GAGASAN
Iqbal Hidayat. (harlam/dok)
08/5/2017 23:11:06
309

Sintal, Melahirkan Para Pengkhianat

Harianlampung.com - Kembali bermain di kampung Boemi Lada, membangkitkan kenangan, selain di masa remaja, juga di masa kecil. Bumi yang cukup lama ditinggalkan, namun tak begitu adanya perubahan yang berarti, khususnya pada aspek kesejahteraan dan kemiskinan warga.

Kini, semua berubah. Tanah-tanah yang tadinya ditumbuhi pepohonan nan hijau, berganti menjadi hutan beton. Tadinya di sepanjang jalan utama, kita nyaman menikmati udara segar di pagi hari dan tak perlu khawatir dengan laju kendaraan. Bebas melintas tanpa keraguan, bila hanya sekadar untuk menyebrang jalan.

Pergulatan-pergualatan serba cepat dalam meningkatkan kehidupan, tampaknya menjadi sebuah kewajiban tiada henti bagi warga. Perlombaan prilaku diantara sesama warga guna membentang garis status sosial kian beragam. Sang Lurah kian mempertontonkan sosok aslinya guna mempertahankan kekuasaan. Kir – kanan dihantam, sementara warga kian mempertontonkan perlawanan.

Dalam pergulatan itu, muncul sebuah nama yang sangat tidak asing bagi warga. Ibu-ibu yang membuang waktu sore di taman komplek-komplek perumahan, atau ibu-ibu modern yang gemar bermain arisan pun sangat mengenal nama itu. Ringkas dan populer, hanya satu kata. Sintal.

Nama Sintal berhasil menembus sudut-sudut gang, ruang kerja pegawai,  hingga ruang rapat wakil rakyat. Semua itu terjadi, selain berkat kepiawaian sang pemegang kuasa, juga dibantu lobby-lobby dan kemajuan teknologi. Media konvensional ataupun media modern, seperti jejaring media sosial digunakan. Sosok Sintal jadi terkenal..

Ya. Nama Sintal melambung tanpa jelas siapa sosok sebenarnya. Ya, nama Sintal melambung berkat ada kuasa yang diperkenankan untuk mengeksploitasi dirinya. Sulit membedakan, apakah kepopuleran bisa menjadi obat atau malah menjadi racun.

Dalam spektrum untuk mengukur minat pemirsa, nama Sintal terus bertahan dalam waktu yang cukup lama dan akan terus melambung. Banyak orang berlomba untuk mengenal Sintal, tentu dengan segala pernik-pernik kehidupannya. Pria maupun wanita berlomba. Pengusaha juga penguasa. Politisi juga birokrat. Semua saling berlomba untuk berjumpa Sintal. Pada tahap ini, sang pemegang kuasa beserta para pedagang, berhasil melambungkan barang dagangannya. Peminat kian banyak, tentu dengan beragam latar kepentingan.

Sampai di sini, ditengah perlombaan beradu cara, menariknya sosok Sintal mampu melahirkan pengkhianat-pengkhianat akibat pusaran dirinya. Seperti apa?

Pengkhianat pertama lahir  ketika sang pemegang kuasa ditinggalkan seorang kepercayaannya. Tak lama kemudian, ditengah aral melintang memperoleh keutuhan informasi,lahir pula pengkhianat lainnya.

Bujuk rayu sang Lurah melalui tebaran pesona janji-janji akan nikmatnya kenyamanan dan kehidupan sosial ekonomi, berhasil melahirkan pengkhianat. Dan lahirlah dua pengkhianat yang kemudian disusul pengkhianatan Sintal terhadap orang yang menyelamatkannya.

Seperti pepatah mengatakan, sekali jadi pengkhianat tetap akan menjadi pengkhianat. Apa yang terjadi? Dua pengkhianat tadi, berbalik mengkhianati sang Lurah. Bahkan, konspirasi orang-orang dalam yang tak harmonis, juga melahirkan pengkhianat lainnya. Tragis, para pengkhianat tadi, kembali menunjukkan karakter asli mereka, berkhianat dan bergabung bersama para lawan sang Lurah.

Pergumulan hidup tak pernah berhenti. Satu persatu pengkhianat muncul dengan peran yang beragam. Sehingga tak ada rahasia, baik disisi Lurah  atau disisi politisi dan pedagang. Rakyat Boemi Lada dibuat tercengang-cengang. Walau belum terang-benderang.

Derasnya perkembangan informasi, ibarat hujan sehari semalam membuat kesibukan untuk menambal atap yang bocor. Sebuah pekerjaan sia-sia. Bukan hanya menghabiskan pikiran dan tenaga, tapi juga biaya yang tak sedikit nilainya.

Ditengah pergumulan para pengkhianat memadatkan pundi-pundi, kini Sintal dijadikan merk dagang. Bisa dijual kapan saja, tergantung kepentingan. Diantara banyak pedagang, muncul pedagang asongan yang tak mengetahui apa yang didagangkan. Sehingga Sintal tak mampu keluar dari derasnya pusaran yang dibuatnya. Membelit hingga perlombaan merebut kuasa.

Catatan:
Tak perlu dipercaya, ini hanya sebatas mimpi tengah malam, akibat tidur sore hari.

Iqbal Hidayat - Editor harianlampung.com