GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
11/8/2017 20:55:26
2135

Episode 1: Ketika Mbak Pur Gundah

Harianlampung.com - Awal perkenalan saya dengan Mbak Pur terjadi 25 tahun yang lalu. Tidak sengaja. Ketika itu saya harus menulis sebuah surat kepadanya. Sebuah surat pengembalian uang amplop yang dibawa reporter usai wawancara terkait skandal pajak perusahaaan Mbak Pur.

Lama saya tak mendengar sepak terjang bisnis Mbak Pur. Sejak dua tahun lalu, saya mendengar Mbak Pur dilanda kegundahan. Padahal, dipenghujung usia puber keduanya, dirinya belum pernah merasakan hal seperti saat  ini. Biasanya, dengan kekuatan uang dan jaringannya, hampir tak ada persoalan dan masalah yang tak bisa diselesaikan. Dan yang paling penting, tak sampai membuat dirinya banyak merenung, gundah. Hari-harinya selalu dipenuhi kecerian dan kebahagian.

Apa yang membuat Mbak Pur begitu gundah? Begitu beratkah persoalan yang dihadapi, sehingga menciptakan kegelisahan yang berkepanjangan?

Bagi yang mengetahui dan memahami, kegundahan Mbak Pur sangat bisa dimaklumi. Bagaimana tidak, Ronald, putera kesayangannya -- walau lain ibu lain ayah, yang telah dididik sejak kecil, akhir-akhir ini tak lagi mematuhi petuahnya. Melakukan perlawanan, baik secara diam ataupun secara terang-terangan.

Lebih-lebih lagi, pada Pilkada 2017 lalu, perlawanan yang dilakukan Ronald sudah pada tingkat menentang kebijakan Mbak Pur. Belakangan, Mbak Pur mengetahui, prilaku Ronald didukung secara penuh oleh sang ayah. Bahkan bukan hanya sebatas itu, ayah Ronald secara diam-diam berjibaku mendirikan usaha yang menjadi pesaing bisnis utama Mbak Pur, Pabrik Permen.

Sebenarnya, bila sedikit ingin berpikir jernih dan tenang, merelakan kemandirian dan tindak pikiran  Ronald, Mbak Pur tak perlu merasa gundah. Mbak Pur sangat  tahu, bahwa manusia selalu berubah dan terus berubah. Batu yang tadinya keras, ditetesi air secara terus menerus, akhirnya akan tergerus.

Namun Mbak Pur tak sanggup menerima kenyataan atas perlakuan Sang Putera. Beragam penyesalan dan kekesalan terus melanda perasaan. Mbak Pur tak mampu melepaskan belenggu kasih dan sayang yang mengendap. Inilah yang kemudian meledak dan menjadi pemicu kegundahan.

Beberapa sosok lingkaran dalam Mbak Pur, mampu membaca kegelisahan itu. Mereka sungguh ingin memberikan solusi, sekaligus mengambil peluang dan cari untung. Seperti bungkus permen, mereka membalut dengan rasa peduli terhadap Mbak Pur.

Mereka sangat mengerti mengapa Mbak Pur gundah-gulana. Mereka paham tentang sejarah putera kesayangannya, bahkan mereka terlibat cukup dalam, ketika sang putera manapak karir, hingga meraih kedudukan saat ini, menjadi penguasa.

Ronald, karena pengaruh kekuasaan yang dipegang, banyak dikelilingi teman-teman. Ada habitat baru yang mengitari. Bujuk rayu dan canda gurau dibumbi puja-puji, membuat sang putera menjadi lupa akan garis batas Mbak Pur. Bahkan lebih jauh dari itu, dengan menggunakan tangan-tangan temannya, sang putera mengkhianati Mbak Pur. Situasi inilah yang disadari oleh orang-orang tertentu dalam lingkaran Mbak Pur.

