KAWASAN
Kabupaten Lampung Selatan (Sis/dok)
17/10/2014 15:48:33
20115

Lampung Selatan: Gerbang Utama Provinsi Lampung

Harianlampung.com - Lampung Selatan merupakan gerbang utama Provinsi Lampung. Di kabupaten ini terletak pelabuhan laut dan bandar udara yang menjadi pintu masuk utama ke daerah Lampung.

Melalui Pelabuhan Bakauheni, masyarakat Lampung dihubungkan dengan Pulau Jawa. Transportasi laut kapal ferry membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam menyeberangi Selat Sunda sejauh sekitar 30 meter menuju Pelabuhan Merak, Banten, di Pulau Jawa.


Terletak di ujung Pulau Sumatera, pelabuhan dengan lima dermaga ini, termasuk yang tersibuk di Indonesia. Pada musim mudik lebaran, tahun baru, dan libur pajang, arus lalu-lintas di pelabuhan itu sangat padat. Saat itu, setiap hari ada sekitar 30 ribu orang, ratusan kendaraan angkutan umum, truk barang, mobil pribadi, dan ribuan sepeda motor melintas di Bakauheni.


Lampung Selatan juga memiliki bandar udara yang terletak di Kecamatan Natar. Bandara  Radin Inten II ini satu-satunya pintu masuk Lampung melalui transportasi udara. Pemda terus meningkatkan pembangunan bandara, termasuk memperpanjang landasan pacu dari 2.500 meter menjadi 3.000 meter. Sehingga bisa didarati pesawat besar seperti Boeing 747 dan menjadi bandara internasional.

Sebenarnya, Lampung Selatan pernah memiliki pelabuhan ekspor-impor yang terletak di Panjang. Namun, pelabuhan yang bernilai strategis bagi kegiatan ekonomi Lampung ini, sejak tahun 1982 menjadi wilayah Kota Bandarlampung.


Lampung Selatan termasuk kabupaten yang berdiri sejak Lampung masih menjadi bagian dari Provinsi Lampung Selatan. Ketika itu, wilayah Lampung Selatan terdiri dari empat kawedanan: Kota Agung, Pringsewu, Telukbetung, dan Kalianda.

Kawedanan Kota Agung yang meliputi kecamatan Wonosobo, Kota Agung dan Cukuh Balak, kini menjadi wilayah Kabupaten Tanggamus. Wilayah Pringsewu: Pagelaran, Pringsewu, Gadingrejo, Gedongtataan dan Kedondong, menjadi Kabupaten Pringsewu dan Pesawaran.

Sedang Kawedanan Telukbetung yang meliputi Kecamatan Natar, Telukbetung dan Padang Cermin, sebagian menjadi wilayah Kabupaten Pesawaran dan Kota Bandar Lampung. Sedangkan Kawedanan Kalianda yang meliputi Kecamatan Kalianda dan Penengahan, tetap menjadi bagian dari Lampung Selatan.


Pada masa itu, pusat pemerintahan dan ibukota Kabupaten Lampung Selatan berada di Tanjungkarang-Telukbetung, sekarang wilayah Kota Bandarlampung. 

Ketika Tanjungkarang-Telukbetung menjadi Kotapraja, berdasarkan UU nomor 28 tahun 1959, praktis kedudukan ibukota Lampung Selatan berada di luar wilayah administrasinya. Pemerintah berusaha memindahkan ke wilayah administrasi Lampung Selaltan. Usaha ini dimulai sejak 1968.

Pemindahan ibukota ternyata tidak sederhana. Pada tahun 1978, Pemda Lampung bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Planologi Departemen Planologi Institut Teknologi Bandung (LPP-ITB) guna melakukan penelitian daerah mana yang cocok menjadi ibukota Lampung Selatan. 


Hasil penelitian terhadap 20 ibu kota kecamatan, terpilih dua kota yang mempunyai nilai tertinggi untuk di jadikan calon ibu kota Kabupaten Lampung Selatan yaitu Pringsewu dan Kalianda.

Sementara Tim Departemen Dalam Negeri juga melakukan hal serupa. Ada enam kecamatan yang diteliti dari tanggal 19-29 Mei 1980. Yaitu, Kota Agung, Talangpadang, Pringsewu, Katibung, Kalianda, dan Gedungtaan. Hasilnya, mengerucut pada satu pilihan yaitu Kalianda yang mencakup Bumi Agung dan Way Urang. Kota pini pun ditetapkan menjadi Ibukota Kabupaten Lampung Selatan melalui PP No. 39 Tahun 1981 bertanggal 3 November 1981.


Berdasarkan Surat Menteri Dalam Negeri nomor 135/102/PUOD tanggal 2 Januari 1982, peresmiannya dilakukan pada tanggal 11 Pebruari 1982 oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud. Sedangkan kegiatan Pusat Pemerintahan di Kalianda ditetapkan mulai tanggal 10 Mei 1982.

