GAGASAN
Yusuf Yazid (pin/dok)
17/12/2016 14:26:48
379

Catatan Musdalub: Puzzle Menyatukan Aset

Harianlampung.com - Sejak pagi, aroma berwarna Kuning begitu terasa di kawasan Hotel Sheraton Bandar Lampung. Diberbagai sudut terlihat beragam kesibukan. Ada individu yang giat menata karangan bunga, juga terlihat kesibukan aparat kepolisian. Mereka mengambil posisi di berbagai sudut taman, di lobby,dan disekitar ruang pertemuan. Ada yang berseragam kedinasan,ada yang mengenakan pakaian sipil keseharian,bahkan ada yang mengenakan atribut partai.

Menjelang pukul 09.00 WIB, kader-kader partai mulai berdatangan. Memang hajat partai pada hari ini sesuatu yang luar biasa. Maklum, Tajuknya pun Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) DPD I Partai Golkar (PG) Provinsi Lampung. Suasana “tegang” begitu terasa,baik didalam ruang acara, maupun di lobby. Beberapa kader partai saling berkelompok,ada yang berbincang serius hingga saling bersenda gurau. Warna kuning,kuning loreng,dan merah bersanding dalam ruangan.

Suasana tegang memuncak, ketika Alzier Dianis Thabrani (ADT) datang dan langsung masuk di ruangan, dimana acara Musdalub akan dilangsungkan. Banyak peserta bahkan petinggi partai yang terkesima. Mereka tidak menyangka ADT akan hadir di acara Musdalub, mengenakan jaket berwarna merah pula, bukan kuning. Dalam kapasitas apa ADT hadir? Undangankah? Pesertakah?

Seperti biasa, gaya komunikasi ADT yang ceplas-ceplos tetap tak berubah. Ada peserta disapa dengan guyonan tajam dan menukik, ada yang disapa dengan gaya berpelukan disertai cipika-cipiki. Lakon politik yang disuguhkan ADT dalam ruangan acara, menjadi bumbu yang melahirkan beragam tanda tanya, hingga acara memasuki Ishoma, pukul 12.00 WIB.

Usai Ishoma, berbagai tahapan acara berlangsung secara mulus. Arinal Djunaidi (AD) terpilih secara aklamasi. Ketegangan kembali memuncak, ketika memasuki tahapan pemilihan formatur, untuk mendampingi ketua terpilih yang sekaligus menjadi ketua formatur.

Mengapa suasana menjadi demikian? Sebagian politisi di Lampung, baik dari kalangan internal atau eksternal, selama ini kerab merasa paham sekali membaca gaya politik  ADT. Padahal mereka hanya sebatas mengetahui yang tampak dipermukaan saja. Tidak mengerti esensi yang sebenarnya. Stigma pikiran yang demikianlah, kemudian menjadi bumbu tokcer yang menular, sehingga muncul rasa tegang di arena Musdalub.

Tentu saja hal demikian beralasan – berdasarkan pengetahuan di permukaan, Musdalub kali ini terjadi karena posisi ADT,sebagai Ketua DPD I PG Lampung ditanggalkan secara sepihak oleh DPP Partai Golkar dan akan dicarikan pengganti melalui forum Musdalub kali ini.

Padahal, ketegangan yang terjadi, sepatutnya tidak perlu dirasakan, bila jauh hari sebelum acara Musdalub dilangsungkan, sudah mendapatkan informasi valid, bahwa Arinal Djunaidi (AD) akan menggantikan ADT sebagai Ketua DPD I PG Lampung. Dan itu sudah final dan mengikat.

Nah, prilaku politisi PG Lampung dalam bentangan waktu, sejak ADT di Plt-kan hingga H-3 Musdalub dilangsungkan, sebenarnya yang menjadi biang kerok lahirnya suasana tegang.

Itulah yang menyebabkan terlihatnya suasana kontras di arena. Ada politisi,baik yang di Lampung ataupun dari DPP terlihat santai dan ketawa-ketiwi, ketika duduk di lobby bersama AD dan ADT. Sebab pada H-3, pasca forum “penelanjangan” DPD II di Jakarta, suasana sudah berubah menjadi senda gurau.  Semua dalam keakraban, demi membangun partai di masa mendatang.

Jadi, ketegangan dan rasa was-was yang dialami sebagian kader, hingga tulisan ini diturunkan, merupakan akibat dari ulah dan prilaku-prilaku politik mereka sendiri,sebelum Musdalub dilaksanakan. Mereka lebih mengedepankan sikap-sikap pragmatis. Bukan dalam perspektif membangun partai, tapi sebatas ingin membangun birahi kepentingan-kepentingan pribadi semata. Dan semua ini tercatat dengan terang benderang, baik oleh AD maupun ADT,pun oleh DPP. Sehingga kian memudahkan untuk merangkai gerbong partai di era mendatang,khususnya di Lampung.

Rasa galau akan terus bergelayut dibenak banyak politisi, hingga dirumuskannya secara final komposisi pengurus DPD I PG Lampung dan disyahkan melalui SK DPP. Bukan apa-apa, ADT yang menjadi salah satu formatur, sangat mengetahui secara persis, mana kader partai yang menganut paham pragmatisme. Dimana tujuannya hanya sebatas ingin membangun birahi kepentingan-kepentingan pribadi,dan mana kader yang benar-benar loyal untuk membangun partai. Juga mana kader yang setengah-setengah.

Dan, AD yang akan menjadi nakhoda dimasa mendatang,berkomitmen menjalankan roda organisasi secara professional,melalui berbagai program, baik ditingkat I hingga tingkat desa, demi kejayaan Partai Golkar. Cita-cita ini tidak pernah akan tercapai, manakala the dreamteam DPD I PG Lampung masih dipenuhi oleh fungsionaris yang berurat dan berakar dalam gerak pragmatisme.

Tekad AD tampaknya memang menjadi tujuan partai. Ibarat botol bertemu tutupnya, tekad ini sejalan dan sepemahaman dengan apa yang selama ini menjadi cita-cita Ketua DPD sebelumnya, ADT.

Jadi, kesamaan tekad dan cita-cita untuk mengusung panji Partai Golkar agar lebih Berjaya, merupakan perekat antara AD dan ADT dalam arena Musdalub kemarin. Bukan yang lain. Semua ini bisa terealisasi secara baik, tak lepas dari peran fungsionaris DPP. Sebab DPP lah yang menjadi penanggungjawan dan penyelenggara Musdalub.

Didalam permainan, selalu ada permainan. Jangan bermain,bila tak mampu mengendalikan permainan hingga usai.
(Yusuf Yazid)