Sebenarnya, dengan pengaruh kekuasaan dan materi yang ada,  Mbak Pur sendiri sudah berupaya untuk mencari cara agar bisa keluar dari kegelisahan. Mbak Pur kerab berdiskusi dan curhat dengan adik, Juned (beda ibu dan beda ayah) tentang rasa gundah yang ada.

Juned selama ini memang cukup memberikan perhatian kepada Mbak Pur. Apalagi ketika Juned sudah purna tugas. Baik melalui berbagai bantuan terkait Pabrik Permen, maupun perhatian dan sentuhan secara pribadi. Hubungan Mbak Pur selama ini dengan sang adik memang terbilang dekat, bahkan akrab.Tidak hanya sebatas hubungan adik-kakak, tetapi juga sebagai kawan  berpikir. Sekali-sekali bersifat hubungan antara seorang wanita dan pria.

Memang selama ini Mbak Pur memiliki kekuatan ekonomi yang hampir tak terbatas. Maklum saja, bersama kakaknya, Pabrik Permen yang dimiliki mereka menghasilkan uang yang tak terhingga besarnya. Inilah yang membuat tingkat kepercayaan diri Mbak Pur begitu tinggi. Semua bisa direngkuh, termasuk harga diri manusia. Apa yang dikehendaki selalu menjadi nyata, tanpa hambatan yang berarti. Kekuatan dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, sekaligus menjadi titik lemah Mbak Pur.

Bagaimanapun juga, sama seperti manusia lainnya, bukan kebutuhan lahir saja yang diperlukan, tapi juga kebutuhan bathin. Mbak Pur kadang gelisah. Ditengah perjalanan bisnis, pernik-pernik kebutuhan bathin menghantui. Mbak Pur butuh pendamping secara pribadi yang bisa dipercaya. Namun terlalu banyak hambatan yang muncul dibenaknya, apalagi mengingat posisi Mbak Pur yang begitu prima. Dia memerlukan sosok pria yang penuh cinta untuk mendampingi, tapi bukan karena melihat posisinya sebagai pebisnis sukses.

Dilema diri yang dialami Mbak Pur, kerap didiskusikan bersama keluarga. Sayangnya, sang ibunda tercinta sudah tak ada. Hanya tinggal Guntur, sang kakak yang begitu sayang pada sang adik,

Sudah menjadi pengetahuan umum, setiap bisnis yang maju dan mampu bertahan serta berkembang, tidak lepas dari peran dan fungsi kekuasaan. Memang, Mbak Pur selama ini menjalirn hubungan erat, bahkan berkolaborasi dengan berbagai lini kekuasaan. Semua ada biaya. Disinilah letak kepiawaian Mbak Pur, pos alokasi dana tanggung jawab sosial, kerennya disebut CSR diakal-akali. Sehingga keuntungan pribadi tetap terjaga, tidak berkurang.

Dari sebagian besar pos CSR itulah, beberapa tahun yang lalu, Mbak Pur menggelontorkan banyak dana agar Sang Putera dan kawan-kawannya meraih tampuk kekuasaan di beberapa kawasan Pabrik Permen.

Kini Mbak Pur gundah. Kekuasaan yang digenggamnya mulai mengalami gangguan. Namun, bukan Mbak Pur jika tak bisa berkelit mencarikan jalan keluar. Pabrik Permen yang menghasilkan gula-gula, cukup mengundang birahi semut-semut untuk mendekatinya. Seperti apa solusinya? Ada pada episode berikutnya.



catatan: Narasi bersambung ini hanya sebatas menggambarkan sebuah fenomena, betapa dahsyatnya kekuatan uang memporakporandakan Demokrasi dan prilaku manusia. Bila ada nama-nama yang kebetulan ada, semata-mata itu bukanlah sebuah kesengajaan, hanya kebetulan. Begitu juga tentang isi cerita, bila kebetulan sama dengan peristiwa yang ada,, itu juga hanya kebetulan belaka. Tak perlu dipercaya.