Ragam Budaya

Lampung Selatan yang memiliki wilayah seluas 2.109,74 km² yang terbagi dalam 248 desa dan 3 kelurahan dengan 17 kecamatan yaitu, Bakauheni, Candipuro, Jati Agung, Kalianda, Katibung, Ketapang, Merbau Mataram, Natar, Palas, Penengahan, Rajabasa, Sidomulyo, Sragi, Tanjung Bintang, Tanjungsari, Way Panji, Way Sulan.

Jumlah penduduknya sekitar 900 ribu jiwa. Seperti daerah lain di Lampung, penduduk di Lampung Selatan secara garis besar terdiri atas penduduk asli Lampung, sub suku Peminggir, dan pendatang yang mayoritas suku Jawa. Tentu, beragam suku dari berbagai daerah di Indonesia, juga ada di daerah Lampung Selatan.


Dominasi suku Jawa itu, erat kaitannya dengan program pemindahan penduduk, baik melalui kolonisasi pada masa Penjajah Belanda, maupun lewat program transmigrasi yang dilakukan pemerintah setelah Indonesia merdeka.

Selain itu, wilayah Lampung Selatan yang terbuka dengan wilayah pantai yang panjang, memungkinkan nelayan dari daerah lain untuk bermukim di sana. Para nelayan itu bersandar dan menetap di sekitar pantai, terutama di wilayah timur dan selatan. Para nelayan ini sebagian berasar dari pesisir selatan Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan.

Karena itu, Lampung Selatan termasuk daerah yang kaya budaya. Selain masyarakat asli Lampung, warga pendatang yang terdiri dari berbagai etnis itu, umumnya masih mempertahankan adat budaya mereka.

Wisata

Lampung Selatan memiliki kekayaan wisata yang luar biasa dengan wisata Krakatau yang menjadi andalan utama. Potensi wisata yang sempat diperebutkan Banten dan Lampung, ini tidak hanya menawarkan wisata gunung seperti yang lain. Gunung Anak Krakatau yang masih aktif dan secara rutin mengeluarkan lava dan semburan api ini memberikan pengalaman tersendiri ketika bisa menyaksikan dari jarak dekat atau menginjakkan kaki di lereng gunung.

Gugusan Kepulauan Krakatau hasil ledakan dahsyah Gunung Krakatau yang terjadi pada 1883, terdiri atas pulau Rakata atau Krakatau Besar, Panjang atau Krakatau Kecil, Sertung, dan Anak Krakatau. Selain itu, di sekitarnya juga terdapat puluhan pulau kecil yang memiliki panorama indah.


Kepulauan Krakatau yang dianggap sebagai laboratorium alam raksasa itu, sejak tahun 1919 oleh Belanda ditetapkan sebagai Cagar Alam. Pada 1991, Unesco mengakui Kepulauan Krakatau sebagai warisan alam dunia.

Keindahan lain yang dapat dinikmati wisatawan ialah kekayaan sumbedaya alam laut yang belum terjamah dan terjaga kelestariannya. Keindahan alam laut, pantai berpasir putih, hampir terdapat di seluruh pulau yang ada di Selat Sunda itu.


Pemerintah Lampung Selatan giat mempromosikan potensi wisata itu. Setiap tahun digelar Festival Krakatau untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke sana. Festival ini juga selalu dimeriahkan dengan pageralan beragam budaya daerah yang menarik untuk disaksikan.

Selain itu, Lampung Selatan juga memiliki Menara Siger, tempat wisata yang menyambut kedatangan masyarakat ke Lampung melalui Bakauheni. Selain menyajikan beragam budaya dan kerajian, pengunjung dapat menyaksikan kesibukan Pelabuhan Bakauheni dari lokasi wisata ini.


Sementara di sektor pertanian, Lampung Selatan juga menjadi penghasil beragam komoditas. Mulai dari tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, kakao, kakao, karet, kopi, kelapa, aren, cengkeh, jambu mete, dan vanili. Juga, tanaman pangan seperti jagung, kedelai, dan pisang, terdapat di daerah ini.

Bupati Lampung Selatan

Acmad Akuan  (1951-1952), Zainal Abidin Pagar Alam (1953-1955), R. Abu Bakar (1955-1956), Mas Agus Abd. Rachman (1956-1960), Hasan Basri (1960-1967), A. Djohansyah (1967-1972), Dja'far Hamid (1973 -1978), Mustafa Kemal (1978 -1982), Subki E. HARUN (1982 -1983), pejabat bupati Dulhadi (1983-1988), Dulhadi (1988-1993), Sunardi (1993-1998), Amreyza Anwar (1998-1999), Zulkifli Anwar (2001-2005), Zulkifli Anwar (2005 -2009), Wend Melfa (2009-2010), Rycko Menoza (2010-2015).
(ftu/mf/sir)