PARIWISATA
Tugu Selamat Datang Pringsewu (sulistiyo/harlam)
04/2/2015 18:38:59
11474

Yuk Jalan-jalan Lihat Talang Air Raksasa dan Sawah Subak di Pringsewu

Harianlampung.com - Bosan menikmati wisata alam pegunungan, air terjun, sungai, pantai dan hiburan, datang saja ke Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Di sini ada jenis wisata lain yang tak kalah menarik.

Di kabupaten yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Bandarlampung ini, anda bisa mendapati perpaduan wisata sejarah dan agrowisata sekaligus.        

Secara harfiah, nama Pringsewu berasal dari bahasa Jawa yang berarti bambu seribu (Pring=bambu dan Sewu= seribu). Mayoritas penduduk Kabupaten Pringsewu memang berasal dari Pulau Jawa. Penduduk dari Pulau Jawa datang ke daerah ini melalui program Kolonisasi Pemerintah Kolonial Belanda pada sekitar tahun 1925.

Saat itu wilayah Pringsewu merupakan lokasi hutan bambu. Oleh pendatang dari Pulau Jawa, areal hutan bambu yang luas itu dibuka untuk dijadikan lahan pemukiman dan pertanian. Selanjutnya hutan bambu yang telah berubah menjadi pemukiman dan lahan perntanian tersebut diberi nama Pringsewu yang artinya bambu seribu.

Keunikan lain yang dapat kita temui di Kabupaten Pringsewu adalah nama-nama desa dan kecamatan. Sebagian besar nama desa dan kecamatan di Kabupaten ini menggunakan nama-nama daerah di Pulau Jawa, seperti Klaten, Ambarawa, Banyumas, Sukoharjo dan lain sebagainya. Nama-nama itu memang digunakan sesuai dengan asal penduduknya.

Seiring berjalannya waktu, Pemerintah Kolonial Belanda menilai wilayah Pringsewu sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sentra pertanian di wilayah Lampung. Namun secara  geografis, lokasi lahan-lahan pertanian di Pringsewu sulit untuk mendapatkan pengairan  yang maksimal. Sebagian besar lahan pertanian (sawah) penduduk Pringsewu berada dilerang  perbukitan.  Sementara aliran sungai yang akan dijadikan sumber irigasi letaknya berada di bawah perbukitan. Kondisi ini membuat suplai air ke lahan pertanian penduduk sulit dilakukan secara normal.


Belanda yang memang terkenal dengan teknologi sistem pangairan, akhirnya berinisiatif membangun sejumlah talang air pada sekitar tahun 1937.  Talang Air ini berfungsi sebagai penyuplai air ke lahan pertanian warga dari satu bukit ke bukit lainya. Talang air ini berbentuk setengah lingkaran seperti drum di belah dua dengan dimeter sekitar 3 meter. Talang air ini membentang di ketinggian 15 sampai 25 meter dari satu bukit ke bukit lainnya, ditopang sejumlah tiang besi seukuran tiang kabel telpon. Tiang-tiang penyagga itu ditanam dalam pondasi beton yang kokoh.

Panjang talang air ini bervarias, mulai dari 75 sampai 150 meter. Bagian atas talang ditutupi dengan bilah-bilah besi berukurun sekitar 15 centi meter. Jarak antar bilah besi satu dan lainnya mencapai sekitar 10 centi meter. Selain sebagai penutup talang air, bilah-bilah besi itu juga berfungsi sebagai lantai jembatan yang digunakan penduduk untuk menyeberang dari satu bukit ke bukit lainnya. Bagian bawah talang yang berbentuk setengah lingkaran (drum di belah dua) merupakan tempat mengalirnya air yang akan didistribusikan ke lahan pertanian warga.


Saat ini ada lima unit talang air yang masih difungisikan sebagaimana mestinya. Empat talang air berada di wilayah Kecamatan Pringsewu,  dua  di Pekon (desa) Bumiayu dan dua lainnya di Kelurahan Fajaresuk. Satu Talang lagi berada di Pekon Bumiratu, Kecamatan Pagelaran. Jarak antara satu talang dan talang lainnya sekitar 1 hingga 2,5 kilometer atau dalam radius 4 kilometer. "Sembilan puluh persen material bangunan talang ini masih asli peninggalan Belanda.  Hanya lantai jembatannya saja yang diganti. Tadinya kayu, sekarang diganti dengan bilah besi," ungkap Joko (40) salah satu warga Pekon Bumiayu pada harianlampung.com.     

Selain tetap difungsikan sebagai sarana penyuplai air dan jembatan penghubung transportasi warga,  saat ini keberadaan talang air raksasa peninggalan Belanda tersebut juga dijadikan sarana wisata  bagi masyarakat. Kebanyakan pengunjung merasa kagum dengan keunikan bangunan peninggalan Belanda itu.


