GAGASAN
Yusuf Yazid (pin/dok)
05/1/2017 11:41:10
0
183

Saatnya Musim Menepati Janji

Harianlampung.com - Secara nasional, tahun 2017 akan dihiasi adanya Pilkada serentak, baik untuk memilih Gubernur,Bupati,ataupun Walikota.  Begitu juga tahun berikutnya, akan terjadi peristiwa yang sama. Lantas di tahun 2019, pesta akbar demokrasi, Pilpres dan Pileg,juga akan digelar. Berbagai pihak sudah sibuk mengatur strategi dan taktik menghadapi pesta demokrasi tersebut.

Tahun 2017, menjadi titik awal adanya pesta demokrasi. Era tahun politik dimulai. Diseluruh penjuru tanah air akan muncul ratusan ribu spanduk, kaos, topi, kalender, stiker, iklan media massa, yang ditingkahi dengan jargon-jargon untuk memikat hati rakyat. Triliunan rupiah akan tersedot guna memeriahkan kegiatan ini.

Secara merata akan muncul “Musim Berjanji”. Banyak calon gubernur, bupati,walikota,anggota legislatif berjibaku menawarkan beragam janji-janji kepada masyarakat. Janji-janji yang akan ditepati manakala berhasil meraih posisi yang diperebutkan. Begitu juga yang terjadi pada calon presiden. Dijamin, janji itu intinya merupakan tekad untuk memperjuangkan aspirasi dan kehidupan rakyat.

Membuat janji dalam kampanye, tentu bukan hal yang asing lagi bagi rakyat. Namun kini, dihati rakyat ada penyakit apatis. Sebab, janji-janji sebelumnya masih belum sepenuhnya direalisir oleh mereka yang dulu berjanji. Mudah-mudahan, pada pesta demokrasi nanti, rakyat tak terkecoh lagi.

Situasi rakyat yang demikian, bukan tak diketahui oleh para pengumbar janji. Karena itu, semua partai peserta pemilu mengambil aksi untuk menatar para kadernya tentang kiat mengambil hati pemilih. Memang beragam cara bisa dipergunakan.

Soalnya kemudian, janji-janji apa yang akan ditawarkan kepada rakyat? Janji membenahi perekonomian? Janji memberantas korupsi? Janji menegakkan demokrasi secara benar? Janji menegakkan hukum secara kokoh? Janji mengatasi pengangguran? Toh semua janji-janji ini sudah sejak lama diucapkan pada kampanye sebelumnya. Bahkan ada yang dimasukkan menjadi flatform partai. Nyatanya?

Nah, setidaknya kini para “pengumbar” janji sudah berlatih intonasi dan cara tampil di depan publik. Tentu dimulai dari dalam kamar mandi dan dihadapan cermin. Disinilah titik awal “ Musim Berjanji” mulai ditebar.

Kondisi yang demikian, antara pemilih dan yang akan akan dipilih, sekaligus membuktikan bahwa belum ada simpatisan partai yang fanatik. Istilah politikinya floating mass. Bisa memilih yang mana saja. Untuk itu, seperti yang dikatakan Sharon Jordan-Evans, penulis buku “Em or Lose Em, Getting Good People to Stay, untuk menjadi pelanggan yang sempurna, sekaligus mempertahankan mereka ditengah persaingan yang ketat, maka diperlukan komitmen yang berkelanjutan tentang produk yang dijual. Jadi bukan hanya sebatas untuk menarik pemilih saja, setelah itu tak dihiraukan.

Dalam kekinian, bagi rakyat pemilih, sebelum menjatuhkan pilihan,wajib meyakini bahwa kandidat yang dipilih, setelah duduk di kursi yang diinginkan, akan mampu mengubah “Musim Berjanji” menjadi “Musim Menepati Janji”.
(Yusuf Yazid)
Komentar (0)
Belum ada komentar
Silakan tulis komentar Anda. Bagian yang bertanda * harus diisi