinsi Lampung. Luasnya mencapai 7.770,84 km2 atau sekitar 22 persen dari wilayah Provinsi Lampung.

Namun, pada Tahun 2008, Kabupaten Tulang Bawang. Sehingga wilayah Kabupaten induk ini menyusut menjadi seluas 4.385,84 km2, sisanya dibagi untuk Kabupaten Tulang Bawang Barat, dan Mesuji.


Kendati demikian, kabupaten dengan 15 kecamatan, 4 kelurahan, dan 148 kampung ini, memiliki beragam potensi sumber daya alam yang sangat potensial untuk dikembangkan.

Terbentuknya Tulang Bawang menjadi kabupaten, melalui proses panjang dan berliku. Jauh sebelumnya, Tulang Bawang lebih dikenal sebagai nama kerajaan masa silam. Secara administratif di daerah itu lebih sering disebut Menggala, sebuah kota yang cukup maju ketika itu dan masuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Utara.


Pada tahun 1981, Pemerintah Propinsi Lampung membentuk delapan lembaga pembantu bupati, salah satunya adalah Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Menggala.

Pada tahun 1997, dibentuk Sekretariat Persiapan Kabupaten Tulang Bawang. Santori Hasan yang menjabat Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Menggala, kemudian ditunjuk sebagai Plt Bupati Kabupaten Tingkat II Tulang Bawang.


Menteri Dalam Negeri kemudian meresmikan Tulang Bawang sebagai kabupaten dan Santori Hasan terpilih menjadi Bupati Tulang Bawang periode 1997-2002 yang dilantik pada tanggal 9 Desember 1997.

Bupati dan wakil bupati Tulang Bawang yang berikutnya ialah: Abdurachman Sarbini, dan AA. Syofandi (2002-2007); Abdurachman Sarbini dan Agus Mardihartono (2007-2012). Kini Kabupaten Tulang Bawang dipimpin Bupati Hanan A. Rozak dan wakilnya Heri Wardoyo (2012-2017).


Kabupaten Tulang Bawang terletak dibagian hilir dari 2 (dua) sungai besar yaitu Way Tulang Bawang dan Way Mesuji. Hampir sebagian besar wilayah kabupaten Tulang Bawang merupakan daerah dataran dan rawa serta alluvial. Dengan jenis tanah penyusun terdiri dari aluvial, regosol, andosol, podsolik coklat, latosol dan podsolik merah kuning.


Kabupaten Tulang Bawang merupakan pintu gerbang Jalur Lintas Timur menuju dan keluar dari Propinsi Lampung, yang berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, serta Laut Jawa. Infrastruktur transportasi darat didukung Jalur Lintas Timur dan Jalur Lintas Pantai Timur yang memperpendek jalur ekonomi barang dan jasa ke Pulau Jawa dan dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera.

Potensi Daerah

Berbagai produk perkebunan yang potensial dan sedang dikembangkan di Tulang Bawang antara lain: Karet, Kelapa, Kelapa Sawit dan Tebu.

Komoditas unggulan adalah karet dan kelapa sawit. Produktivitas dua komoditas ini mengalami peningkatan setiap tahun dan bahkan telah menjadi mata pencaharian utama sekitar 54% dari jumlah masyarakat Tulang Bawang. Data produksi terakhir untuk Karet mencapai 48.315,21 Ton dan Kelapa Sawit 14.717,05 Ton.


Saat ini sedang dikembangkan pemanfaatan sumberdaya perkebunan. Wilayah pengembangan komoditi unggulan tanaman pangan dan perkebunan dikonsentrasikan pada wilayah:

Padi, Pusat pertumbuhan dan produksi meliputi Kecamatan Rawapitu, Rawajitu Selatan, Menggala, Menggala Timur, Gedung Aji Baru, Penawar Tama, Gedung Aji.

Jagung, Pusat pertumbuhan dan produksi meliputi Kecamatan Menggala, Menggala Timur, Gedung Meneng, dente Teladas, Banjar Baru, Rawajitu Selatan, Gedung Aji Baru.

