GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
17/10/2017 12:27:24
776

Episode 19: Akhirnya Terkuak Misi Kolonialisme Mbak Pur

Harianlampung.com - Tak dapat dilukiskan melalui rangkaian kata, rasa kegembiraan yang ada dibenak Mbak Pur dan Juned usai bertemu Ketua Partai Gergaji. Ditengah tatapan juling mata Margontol, keduanya saling berpelukan. Sebuah ekspresi yang wajar, lebih dari itu memang kerab mereka lakukan.

Usai pertemuan itu, diruang publik, kacung-kacung Mbak Pur menebar foto Juned dan boss Partai Gergaji. Publik tercengang. Mimik keduanya sangat berbeda. Juned menampilkan senyum sumringah, senyum yang selama ini membuat Mbak Pur bertekuk lutut. Sementara boss Partai Gergaji, menampilkan wajah kecut. Apa yang terjadi dibalik mimik wajah kontras itu sesungguhnya?

Di tengah pusat kota yang berbeda, Ketua Partai Gergaji, Gundala bersama karibnya Deden dari Partai Go-Kart, hanya melempar senyum melihat tampilan foto yang disebarkan kacung-kacung Mbak Pur. “ Ada baiknya foto yang ada Mbak Pur juga ditampilkan. Biar jelas,” ujar Gundala.

“Bagi mereka ini sebuah kebanggaan, jadi perlu dipublikasikan,” timpal Deden.

“Hehehehe..,” timpal Gundala singkat.

Karena syahwat yang menggila, Mbak Pur perlu segera memasukkan Partai Gergaji dalam Bubu mereka. Bukan apa-apa, Partai Gergaji, selain jaringannya solid, mulai dari akar rumput hingga pucuk pimpinannya, juga merupakan peraih suara terbanyak kedua, setelah Partai Daun Itunya Pepaya di seluruh kawasan Pabrik Permen. Ditambah lagi, Partai Gergaji merupakan motor penggerak pembela rakyat yang menuntut hak nenek moyang mereka karena tanah mereka dirampok  Pabrik Permen. Dan hingga kini, untuk kasus ini Partai Gergaji tidak bisa ditaklukkan.

Bila dilihat secara cepat, kini dalam Bubu Mbak Pur tercatat Partai Gergaji, Partai Kutu Busuk, Partai Anak Nakal, dan Partai Go-Kart milik Mbak Pur yang akan mengusung Juned menjadi calon gubernur. Sementara dalam Bubu Mustajab ada Partai Hati yang Luka, Partai Kutu Sapi, dan Partai Nasi Goreng Adem. Artinya, Juned dan Mustajab sudah memenuhi syarat konstitusional untuk maju jadi calon gubernur.

Sementara Partai Daun Itunya Pepaya tak perlu bersusah payah mencari teman. Hermanus bisa langsung diusung menjadi calon gubernur. Namun, bukan berarti Hermanus tak berminat menggaet partai untuk menjadi temannya, setidaknya bisa berguna untuk mengurangi jumlah kontestan. Kini, tinggal Ronald bertapa bersama Partai Demikianlah dan Partai Pas Pasan. Kursinya tak cukup untuk mengusung pada kontestasi Pilgub mendatang.

Dengan komposisi seperti diatas, Mbak Pur dan Juned merasa bahagia luar biasa, sampai-sampai Mbak Pur lupa mencukur bulu keteknya, padahal selama ini licin bak sirkuit Sepang. Setidaknya, diluar konsep kolonialisme yang diusungnya, target utama Mbak Pur melengserkan Ronald dari arena kontestasi, tercapai.

Sejak awal Ronald menyadari menjadi target utama Mbak Pur. Bahkan bukan hanya menjelang kontestasi Pilgub. Sejak beberapa tahun yang lalu. Mbak Pur menjadikan Ronald sebagai titik bidik. Berawal ketika Ronald menolak syahwat penjajahan Mbak Pur, baik secara bisnis ataupun  mengintervensi pemerintahan. Pada tahun ke dua Ronald berkuasa, Mbak Pur memaksa menempatkan kaki tangannya pada level eselon II hampir di seluruh lini satuan kerja. Juga memaksa untuk melanjutkan pembangunan kawasan baru bagi para tata praja. Mbak Pur ingin mengakuisisi seluruh aset tata praja yang ada di pusat kota, melalui cara tukar guling dengan bangunan baru di kawasan yang baru.

Ditengah dukungan partai pada Bubu milik Juned dan Mustajab, publik melihat bahwa Ronald berhasil disingkirkan Mbak Pur dari arena kontestasi Pilgub. Tiba-tiba secara mengejutkan, Ronald membuat pernyataan publik, bahwa syarat dukungan partai, termasuk pasangannya untuk maju, sudah memenuhi syarat konstitusional. Ronald siap maju dan melawan.

