PARIWISATA
Wisata Danau Ranau
23/10/2014 12:36:15
13353

Danau Ranau, Pesona Alam di Kaki Gunung Seminung

Harianlampung.com - Berwisata ke Danau Ranau tidak hanya untuk menikmati pesona alam. Pengunjung juga bisa berekreasi sekaligus merasakan suasana nyaman pedesaan di kaki Gunung Seminung.

Ketika ingin berwisata ke Danau Ranau, yang terbayang adalah hamparan luas air jernih. Cuaca sejuk, udara segar yang bertiup dari lereng pegunungan, dan suasana nyaman kehidupan alam pedesaan.


Kalau itu yang terpikirkan, semua akan diperoleh saat berkunjung ke sana. Danau terbesar kedua di Sumatera setelah Danau Toba, itu masih terjaga keasrian alamnya. Suasana pedesaan dengan rumah panggung berbahan kayu, serta penduduknya yang ramah, akan meninggalkan kesan mendalam bagi setiap wisatawan.

Namun, tak hanya sebatas itu. Banyak pesona lain yang bisa dinikmati pengunjung Danau Ranau. Paling sederhana, wisatawan dapat berperahu menikmati deburan ombak dan berkeliling danau bersama kerabat atau keluarga. Dari tengah danau akan terlihat indahnya pemandangan alam Gunung Seminung yang menjulang ke angkasa. 


Setelah puas mengarungi danau berair jenih yang luas, wisatawan bisa menikmati makanan dengan menu ikan nila bakar hasil budidaya peternak atau ikan yang hidup liar di danau. Sambil menyeruput minuman secangkir panas kopi robusta, kenikmatan hidup terasa lebih lengkap. 

Kegiatan lain yang bisa dilakukan di Danau Ranau adalah mandi di pemandian air panas. Ada yang khas di sini karena air panas mengalir dari luang-lubang kecil di tebing.  Air panas yang mengandung kadar belerang cukup tinggi ini terletak di Desa Air Panas di kaki Gunung Seminung.


Untuk menuju ke pemandian air panas itu, dibutuhkan waktu sekitar 20 menit menggunakan perahu dari Sukamarga. Sementara, anak-anak juga bisa bermain di waterboom yang berada di tepi danau.

Ingin yang lebih menantang, pengunjung bisa mencoba terbang dengan paralayang. Panorama danau yang berpadu dengan alam pegunungan, tentu menawarkan pesona keindahan tersendiri. Menyaksikan luasnya danau dan hamparan areal pesawahan sambil terbang, membuat perjalanan wisata ke Danau Ranau lebih mengesankan.


Wisatawan yang tidak suka berperahu atau enggan mandi air panas, bisa menghabiskan waktu dengan beristirahat di penginapan. Jangan lupa menyiapkan baju tebal karena suhu di Danau Ranau bisa mencapai 16 derajat Celsius. 

Di tepi Danau Ranau terdapat fasilitas penginapan, antara lain Seminung Lumbok Resort  yang menyediakan fasilitas cottege di tepi danau, outbond area dan flying fox.  Selain itu, penginapan juga terdapat di Kotabatu di Banding Agung, dan cottage PT Pusri di Sukamarga. 

Namun, jika ingin berbaur dan merasakan keseharian warga Ranau, pengunjung bisa memilih Desa Wisata Mupadu yang dilengkapi dengan fasilitas home stay dan pondok wisata. 

Danau Dua Provinsi

Danau terbesar kedua di Pulau Sumatera ini luasnya sekitar 128 ribu meter persegi, dengan ukuran lebar sekitar 8 ribu meter dan panjang 16 ribu meter. Danau Ranau terletak di perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Sebagian masuk wilayah administratif Lampung Barat (Lampung), dan sebagian lain termasuk wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (Sumsel).


Wisatawan dari Pulau Jawa yang ingin ke Danau Ranau, bisa menggunakan rute Bandarlampung-Kota Bumi-Bukit Kemuning-Liwa-Kotabatu-Sukamarga atau Banding Agung. Perjalanan dari Bandar Lampung menuju Danau Ranau kurang lebih 6-7 jam.

