GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
18/10/2017 19:47:21
666

Episode 20: Mencermati Kolonialisme Mbak Pur

Harianlampung.com - Usai deklarasi yang dilakukan para kandidat bersama partai pendukungnya, bukannya muncul suasana keceriaan, malah terjadi perang dingin antar sesama partai pendukung. Deklarasi setengah hati, melahirkan kegalauan dibenak para calon kandidat. Menjadi ancaman baru, masih utuhkah koalisi hingga tahap pendaftaran?

Malam kian larut, hampir menyentuh waktu Subuh. Rasa kantuk dan penat, tak dirasakan oleh lima tokoh lintas partai yang duduk mengitari meja bundar. Ruangan luas dan sejuk dalam rumah megah yang bercokol di kawasan Simpruk, membuai dialog dan perdebatan sengit.

Sembari ditemani jajaran piring penuh panganan, sesekali mereka menyambar Sate Padang yang menguning terbalut lumpur Kunyit (bukan lumpur Lapindo). Perdebatan  panjang menyangkut topik tentang nasib demokrasi di kawasan Pabrik Permen. Masalah serius bermata dua. Disatu sisi sistem demokrasi dilumpuhkan oleh penjajahan uang. Sisi lainnya ulah syahwat pemilik Pabrik Permen, Mbak Pur dan Guntur, yang memaksakan agar Juned duduk di singgasana gubernur, melalui kekuatan uang.

“Mbak Pur membunuh dalam pertempuran, tapi tak mau dikatakan bahwa tangannya berlumuran darah. Partai-partai dijadikan sebagai pembunuh bayaran. Padahal dia sangat terlibat menciptakan kegetiran di masyarakat. Dia memasung demokrasi kultural dan prosedural. Dia memporak-porandakan demokrasi, melalui penjarahan partai-partai,” ujar Radin Jambat memulai.

“Waktu menjadi saksi atasi fakta-fakta yang tercerai berai. Kolonialisme mereka lakukan, peperangan ini bukan rakyat yang memilih, tapi Mbak Pur yang menciptakan dan mengobarkan,” balas Radin Jelabat.

“Tentu Mbak Pur punya alasan. Ya, alasan itu sebesar harapan dan sedalam rasa jengkelnya kepada Ronald. Sebuah alasan yang dibuat-buat, diselimuti. Intinya hanya demi lancarnya misi kolonialisme mereka atas seluruh kebijakan di kawasan Pabrik Permen,” celetuk Mat Betok.

“Itu sangat terang benderang. Jengkelnya Mbak Pur terhadap Ronald, lebih disebabkan gagalnya misi Juned, hingga dia pensiun. Misi mencaplok komplek tata praja digagalkan Ronald. Wajar bila Mbak Pur sakit hati, karena dia yang mengusung Ronald meraih kursi kekuasaan. Ini menjadi domain kongkalikong internal mereka,” timpal Radin Jambat.

“Kesewenang-wenangan Pabrik Permen sudah sejak lama melekat dibenak masyarakat. Terutama sejak Mbak Pur menjadi penguasanya. Belakangan mereka selalu turut campur dalam menentukan kepemimpinan di berbagai daerah di kawasan. Sudah seperti tuhan. Siapa yang ingin menjadi penguasa, harus mendapat restu mereka. Penjajahan ini tak bisa dibiarkan,” sambung Siti Nurbuat.

 “Saya coba memahami itu,” sergah Sutan Cecuk seraya menegaskan bahwa langkah Mbak Pur sejak awal  mendorong Juned meraih posisi di Partai Go-Kart, merupakan sebuah kewajaran. “Ketua yang lama kan tidak bersahabat dengan Mbak Pur, juga dengan Ronald. Namun syahwat Guntur dan Mbak Pur untuk merampas kursi gubernur dengan mendorong Juned, ini sebuah kesalahan fatal.”

“Apakah karena tidak suka atau kurang sejalan, lantas dijadikan musuh dan disingkirkan. Tapi ini memang ciri khas prilkau penjajah,” kata Radin Jelabat.

Mat Sriding lantas bertutur, bila Pabrik Permen tak berniat menjajah kawasan, sejatinya Juned cukup sebatas jadi Ketua Partai Go-Kart. Bukankah mereka sebatas untuk memproteksi bisnis saja?

“Nyatanya sekarang semua berantakan. Partai Go-Kart bertambah rapuh. Laporan yang masuk menunjukkan banyaknya perpecahan, baik yang tampak atau yang terjadi dibawah permukaan,” ungkap Radin Jambat.

“Politik adu domba Belanda, juga dilakukan pada partai-partai lainnya. Semua melahirkan perpecahan. Etika dan kepatutan mereka tinggalkan. Ini memang ciri khas penjajah,” ujar Sutan Cecuk.

“Yang kita ketahui, sejak awal Guntur hanya sebatas ingin menjadikan Juned sebagai wakilnya Ronald. Perubahan ini yang sulit diterima akal, malah Juned ingin merebut kursi Ronald,” ujar Mat Sriding.

“Jadi jelas, syahwat Mbak Pur, baik Juned menjadi wakil Ronald, atau merebut kursi Ronald, semuanya ingin menciptakan ketidakharmonisan dalam pemerintahan. Guntur sejak awal tahu, Juned dan Ronald tidak bisa disatukan. Ini kan siasat Guntur, mereka tidak harmonis, Guntur yang mengais keuntungan,” sergah Radin Jambat.

“Kini buah adu domba Mbak Pur menghasilkan permusuhan, baik  ditingkat elit politik hingga ke akar rumput. Ini bahaya. Pilgub mendatang bisa menjadi medan perang bagi rakyat untuk melawan penjajahan dan ketidakadilan,” timpal Siti Nurbuat.

“Keyakinan saya, bukannya hal-hal buruk itu akan terjadi, tetapi penjajahan dan neolib sudah terjadi. Ini alasan utama kita mengibarkan bendera perang. