KAWASAN
Ilustrasi (harlam/dok)
15/1/2015 14:37:16
1251

Korban Pencabulan, Bunga Kini Trauma dan Berhenti Sekolah

Harianlampung.com -  Bunga (nama inisial), gadis remaja (16 tahun) yang menjadi korban pencabulan bapak kandungnya hingga hamil, di Kabupaten Pringsewu, beberapa waktu lalu, kini trauma dan memutuskan berhenti sekolah.

Bunga yang sudah tidak memiliki ibu itu (meninggal dunia), masih tercatat sebagai siswi kelas VIII di salah satu SMP di Kabupaten Pringsewu. Ia kini memilih tidak melanjutkan sekolah karena malu.

Ia menuturkan, peristiwa itu menyebabkan dia serba salah dalam melangkah, dan tidak nyaman berada di lingkungan sosialnya. Apalagi dengan teman-teman sekolahnya. "Saya sangat malu sekali, saya berhenti sekolah saja mau cari kerja,” tuturnya, Kamis (15/1).

Gadis remaja yang memiliki tubuh bongsor itu selalu menundukan kepalanya ketika ditemui beberapa wartawan ketika dimintai kronologis peristiwa itu. ”Saya sangat sedih, saya lebih baik diam di rumah,” ujarnya.

Ia juga memilih tidak menempati rumah orang tuanya, karena menganggap rumah tersebut telah menyisakan kenangan pahit.

Terlebih sikap ketidaksenangan yang ditunjukkan pihak keluarga ayah kandungnya.

Bunga memilih tinggal di rumah pamannya Slamet (kakak alm ibu Bunga). ”Di rumah Pakde lebih nyaman, daripada tetap tinggal di rumah orang tua,” katanya.

Di tempat terpisah, Andi, Kepala Sekolah tempat Bunga sekolah mengatakan, pihaknya telah memberikan solusi dengan cara memberikan toleransi dan dispensasi hingga korban siap melanjutkan sekolahnya lagi.

"Pihak sekolah masih tetap menerimanya jika memang mau sekolah lagi. Kami sekarang memakluminya karena kondisi psikis pasti masih trauma,” papar Andi.

Sebelumnya, Bunga adalah korban kebiadaban Ahmad Nasi’in (42), ayah kandungnya yang tega mencabulinya dengan cara memaksa hingga sebanyak 24 kali, sejak 27 Juli 2014 lalu.

Bahkan, akibat perbuatan pencabulan itu, korban sempat hamil.

Mendengara anaknya hamil, tersangka berusaha memerintahkan seorang dukun menggugurkan kandungannya, tapi dukun itu menolaknya.

Karena sang dukun tidak berani menggugurkan kandungan, malam harinya tersangka memaksa korban minum obat sejenis tablet sebanyak dua butir. Setelah minum obat itu, beberapa jam kemudian korban mengeluh kesakitan di bagian perutnya.

Karena korban terus mengerang kesakitan, esok harinya, tersangka membawa korban ke Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu. Ia kemudian meninggalkannya begitu saja. Padahal, beberapa saat korban melahirkan bayi laki-laki, tapi sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Hingga beberapa bulan tersangka kabur, akhirnya kepolisian Sektor Pringsewu mengetahui tempat persembunyiannya di daerah Cimanggis, Depok, menangkapnya. Tersangka kini meringkuk di jeruji besi tahanan Polsek Pringsewu.

Kapolsek Pringsewu Kompol Suparman menjelaskan, tersangka bakal dikenakan Pasal 81 dan 82, UU No 23 tahun 2002,  ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Serta Pasal 347 KUHP tentang pembunuhan terhadap anak yang masih di dalam kandungan, dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.
(sulistiyo/riz/eh)