Bisa juga lebih hemat waktu tapi tak hemat biaya. Dari Jawa menggunakan transportasi udara menuju Bandara Raden Inten II di Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Dilanjutkan dengan penerbangan menuju Bandara Serai, Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Kemudian disambung transportasi darat menuju Danau Ranau dengan waktu tempuh sekitar dua jam.

Catatan yang perlu diingat, penerbangan Bandara Randen Inten II ke Bandara Serai hanya dua kali dalam sepekan pada Selasa dan Jumat. Karena itu, wisatawan harus memesan tiket penerbangan jauh-jauh hari.


Rute lain menuju Dana Ranau, bisa lewat Palembang-Prabumulih-Baturaja-Muaradua. Waktu tempuh perjalanan sedikit lebih lama dibandingkan dengan dari Bandarlampung, sekitar 7-8 jam.

Khawatir pejalanan menjemukan karena menempuh perjalanan cukup lama, wisatawan bisa menikmati suasana alam pegunungan yang sejuk. Dari arah Bandarlampung, begitu masuk wilayah Lampung Barat, akan terlihat hamparan luas tanaman kopi, sayuran, dengan rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu di sepanjang perjalanan. 


Lebih asik jika perjalanan dilakukan saat musim buah-buahan. Beragam buah segar dijajakan petani di pinggir jalan. Wisatawan bisa singgah sebentar untuk membeli bekal buah-buahan sambil menghirup udara segar pegunungan. 

Jika ingin lebih meriah saat berkunjung ke Danau Ranau, wisatawan perlu menyesuaikan dengan agenda dari Pemerintah Kabupaten Lampung Barat yang setiap tahun menggelar Gebyar Pesona Lumbok Ranau. Ketika itu, suasana di Danau Ranau sangat meriah karena banyak pengunjung yang ikut memeriahkan beragam kegiatan wisata di sana.

Legenda Danau Ranau

Banyak danau berasal dari gunung berapi yang meletus dan meninggalkan lubang besar. Sumber air yang sebelumnya mengalir di kaki gunung, menjadi sumber air yang memenuhi lubang itu hingga akhirnya penuh dan menjadi danau. 

Namun, sebagian penduduk di sekitar Danau Ranau masih mempercayai apa yang didengar secara turun-temurun yang menyebut danau berasal dari pohon ara. Konon, di tengah daerah yang kini menjadi danau itu adalah tempat tumbuh pohon ara yang sangat besar berwarna hitam.


Suatu ketika, daerah itu terjadi kekeringan panjang dan penduduk kesulitan air. Masyarakat dari berbagai daerah seperti Ogan, Krui, Libahhaji, Muaradua, dan Komering, berkumpul di sekitar pohon ara. 

Kemudian diperoleh kabar (mungkin semacam wangsit),  jika ingin mendapatkan air, warga harus menebang pohon ara itu. Beberapa waktu kemudian, penduduk kembali berkumpul di tempat yang sama dengan membawa makanan seperti sagon, kerak nasi, dan makanan lainnya.


Masyarakat sudah sepakat untuk menebang pohon ara itu. Namun, saat akan menebang, mereka tidak tahu cara memotongnya karena ukuran pohon yang sangat besar. Tidak alat yang memadai untuk digunakan menebang pohon sebesar itu.

Saat belum ditemukan jalan keluar, tiba-tiba muncul burung di puncak pohon dan meminta masyarakat membuat alat berbentuk mirip kaki manusia. Menggunakan bahan batu dengan pegangan kayu, alat itu dibuat seperti saran burung. 


Singkat cerita, pohon ara pun akhirnya tumbang. Dari lubang bekas pohon ara itu keluar air dan akhirnya meluas hingga membentuk danau. Sementara pohon ara yang melintang kemudian membentuk Gunung Seminung. 

Karena marah, jin di Gunung Pesagi meludah hingga membuat air panas di dekat Danau Ranau. Sedangkan serpihan batu dan tanah akibat tumbangnya pohon ara menjadi bukit di sekeliling danau.

Apapun kisahnya, persona Danau Ranau selalu mengundang rindu untuk kembali mengunjungi. 
(mf/nad/imr)