Ubi Kayu, Pusat pertumbuhan dan produksi meliputi Kecamatan Menggala, Menggala Timur, Gedung Meneng, Dente Teladas, Banjar Baru, Banjar Agung, Banjar Margo, Penawar Tama, Gedung Aji Baru, Penawar Aji, Gedung Aji, Meraksa Aji.


Karet, Pusat Pertumbuhan dan Produksi meliputi Kecamatan Banjar Baru, Abnjar Agung, Banjar Margo, Penawar Tama, Gedung Aji Baru, Gedung Meneng, Gedung Aji, Meraksa Aji.

Sawit, Pusat pertumbuhan dan produksi meliputi Kecamatan Banjar Baru, Banjar Agung, Banjar Margo, Penawar Tama, gedung Aji Baru, Rawapitu, Gedung Aji, Meraksa Aji.


Lambang Daerah

Perisai Bersegi Lima, menggambarkan bahwa masyarakat Tulang Bawang sanggup mempertahankan cita-cita Bangsa Indonesia, melanjutkan pembangunan, memajukan daerah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Lambang pada bagian atas terdapat TULANG BAWANG, huruf Merah dan dasar Putih, mempunyai makna bahwa keberadaan dan terbentuknya Daerah Tingkat II Tulang Bawang adalah dalam nuansa persatuan, kesatuan dan semangat kebersamaan, serta kehormatan terhadap Sang Saka Merah Putih sebagai Lambang Kedaulatan RI.

Payung berwarna Putih, memberikan perlindungan, pengayoman bagi masyarakat Kabupaten Tulang Bawang, serta mempunyai makna kehormatan dan Penghormatan tertinggi masyarakat Tulang Bawang.

Pada Payung terdapat 20 (dua puluh) rumbai renda, bergaris 3 (tiga), berjari-jari 9 (sembilan), bergelombang 7 (tujuh), menggambarkan bahwa Kabupaten Tulang Bawang diresmikan pada tanggal 20-3-1997.

Mahkota/Kopiah Emas, adat budaya Lampung dikenal dengan Kopiah Emas mempunyai makna Kepemimpinan/Keperkasaan/Kepahlawan masyarakat Tulang Bawang.

Sebuah lingkaran, yang mempunyai makna bahwa masyarakat Tulang Bawang bersifat Heterogen, baik dari ragam budaya, pendidikan, sosial, berpadu teguh dalam kesatuan tindak secara profesional, menggapai cita, melangkah ke masa depan, membangun kejayaan Tulang Bawang.

Pada lingkaran bagian atas di  dalam  lingkaran  terdapat warna Hijau Lumut, menggambarkankan  lingkungan  yang  sejuk, merupakan daerah pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan.

Bagian atas lingkaran terdapat 4 (empat) garis bergelombang, memperlihatkan dominasi sungai dan perairan terhadap Daerah Tulang Bawang sekurang-kurangnya 4 (empat) sungai besar secara historis mengantarkan kejayaan masa lalu Tulang Bawang.

Bagian bawah dalam lingkaran terdapat warna Cokelat yang menggambarkan melambangkan kesuburan tanah, cocok untuk segala jenis tanaman.

Pada lingkaran terdapat Tombak/Payan, Keris berbentuk silang, adalah merupakan senjata tradisional masyarakat Tulang Bawang yang siap mempertahankan kehormatan daerah dan masyarakat.

Rangkaian Padi dan Kapas, mempunyai makna kebersamaan yang utuh untuk  mewujudkan masyarakat yang sejahtera, berkemakmuran baik lahir batin, serta makmur berkeadilan dalam wadah Negara RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pepadun/mahligai  merupakan  mahligai  tempat  kedudukan  seorang  Penyimbang  Marga,  mempunyai  makna  masyarakat Tulang Bawang telah lama mengenal sistem kepemimpinan yang kuat dan mengakar

Tulisan aksara Lampung berbunyi: Tulang Bawang.


Seuntai pita bertuliskan “Sai Bumi Nengah Nyappur”, dasar putih dengan   tulisan berwarna merah.