Suasana alam pedesaan dengan hamparan sawah dan perkebunan di bawah talang air tersbut, menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung yang datang. Bagi yang hobi fotografi, landscape di sekitar talang cocok sekali untuk lokasi pengambilan gambar lewat jepretan kamera. "Banyak masyarakat yang berwisata ke talang ini, terutama kalau hari libur. Biasanya pengunjung mencoba merasakan sensasi berjalan di atas talang yang membentang di ketinggian 15 sampai 25 meter, kemudian mereka berfoto dengan latar belakang pemandangan sawah dan perbukitan," terang Joko.

Untuk menuju lokasi talang air ini sangat mudah, bisa dicapai dengan sepeda motor atau mobil. Dari pusat Kota Pringsewu jaraknya hanya 1 kilometer melalui Jalan Lintas Barat Sumatera menuju simpang Kelurahan Fajaresuk. Selain itu pengunjung juga bisa menggunakan jalur alternatif menuju lokasi talang air ini melalui Pekon Podorejo dan Bumiarum, Kecamatan Pringsewu.

Pengunjung yang datang tidak dipungut biaya tiket. Cukup membayar restribusi parkir kendaraan yang dikelola penduduk setempat, kita dapat menikmati wisata sejarah dan agrowisata alam pedesaan sepuasnya. Memang lokasi wisata ini belum dikelola secar resmi. Belum ada fasiltas yang memadai bagi pengunjung yang datang. Semua masih serba alami.

Tidak jauh dari lokasi talang, pengunjung juga bisa menikmati lokasi wisata rohani yang dikenal dengan nama Goa Maria. Goa ini dijadikan tempat skaral oleh umat Katolik dari berbagai daerah. "Kalau yang datang ke Goa Maria ini, bukan saja dari Lampung, banyak juga dari Pulau Jawa," kata Joko.


Bukan hanya Talang Air dan Goa Maria yang bisa kita temui di sekitar wilayah ini, pengunjung juga dapat melihat langsung panorama lahan persawahan bersusun atau yang dikenal dengan istilah sawah subak seperti yang ada di Pulau Dewata Bali.        

Warga berharap, Pemkab Pringsewu dapat mengembangkan lokasi talang air ini menjadi obyek wisata yang lebih baik lagi. "Kami sih maunya dikembangkan jadi obyek wisata, terutama jalan menuju talang ini dilebarkan. Jalan ini sempit sekali, hanya bisa dilalui satu mobil dari satu arah saja. Jadi kalau ada mobil yang mau masuk lokasi atau keluar secara bersamaan, ya harus bergiliran," terang Suparno salah seorang warga setempat.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pringsewu Jatiwan mengaku tidak tahu persis sejarah berdirinya kelima talang air tersebut. ”Yang jelas bangunan itu peninggalan jaman Belanda dan tiang-tiang penyangganya masih tetap berdiri kokoh,” kata Jatiwan pada harianlampung.com.


Dia melanjutkan, untuk bagian atas, baik belahan tabung dan pijakan serta pagarnya sudah beberapa kali dilakukan renovasi. ”Dulu pijakannya bukan bilah besi seperti sekarang, tapi dari bahan  papan spanel yang panjangnya 1,2 meter, lebar 30 centi meter dan tebal 7 centi meter,” jelasnya. Seiring berjalannya waktu, papan spanel itu rusak dan diganti dengan bilah-bilah besi.

Jatiwan menerangkan, sumber air yang disuplai melalui talang tersebut berasal dari hulu Sungai Way Napal, di Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus. Sebelum masuk ke talang, aliran air sungai Way Napal ditampung di bendungan Pekon Gumukmas, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu.

Dari Bendungan Gumukmas, air dinaikkan kealiran Sungai Way Tebu III, hingga terus merayap ke talang 1 di Pekon Bumiratu Kecamatan Pagelaran. Selanjutnya suplai air dibagi lagi ke talang  di perbukitan Pekon Bumiayu dan di perbukitan Kelurahan Fajaresuk, Kecamatan Pringsewu. ”Berdasarkan catatan kami,  ke lima talang air itu mampu mengairi lahan pertanian seluas sekitar 5 ribu hektar di wilayah tersebut," terangnya.

Jika saja pemkab setempat lebih serius memaksimalkan pengembangan potensi wisata ini, bukan tidak mungkin Pringsewu akan menjadi salah satu destinasi wisata unggulan, khususnya agrowisata di Provinsi Lampung .
(Suslistiyo/mnz /eh)