Omong kosongkah Ronald? Untuk menjawab, mari kita cermati komposisi partai di kubu Mustajab. Di Partai Hati yang Luka dan Partai Kutu Sapi timbul persoalan,utamanya terkait cawagub. Munculnya problem serius ketika Partai Hati yang Luka, menyandingkan Mustajab bersama Hasan Hasan, Ketua Partai Anak Nakal di kota tetangga. Hasan Hasan merupakan adik Zaltelolet, pemimpin tertinggi partai. Sementara Partai Anak Nakal sendiri, menclok di kubu Mbak Pur. Ini langkah politik akal-akalan. Diberi pisau, tapi digunakan untuk menikam si pemberi.

Melihat fenomena tadi, Partai Kutu Sapi tak berdiam diri. Sikap politik Partai Hati yang Luka membuat para petinggi partai geram. “Kita sudah berkorban, mengkesampingkan gejolak politik akibat penistaan yang dilakukan aktifis  Partai Nasi Goreng Adem, tapi jangan diperlakukan seperti ini,” ungkap Mat Remos, salah seorang petinggi Partai Kutu Sapi.

“Kami tidak terlibat soal ini. Semua dilakukan pada level atas. Kami juga tidak setuju,” jawab Yayang, aktifis Partai Hati yang Luka di kawasan Pabrik Permen.

“Kami akan tarik dukungan. Sebab belum ada kesepakatan final. Sama dengan partai-partai lainnya. Belum ada yang final,” tegas Mat Remos.

Di pinggiran jembatan Semanggi, disebuah ruang rapat yang sejuk, muncul gejolak serius di dalam Bubu Mbak Pur. Keputusan Partai Hati yang Luka  mengusung Hasan Hasan sebagai cawagub, dibahas secara tajam. Saling tekan, saling marah, merupakan ekspresi dari kecurigaan yang tak ada henti.

“Maksudnya apa? Mau menusuk dari belakang?,” kata Juned.

“Santai aja boss, itu diluar pengetahuan ketum. Maunya dia sendiri,” jelas Irwan yang sibuk memindahkan karung-karung tumpukan uang (maklum Mbak Pur memberi titah Irwan sebagai Bendahara Tim Sukses).

“Jangan main-mainlah. Pusing gua,”sergah Juned.

Sementara di ruang pasien rumah sakit di bilangan Menteng,  memuncak kekisruhan yang luar biasa di kalangan internal Partai Kutu Busuk. Jajaran akar rumput menolak dukungan diberikan kepada Juned, mereka menghendaki Mustajab.

“Saya akan pertaruhkan semua. Lihat saja, saya akan bongkar semua. Mustajab itu kader kita, Juned itu musuh kita,” ungkap Musawir, petinggi Partai Kutu Busuk yang kini sedang terisolasi.

Bukan hanya di kalangan internal Partai Kutu Busuk yang memberontak, di dalam Partai Anak Nakal pun terjadi hal yang sama. Semua berawal dari kesewenang-wenangan petinggi partai, Zaltelolet. “Memang partai ini punya keluarganya,”ujar Dewi Matahari.

“Ini bukan partai keluarga. Silahkan partai mendukung Juned, jaringan diakar rumput, sebagai pendiri partai,  sudah sepakat melawan,” ungkap Ahmad Oncom, penguasa jaringan Matahari.

Dari dinamika kekisruhan yang terjadi di kubu Mustajab dan Juned, terlihat jelas adanya kemarahan dan kegelisahan partai-partai yang ada. Kondisi ini menjadi peluang Ronald mengajak bergabung kembali. Apalagi model gerilya dari hati ke hati  yang dilakukan, mampu menyentuh rasa perkawanan yang selama ini terbina.

Dan yang lebih penting serta sudah menjadi catatan publik, bahwa terjadinya kekisruhan di partai-partai, biang keroknya adalah syahwat Mbak Pur yang ingin menjajah dan memaksa Juned untuk menjadi penguasa. Memang, limpahan dan guyuran uang Mbak Pur, sementara ini bisa menjinakkan partai yang ada. Tetapi tidak semua partai demikian. Masih ada partai yang memiliki idealisme untuk menentang hadirnya kolonialisme, penjajahan gaya baru di kawasan Pabrik Permen. Apalagi momentum Pilgub menjadi penghantar kontestasi Pileg dan Pilpres 2019 mendatang. Reaksinya hanya tinggal waktu saja.

Bila ada waktu, pidato perdana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera, pada 16 Oktober 2017, perlu juga disimak. Penggalan kutipannya:

“…Dulu kita semua, ditindas dan dikalahkan. Kini kita sudah merdeka. Kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri..”

“.. Jakarta, satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat. Penjajahan  itu di depan mata…. Ditempat lain, mungkin penjajahan terasa jauh, tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta, yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari, karena itu bila kita Merdeka, maka janji-janji itu harus terlunaskan bagi warja Jakarta..”