PARIWISATA
Tugu Bendungan Batu Tegi (iqbal/harlam)
19/4/2015 18:15:36
34634

Batu Tegi Potensi Wisata yang Hening dari Promosi

Harianlampung.com - Batu Tegi. Mungkin banyak yang asing dengan nama itu, terutama bagi orang dari luar Provinsi Lampung. Masyarakat Lampung pun, ternyata banyak yang belum mengetahui, nama apakah Batu Tegi itu?

Dalam Bahasa Lampung, secara harfiah Batu Tegi bisa diartikan sebagai Batu Tegak. Namun bukan arti kata Batu Tegi yang akan harianlampung.com bahas dalam kesempatan ini.

Batu Tegi adalah nama sebuah bendungan raksasa yang menjadi salah satu obyek wisata unggulan di Provinsi Lampung. Konon bendungan ini yang terbesar di Asia Tenggara. Luas genangan airnya saja, mencapai lebih dari 16 kilometer persegi.

Secara administrasi kepemerintahan, lokasi Bendungan Batu Tegi  berada di wilayah Kecamatan Airnaningan, Kabupaten Tanggamus.

Dari Kota Bandarlampung, bendungan ini berjarak lebih kurang 80 kilometer ke arah barat. Waktu tempuhnya sekitar 2 jam perjalanan menggunakan mobil atau sepeda motor.

Untuk mencapai lokasi Bendungan Batu Tegi, dari Kota Bandarlampung, kita harus menuju Kecamatan Talangpadang melalui Jalan Lintas Barat Sumatera dengan waktu tempuh sekitar 90 menit. Kondisi jalan cukup mulus dengan arus lalu lintas sedikit padat pada beberapa titik.

Lebih kurang 500 meter sebelum Pasar Kecamatan Talangpadang, kita akan sampai di sebuah pertigaan jalan. Tempat ini populer dengan sebutan Simpang Kecamatan Pulaupanggung.

Di pertigaan jalan itu, berdiri sebuah plang besar bertuliskan Bendungan Batu Tegi, lengkap dengan petunjuk arah dan keterangan jarak lebih kurang 20 kilometer. Dari tempat ini, hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai lokasi Bendungan Batu Tegi.

Setelah melintasi Pasar Kecamatan Pulaupanggung, kita akan sampai di sebuah Gapura Besar berornamen tradisional Lampung bertuliskan Selamat Datang di Bendungan Batu Tegi. Gapura ini, sekaligus menandai, kita sudah memasuki wilayah Kecamatan Airnaningin.

Kondisi aspal jalan yang mulus, menanjak, menurun dan berkelok, dihiasi hamparan perkebunan penduduk dengan hembusan udara segar nan lembut, niscaya menciptakan perasaan berbeda bagi yang biasa hidup di tengah hiruk pikuk suasana perkotaan.

Sampai di pintu gerbang Bendungan Batu Tegi, pengunjung akan dikenakan tiket masuk Rp3 ribu per orang.

Petugas penjual tiket dengan ramah akan menunjukkan arah lokasi kawasan bendungan yang biasa dikunjungi wisatawan. Ada beberapa lokasi yang biasa dikunjungi para pelancong di kawasan ini. Tapi yang menjadi favorit yakni, lokasi DAM (bendungan) dan dermaga.

"Kalau mau ke dermaga, menanjak ke kiri. Bendungan, terus saja turun ke bawah, tapi kalau turun ke kanan itu, ke PLTA," kata seorang petugas tiket pada tim harianlampung.com.

Jarum jam yang menunjukkan pukul 16.30 WIB, membuat kami memutuskan memilih opsi kedua yang dikatakan petugas penjual tiket tadi yakni, lokasi bendungan atau DAM. Lokasi DAM dari pintu gerbang penjualan tiket memang tidak terlalu jauh, sekitar 1 kilometer dengan kondisi jalan berkelok menurun.

