KAWASAN
Kota Metro (Dir/dok)
17/10/2014 16:59:44
14194

Kota Metro: Pusat Pendidikan dan Perdagangan

Harianlampung.com - Sejarah Kota Metro bermula dari kolonisasi Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1936, ratusan warga dari Yogjakarta dan beberapa kabupaten di Jawa Tengah didatangkan untuk membuka hutan di daerah Lampung bagian tengah.  

Rombongan pertama warga dari Jawa itu tiba pada Jumat, 3 April 1936. Mereka ditampung sementara di rumah-rumah bedeng berdinding geribik dan beratap ilalang. Pemerintah Belanda kemudian membagikan hak penggarapan lahan. Setiap keluarga memperoleh dua hektare lahan dan pekarangan.


Dengan peralatan sederhana seperti golok dan kapak yang diberikan Belanda, warga bergotong-royong membuka hutan, mendirikan rumah sederhana, dan menggarap lahan.

Sementera 70 bedeng yang dibangun Belanda untuk menampung para pendatang dari Jawa itu, kini berubah menjadi kelurahan atau suatu areal tertentu. Hingga kini masyarakat Metro masih akrab dengan istilah Bedeng.


Sedang nama Metro diambil dari kata ‘meterm’ (Bahasa Belanda) yang berarti pusat. Itu karena Metro berada di tengah-tengah daerah koloni baru di Lampung Tengah.

Dalam program kolonisasi, Pemerintah Hindia Belanda juga membangun berbagai infrastruktur. Seperti jalan, pasar, klinik, kantor polisi, kantor telekomunikasi, alun-alun, dan Bendungan Agro Guruh. 


Bendungan yang terletak di kecamatan Tegineneng hingga kini menjadi sumber pengairan ribuan hektare sawah di daerah Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Timur, dan Kota Metro. Ketiga daerah itu pun menjadi lumbung padi bagi Lampung.

Perkembangan berikutnya, pada tahun 1945-1956, Metro menjadi sebuah kawedanan, masuk Kabupaten Lampung Tengah. Tahun 1956, sistem Pemerintahan Metro berubah menjadi “negeri”. Kepala daerahnya di sebut kepala negeri. 


Pada tahun 1976, Metro menjadi Ibu Kota Kabupaten Lampung Tengah. Metro pun menggeliat menjadi kota yang ramai dan pesat perkembangan pembangunannya. Bekas kolonisasi itu, telah berubah menjadi pusat perekonomian dan kota pendidikan.

Untuk urusan pemerintahan, pada 6 September 1987 Metro diresmikan Mendagri Soeparjo Rustam sebagai kota administratif. Kemudian, pada 27 April 1999, kota yang memiliki 68,74 km2 itu, menjadi kota otonom yang terpisah dari Lampung Tengah. Mozes Herman dan Lukman Hakim menjadi walikota dan wakil walikota pertama. 


Kota yang terdiri atas 22 kelurahan dan lima kecamatan itu, kini menjadi kota penting di Lampung, setelah Bandarlampung. Sekitar 152.400 jiwa bermukim di kota yang tertata rapi, bersih, nyaman, dan aman itu.

Lambang Daerah Kota Metro Bumi Sai Wawai" disahkan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 1 Tahun 1999 tanggal 8 November 1999 tentang Lambang Daerah.

Lima kecamatan yang ada dikota metro dibagi menjadi 22 kelurahan. Kecamatan Metro Pusat terdiri dari 5 Kelurahan antara lain (Kelurahan Metro, Imopuro, Hadimulyo Barat, Hadimuyo Timur, Yosomulyo), Kecamatan Metro Barat terdiri dari 4 Kelurahan  (Kelurahan Mulyojati, Mulyosari, Ganjarasri, Ganjaragung).

Sementara Kecamatan Metro Timur terdiri dari 5 Kelurahan (Kelurahan Tejosari, Tejoagung, Iring Mulyo, Yosodadi,Yosorejo), Metro Utara Terdiri dari 4 Kelurahan (Kelurahan banjarsari, Karangrejo, Purwosari, Purwoasri), dan Metro selatan terdiri dari 4 Kelurahan (Kelurahan Rejomulyo, Margorejo, Margodadi, Sumbersari).


Makna lambang

Pada lambang daerah, bertuliskan "METRO" berwarna merah diatas dasar berwarna putih, menggambarkan Kota Metro bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Garis Tepi yang yang melingkari Lambang Daerah bewarna Kuning, menggambarkan tekad tulus untuk menegakkan serta membina persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam Lambang Daerah bagian atas terdapat Siger, mencirikan bahwa masyarakat menjunjung tinggi kebudayaan daerah sebagai bagian dari kebudayaan bangsa.


