GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
25/4/2017 22:48:04
376

Angin Pilgub Kian Kencang

Harianlampung.com - Di tahun 2018, gelombang Pilkada serentak kembali melanda Indonesia. Bila Komisi Pemilihan Umum (KPU) berhasil membuahkan keputusan konkrit, maka 27 Juni 2018 merupakan hari pencoblosan. Sehingga tahapan Pilkada 2018 akan dimulai pada Agustus 2017.

Kali ini, ada 171 daerah yang menggelar Pilkada. Pada tingkat provinsi, ada 17 daerah, ditingkat kota ada 39, dan di tingkat kabupaten ada 115. Di Lampung, selain pemilihan gubernur (Pilgub) juga ada dua pemilihan bupati (pilbup), Kabupaten Tanggamus dan Lampung Utara.

Menariknya, pada Pilgub Lampung dan Pilbup Lampung Utara, petahana kembali masuk dalam arena kompetisi. Sementara Tanggamus, kini dipimpin Plt yang sebelumnya wakil bupati petahana, belum terdengar apakah ingin turut dalam ajang kompetisi.

Entah jenis angin yang mana, laut atau darat, hembusan dinamika Pilgub Lampung kian terasa kencang. Pola menjaring pendapat masyarakat untuk kandidat-kandidat yang dinominasikan, baik dilakukan melalui media massa konvensional ataupun media massa kekinian berbasis IT sudah menyusup dalam relung prilaku masyarakat. Ada yang dilatarbelakangi bisnis,misalnya pulsa, ada juga yang rada politik untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas kandidat unggulan.

Mengapa tentang popularitas dan elektabilitas menjadi begitu penting? Toh pada awal Pilkada langsung diterapkan, kedua soal ini tidak menjadi perbincangan? Disinilah letak kecanggihan proses menularnya strategi bisnis ilmu pengetahuan yang bernama survey. Hampir-hampir tidak ada partai politik (parpol) yang tak tertular. Dalam menentukan kandidat, parpol merujuk hasil survey.

Sedikit berbelok soal hasil survey, sebuah contoh konkrit yang berlawanan dengan hasil analisis keilmuan itu, dapat kita saksikan proses terpentalnya Hillary. Semua lembaga survey,termasuk yang dilakukan media massa terkenal,tumbang bersama kegagalan Hillary. Trump yang sama sekali tidak diunggulkan, mampu mendepak Hillary untuk meraih kursi Presiden Amerika Serikat. Begitu juga yang terjadi di DKI Jakarta, Basuki T Purnama – Djarot yang memiliki tingkat elektabilitas dan popularitas melampaui Anis – Sandi, juga tumbang untuk meraih kursi Gubernur.

Bisa jadi, hembusan angin yang kian kencang pada tiga bulan terakhir, yang memunculkan kandidat-kandidat calon gubernur (cagub) tertular virus bisnis survey tadi. Menaikkan popularitas dan elektabilitas. Merajut trend sebelum dan sesudah ditangani lembaga survey.

Hingga tulisan ini diturunkan dalam perjalanan antara Jakarta – Puncak, hembusan angin tadi, telah mengibarkan enam sosok kandidat menuju ruang publik. M Ridho Ficardo, gubernur petahana, Mustafa,bupati Lampung Tengah, Herman HN, walikota Bandar Lampung, Ike Edwin, mantan Kapolda Lampung, Alzier Dianis Tabrani, mantan Ketua DPD I Partai Golkar Lampung dan Arinal Djunaidi, Ketua DPD I Partai Golkar Lampung.

Yang menarik, tampilnya jejeran para kandidat diatas, ada yang menggunakan terompet parpol bukan dimana tempat mereka bernaung dan melalui kelompok masyarakat yang biasa dilabel Relawan. Hanya Arinal Djunaidi yang diminta maju dalam Pilgub yang disuarakan langsung oleh kader dan infrastruktur partainya. Sementara Ridho, Herman,  Mustafa  disuarakan Partai Keadilan Sejahtera dan Gerindra. Selain Mustafa yang juga digadang-gadang oleh para relawan, Alzier dan Ike pun demikian. Ada desakan dan dukungan dari relawan.

“Bila rakyat Lampung mendukung dan menghendaki untuk maju, kami tidak bisa menolak. Bismillah,” kira-kira itu tagline para kandidat untuk kondisi hari ini.

Padahal, sudah menjadi rahasia umum, ada proses yang tak bisa ditinggalkan untuk menjadi calon gubernur. Selain dikehendaki masyarakat (jalur perseorangan), faktor dikehendaki parpol yang akan jadi kendaraan, tampaknya yang lebih dominan.

Merebut hati parpol memang tidak mudah, juga tidak sulit. Sepanjang tarikan garis-garis politik yang dimiliki cagub jelas dan terang warnanya. Biasanya, agar dipinang parpol, selain faktor ideologi, faktor kesiapan logistik untuk membiayai pesta demokrasi, menjadi faktor kunci. Pada segmen pinang-meminang inilah kemudian kerap muncul rasa kecewa.

Mengungkit soal sumber biaya menghadapi pesta demokrasi, di Lampung biasa disebut Bandar. Nah soal Bandar ini, dalam beberapa acara pesta demokrasi sudah ada yang dikenal dan terkenal mampu menanggulangi. Kandidat cagub tinggal memperganteng diri, agar Bandar berkenan dan jatuh hati.

Sehingga Popularitas, Elektabilitas, Kandidat, Parpol, dan Bandar menjadi sebuah rangkaian penting dalam menghadapi pesta demokrasi. Satu sama lain sulit untuk dipisahkan, walaupun proses keberhasilannya ada di tangan rakyat.

Untuk mempertemukan dan menyatukan kesepakatan dalam sebuah meja, antara parpol dan Bandar, arti penting popularitas, elektabilitas kandidat yang merujuk atas hasil survey, menjadi faktor kunci. Itulah kemudian memicu kencangnya tiupan angin Pilgub Lampung saat ini.

Pada tahap awal, Pasukan Hore- Hore (PHH) mulai dikerahkan. Media massa diajak untuk melakukan pemihakan. Lebih jauh lagi, guna meningkatkan popularitas dan elektabilitas, digunakan cara menggerogoti  popularitas dan elektabilitas pesaing.

Bila ruang publik mulai dihiasi oleh angin puja-puji dan angin hantam-menghantam. Apalagi instrumen hukum akan digunakan sebagai alat tekan. Pola mendegradasi ketokohan kandidat dengan ujug-ujug, tidak akan berdampak signifikan untuk meraih hati pemilih. Rakyat Lampung tentu memahami prilaku semacam ini. Rakyat tidak akan kerokan, karena tak masuk angin. Mereka bisa menilai, bisa merasakan sebelum diambilnya sebuah keputusan di bilik suara pada Pilgub mendatang.

 
(Yusuf Yazid)