Hamparan hutan membentang di sisi jalan aspal yang melingkari lereng perbukitan menuju lokasi DAM Batu Tegi. Sekitar 200 meter sebelum lokasi DAM, dari sisi jalan terhampar pemandangan ngarai yang terbentang membelah bukit.

Di dasar ngarai tampak aliran sungai berkelok mengikuti celah perbukitan. Bagi yang hobi fotografi, landscape (pemandangan) alam di lokasi ini memang cocok sekali diabadikan lewat bidikan kamera.

Di ujung atas aliran sungai itu, berdiri bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sumber tenaga utama penggerak generator PLTA tersebut berasal dari air Bendungan Batu Tegi. Konon, PLTA ini dapat menghasilkan daya listrik berkapasitas total mencapai 125,2 Giga Watt per tahun.

Di lokasi DAM, memang belum ada fasilitas penunjang wisata yang memadai, hanya tersedia lahan parkir yang bisa menampung sekitar 20 mobil. Selain fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) yang terkesan kurang terawat,  di sekitar lahan parkir ini berdiri beberapa lapak tenda kecil milik penduduk sekitar yang menjual makanan dan minuman ringan untuk para pengunjung. Dari tempat ini, untuk mencapai  lokasi DAM, pengunjung harus melapor pada petugas di pos jaga. Petugas akan memberikan beberapa arahan dan aturan yang wajib dipatuhi pengunjung saat berada di lokasi DAM. Aturan yang wajib dipatuhi pengunjung diantaranya, tidak boleh menaiki dinding pembatasan DAM dan turun ke danau.

Bentuk DAM Batu Tegi mirip bangunan tembok besar dengan panjang mencapai 690 meter dan tinggi sekitar 10 meter dari atas permukaan air danau. Lebar bagian atas yang berupa jalan beraspal mencapai 5 meter.

Dari atas DAM ini, kita dapat menyaksikan genangan air Bendungan Batu Tegi yang terhampar menyerupai danau raksasa dikelilingi perbukitan. Danau buatan terluas di Asia Tenggara ini berasal dari aliran Way (sungai) Sekampung dan Way Seputih. Konon aliran air dari kedua sungai ini dibendung, hingga menenggelamkan sejumlah bukit di kawasan itu dan menjadi genangan air menyerupai danau seluas 16 juta kilometer persegi .

Dalam kondisi normal, volume air Bendungan Batu Tegi mencapai 687,767 juta meter kubik . Saat banjir, volumenya meningkat menjadi 859,827 juta meter kubik. Bendungan ini diresmikan Presiden RI ke 5, Megawati Soekarno Putri pada tanggal 8 Maret 2004.

Di ujung bangunan DAM,  terdapat liang (lubang) besar.  Lebar liang tersebut mencapai sekitar 30 meter. Dari liang inilah air Bendungan Batu Tegi mengalir deras bak air terjun memasuki terowongan besar untuk menggerakan generator PLTA di bagian bawah DAM. Tak jauh dari liang air terjun, berdiri sebuah monumen bertuliskan nama-nama korban tewas saat proses pembangunan. Ada  tiga belas nama pekerja yang tewas dan diabadikan pada monumen tersebut .


Sulit memang untuk menggambarkan keindahan Bendungan Batu Tegi dengan katak-kata. Di tempat ini, kita hanya dapat merasakan, betapa kecilnya di hadapan Sang Pencipta. 

Luasnya hamparan genangan air Bendunga Batu Tegi memang hasil rekayasa manusia yang mengundang decak kagum siapa pun yang datang ke tempat ini.  Jika hasil rekayasa manusia saja membuat kita takjub, bagiamana dengan ciptaan Tuhan yang telah menganugerahkan fenomena alam sedemikian rupa.



Kesunyian dan keindahan Batu Tegi memang mampu menyadarkan kita dari segala kesombongan yang selama ini menggelayut di lubuk hati. Batu Tegi memang sebuah potensi besar yang tersembunyi. Keindahannya tertutup dalam heningnya promosi wisata dari pemerintah daerah setempat. (iqbal/mnz/eh)