PARIWISATA
Pantai Watu Dodol, Banyuwangi. (polindonetwork/ist)
24/2/2016 21:49:07
2885

Kembangkan Pariwisata, Belajarlah ke Banyuwangi

Harianlampung.com - Ingin mengembangkan pariwisata? Datanglah ke Banyuwangi, Jawa Timur, dan belajar cara kabupaten berpenduduk dua juta orang ini meningkatkan kehadiran wisatawan domestik dan mancanegara.

Kesuksesan pembangunan pariwisata daerah yang berada di ujung timur Pulau Jawa itu, bukan hanya diakui secara nasional, tetapi juga memperoleh penghargaan dari badan dunia.

"Banyuwangi itu contoh konkret, CEO-nya (baca: Bupati), menempatkan pariwisata sebagai lokomotif daerahnya. Hasilnya, 1,5 juta wisnus, 30 ribu wisman,  datang ke Banyuwangi," kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam siaran persnya kepada harianlampung,com, Rabu (24/2).

Alokasi sumber daya manusia (SDM), dan budgeting APBD-nya fokus menggarap pariwisata. Mereka memanfaatkan perjalanan wisatawan dari Jawa ke Bali dan sebaliknya. Mereka suguhkan atraksi yang `memaksa` pikiran orang untuk singgah satu atau dua hari dari dan menuju Bali.

“UN-WTO (United Nation World Tourism Organization) atau lembaga PBB yang bergerak di bidang pariwisata menganugerahkan penghargaan khusus buat usaha keras dan konsisten Banyuwangi," ujar Arief Yahya.

Menurut Menpar, itu kebanggaan. Semua bisa belajar dari kisah sukses kota kecil ini, bagaimana membangun mimpi dan mewujudkannya.

Semua berawal dari pemimpin Banyuwangi, yaitu Bupati H Abdullah Azwar Anas. Sang bupati berani tampil beda, membuat terobosan untuk menaikan taraf hidup dan kesejahteraan warga dari pariwisata.

Sebagai pemimpin, Bupati H Abdullah berpikir futuristik, mengedepankan investasi jangka panjang, dan konsisten.

"Penghargaan dari badan urusan pariwisata PBB itu mahal. Kami punya kewajiban menunjukkan pada dunia bahwa Banyuwangi layak mendapatkannya," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, MY Bramuda.

Banyuwangi paling getol menggelar festival pariwisata, dan dikelola dengan baik. Tahun 2016, misalnya, akan ada lebih 35 festival.

"Bahkan bisa mencapai 40 atau 45, karena tergantung pelaku tradisi dan budaya lokal," kata Bramuda.

Gelaran paling diandalkan adalah Banyuwangi Festival, yang menawarkan sejuta pesona; mulai dari seni dan budaya, olahraga dan pariwisata, sampai kearifan lokal yang dikemas kreatif.

"Banyuwangi Festival tidak hanya untuk promosi pariwisata, tapi juga untuk memaksimalkan potensi daerah dan memberikan semangat kepada masyarakat untuk bersama-sama membangun daerah," kata Bramuda.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi membagi ke dalam tiga kelas festival. Ada festival internasional, nasional, dan lokal.

"Festival internasional akan mengundang banyak negara dari berbagai belahan dunia. Salah satunya International Tour de Banyuwangi Ijen. Untuk nasional ada, Banyuwangi Batik Festival. Lokalnya; Banyuwangi Ethno Carnival," demikian Bramuda.

Festival juga akan menampilkan berbagai atraksi wisata terbaru di antaranya Green and Recycle Fashion Week, Festival Buah Lokal, Festival Kuliner Sego Tempong, Festival Permainan Anak Tradisional, Banyuwangi Kite Festival, Festival Perkusi dan Lare-lare Orkestra dan Kite and Wind Surf Competition.

Banyaknya festival itu menjadi berkah bagi pengelola wisata. Wisatawan mulai berdatangan ke kabupaten berjuluk Sunrise of Java itu.

Sepanjang Januari 2016, Banyuwangi kewalahan melayani pengunjung yang menembus angka 1.000 orang. Mayoritas memesan paket menyelam untuk menyaksikan terumbu karang, naik banana boat, dan melihat ikan hiu.

"Kami benar-benar kewalahan menyediakan pelampung dan alat snorkeling," kata Ikhwan Arief, Bangsring Under Water.
(mfn)