Siger bewarna Kuning keemasan dengan 9 buah mahkota, mencirikan bahwa Kota Metro terletak di Lampung.

Diatas Siger terdapat Payung Agung, melambangkan pengayoman bagi warga daerah.

Payung Agung terbagi dalam 4 bidang besar, 27 bidang kecil dan berumbai dibagian bawah kiri dan kanan masing-masing 9 untai sebagai tanggal terbentuknya Kota Metro ( 27 - 9 - 1999).

Setangkai Padi dan setangkai Kapas, melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.


9 buah biji Kapas, dan 6 buah Cincin pengikat serta 37 butir Padi merupakan Hari Jadi Kota Metro ( 9 - 6 - 1937).

Nyala Api, Pena, dan Buku di tengah-tengah antara padi dan kapas menggambarkan semangat warga daerah untuk mengarahkan Metro menjadi Kota Pendidikan.

Sehelai Pita berwarna Putih bertuliskan "Bumi Sai Wawai" dalam aksara Lampung mengandung makna upaya yang terus menrus untuk menjadikan daerah sebagai bumi yang bagus atau indah dan asri.

Kota Pendidikan 

Kota Metro sering dibandingkan dengan Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Ini tidaklah berlebihan. Bukan lantaran daerah itu mayoritas penduduknya bersuku Jawa, namun fasilitas pendidikan di kota ini berkembang sangat pesat.


Sejak lama pemerintah memusahkan pembangunan pendidikan di daerah yang dikenal dengan kampus. Di kawasan ini, selain berdiri sejumlah sekolah menengah tingkat pertama dan atas, juga terdapat dua kampus besar. Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri dan Universitas Muhammadiyah Metro.

Namun, karena keterbatasan lokasi, sejumlah perguruan tinggi mendirikan kampus di luar kawasan itu. Saat ini, di kota kecil itu terdapat 12 perguruan tinggi,  183 sekolah mulai dari jejang taman kanak-kanan hingga menengah dan kejuruan. 

Pesatnya pembangunan pendidikan, juga memunculkan berbagai pendidikan formal, seperti lembaga kursus bahasa, bimbingan belajar, serta pendidikan keterampilan nonformal. 


Sebagai pusat pendidikan, Kota Metro juga memiliki Perpustakaan Daerah yang cukup representatif, letaknya strategis sehingga memudahkan pelajar maupun masyarakat untuk berkunjung. Selain itu, kini sedang tumbuh perpustakaan kelurahan yang dikenal dengan sebutan “Rumah Pintar”.

Kondisi lingkungan yang nyaman, keamanan yang kondusif, serta masyarakatnya yang dikenal ramah, membuat banyak masyarakat dari luar Kota Metro yang memilih melanjutkan pendidikan di kota ini. Apalagi, didukung dengan harga-harga kebutuhan pokok yang relatif murah dan tidak memberatkan kantong para pencari ilmu.

Kota Perdagangan

Metro adalah kota penting di Lampung setelah Bandarlampung. Kota ini menjadi pusat perdagangan dan perekonomian masyarakat di sekitar wilayah itu. Pesatnya perekonomian dapat dilihat dari banyaknya lembaga keuangan perbankan yang beroperasi di daerah itu. 

Beberapa lembaga bank yang ada Kota Metro adalah BNI, BRI, Bank Mandiri, Bank Lampung, Bank Danamon, BCA, BII, Bank Buana, Bank Eka Bumi Arta, Bank Haga, Bank Kota Liman, dengan dilengkapi beberapa unit Anjungan Tunai Mandiri (ATM).


Di sektor perdagangan, Kota Metro menjadi sentra perdagangan yang melayani masyarakat dari luar wilayah itu, seperti Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan. Letaknya yang strategis dan kondisi keamanan yang kondusif membuat perdagangan di kota ini memiliki prospek yang menjanjikan.

Pusat perdagangannya terletak di dua pasar utama yaitu Shoping Centre dan Pasar Cenderawasih. Selain juga beberapa pasar yang tersebar di berbagai wilayah di Kota Metro. Seperti Pasar Kopindo, Pasar 16 C, Pasar Sumbersari Bantul, Pasar Ganjar Agung , Pasar Pagi Purwosari, Pasar Ayam Hadi Mulyo, dan Pasar Tejo Agung.

Pada malam hari, Kota Metro juga dihidupkan oleh berbagai aktivitas ekonomi. Taman kota, halaman pertokoan, serta sejumlah tempat di lintas jalan utama Kota Metro, berubah menjadi pusat jajajan dan makanan yang selalu ramai pengunjung. 
(mf/dir/das)