GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
13/8/2017 06:59:11
556

Mengapa Herman HN?

Harianlampung.com - Dipenghujung Januari 2017, secara tidak sengaja, dalam penerbangan Jakarta – Bandarlampung, saya duduk bersebelahan dengan Herman HN, Walikota Bandarlampung. Tentu saya mengenal Herman dan bisa dipastikan dia tidak mengenal saya. Kami duduk berdampingan selama 40 menit diatas langit ujung Pulau Jawa dan ujung Pulau Sumatera.

Saya menyapa: “ Selamat siang Pak Wali,” sembari menjabat tangannya. Lantas saya memperkenalkan diri.

“Ada tugas ke Lampung?” balasnya.

“Tidak, kebetulan ada acara pernikahan ponakan,”jawab saya.

Saya memulai pembicaraan, kebetulan ada tema yang menarik. Dua hari yang lalu, saya sempat membaca melalui media online, bahwa APBD Kota Bandarlampung  dipangkas sekitar Rp295 miliar oleh TAPD Provinsi Lampung.

“Gimana ceritanya soal APBD yang dipangkas Pak Wali?” tanya saya.

“Biar saja. Itukan hasil rapat serius antara eksekutif dan legislatif di Bandarlampung. Bukan hasil kerja sehari dua hari,” jawabnya.

“Kalau dipangkas, bagaimana menjalankan program pembangunan. Bukankah rencana yang ada jadi terkendala?” kembali saya bertanya.

“Kita ini dipilih rakyat untuk jadi pemimpin. Ada uang atau tidak ada uang, kita harus tetap membangun, memperhatikan kebutuhan rakyat. Kalau tidak mampu menjalankan amanah, lebih baik mundur,” jawab Herman.

“Wah, tugas berat ini Pak Wali,” timpal saya.

“Jadi pemimpin memang berat. Masak masyarakat mau ditelantarkan gara-gara APBD dipotong. Kita harus upaya. Keluhan rakyat harus diperhatikan, tidak boleh berhenti. Misalnya sekarang keluhan rakyat terhadap kemacetan. Harus dicarikan jalan keluar. Kita sudah merencanakan buat fly over di simpang Way Halim, buat underpass di Unila, di Pramuka, Kemiling. Karena ini kebutuhan warga Bandarlampung, tugas Walikota berupaya mencari solusi. Yang penting rakyat tidak terus mengeluh,”jelas Herman.

Sepenggal ilustrasi dialog diatas, setidaknya bisa ditangkap tentang sosok dan karakter kepemimpinan Walikota Bandarlampung ini. Lantas saya mencoba menarik dalam konteks situasi politik kekinian, menjelang Pilgub Lampung 2018, khususnya pada pertarungan memperebutkan kursi calon gubernur (cagub) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

“Saya akan maju Pilgub, hanya jika diusung PDIP,” ungkap Herman HN dalam berbagai kesempatan.

Dari perbincangan bersama para penggiat demokrasi dan para intelektual, termasuk bersama politisi di Lampung, saya mendapat pengetahuan bahwa Herman HN merupakan kader PDIP, terlepas dari berbagai peristiwa-peristiwa politik yang terjadi sebelumnya.

Seberapa jauh peluang Herman meraih tiket kursi cagub dari PDIP? Kita tahu, Ketua Partai Demokrat Lampung, Ridho Ficardo, Ketua Partai Golkar Lampung, Arinal Djunaidi, dan Ketua Nasdem Lampung, Mustafa turut ambil bagian dalam memperebutkan kursi cagub dari PDIP. Sementara Herman HN, Mukhlis Basri yang memiliki darah PDIP turut melamar kursi cagub.

Langkah lamaran cagub dari luar PDIP, bisa dicermati dalam dua hal. Pertama, memang sangat berminat dengan kursi PDIP. Kedua, ingin mengamputasi langkah kader-kader internal PDIP untuk maju menjadi cagub. Tentu taktik semacam ini, bisa dicermati dengan mudah oleh fungsionaris PDIP.

Menyadari kiat yang dimainkan para pelamar, bisa jadi pesan yang disampaikan berulang kali oleh para fungsionaris partai besutan Megawati ini, merupakan isyarat bahwa mereka mengetahui mainan yang digendangkan para pelamar. “Kursi cagub Lampung diprioritaskan kepada kader partai.”

Merujuk dari pernyataan tadi, dapat ditengarai PDIP akan mengerucutkan pada dua pilihan: Herman HN atau Mukhlis Basri.

Berkaca pada hasil survey yang digelar banyak lembaga, posisi Herman lebih tinggi ketimbang Mukhlis, baik untuk popularitas ataupun elektabilitas. Bahkan posisi Herman tak mengalami fluktuasi yang signifikan dibanding bakal calon gubernur lain. Sementara Herman belum melakukan sosialisasi, seperti yang dilakukan cagub lain.

Bila hasil survey terkini yang dipublikasikan para surveyor dikoneksitaskan dengan data raihan Pilgub Lampung sebelumnya, raihan suara Herman tidak terlalu jauh dibanding suara yang diperoleh Ridho ketika meraih kursi Gubernur Lampung. Artinya apa? Herman masih memiliki jejaring dan simpatisan yang cukup signifikan di Provinsi Lampung, walau posisinya selama ini hanya menjadi Walikota Bandarlampung.

Tak berlebihan rasanya, bila merujuk pada beragam segmen ilustrasi diatas, Herman memiliki peluang sangat besar meraih tiket cagub PDIP pada Pilgub 2018 mendatang.