Sai Bumi Nengah Nyappur, bermakna bahwa masyarakat daerah Tulang Bawang sangat terbuka, mudah beradaptasi terhadap lingkungan, serta ramah dalam pergaulan, merupakan perwujudan sikap kemampuan, keluhuran dan keyakinan, serta percaya diri yang penuh. Keterbukaan masyarakat Tulang Bawang ini merupakan dalam bentuk kesediaan menerima pengaruh dan memberi pengaruh terhadap masyarakat pendatang.

Warna Putih melambangkan Marga/Megou.

Warna Kuning melambangkan Tiuh/Kampung.

Warna Merah melambangkan Suku.


Latar Belakang

Dalam sejarah kebudayaan dan perdagangan di Nusantara, Tulang Bawang digambarkan merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia, disamping kerajaan Melayu, Sriwijaya, Kutai, dan Tarumanegara. Meskipun belum banyak catatan sejarah yang mengungkapkan keberadaan kerajaan ini, namun catatan Cina kuno menyebutkan pada pertengahan abad ke-4 seorang pejiarah Agama Budha yang bernama Fa-Hien, pernah singgah di sebuah kerajaan yang makmur dan berjaya, To-Lang P’o-Hwang (Tulang Bawang) di pedalaman Chrqse (pulau emas Sumatera). Sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan pusat kerajaan Tulang Bawang, namun ahli sejarah Dr. J. W. Naarding memperkirakan pusat kerajaan ini terletak di hulu Way Tulang Bawang (antara Menggala dan Pagardewa) kurang lebih dalam radius 20 km dari pusat kota Menggala.

Seiring dengan makin berkembangnya kerajaan Che-Li-P’o Chie (Sriwijaya), nama dan kebesaran Tulang Bawang sedikit demi sedikit semakin pudar. Akhirnya sulit sekali mendapatkan catatan sejarah mengenai perkembangan kerajaan ini.


Ketika Islam mulai masuk ke bumi Nusantara sekitar abad ke-15, Menggala dan alur sungai Tulang Bawang yang kembali marak dengan aneka komoditi, mulai kembali di kenal Eropa. Menggala dengan komoditi andalannya Lada Hitam, menawarkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan komoditi sejenis yang didapat VOC dari Bandar Banten. Perdagangan yang terus berkembang, menyebabkan denyut nadi Sungai Tulang Bawang semakin kencang, dan pada masa itu kota Menggala dijadikan dermaga “BOOM“, tempat bersandarnya kapal-kapal dari berbagai pelosok Nusantara, termasuk Singapura.

Perkembangan politik Pemerintahan Belanda yang terus berubah, membawa dampak dengan ditetapkanya Lampung berada dibawah pengawasan langsung Gubernur Jenderal Herman Wiliam Deandles mulai tanggal 22 November 1808. Hal ini berimbas pada penataan sistem pemerintahan adat yang merupakan salah satu upaya Belanda untuk mendapatkan simpati masyarakat.

Pemerintahan adat mulai ditata sedemikian rupa, sehingga terbentuk Pemerintahan Marga yang dipimpin oleh Kepala Marga (Kebuayan). Wilayah Tulang Bawang sendiri dibagi dalam 3 kebuayan, yaitu Buay Bulan, Buay Tegamoan dan Buay Umpu (tahun 1914, menyusul dibentuk Buay Aji).

Sistem Pemerintahan Marga tidak berjalan lama, dan pada tahun 1864 sesuai dengan Keputusan Kesiden Lampung No. 362/12 tanggal 31 Mei 1864, dibentuk sistem Pemerintahan Pesirah. Sejak itu pembangunan berbagai fasilitas untuk kepentingan kolonial Belanda mulai dilakukan termasuk di Kabupaten Tulang Bawang.

Pada zaman pendudukan Jepang, tidak banyak perubahan yang terjadi di daerah yang dijuluki “Sai Bumi Nengah Nyappur” ini. Dan akhirnya sesudah Proklamasi kemerdekaan RI, saat Lampung ditetapkan sebagai daerah Keresidenan dalam wilayah Propinsi Sumatera Selatan, Tulang Bawang dijadikan wilayah Kewedanaan.
(der/ftu/dos)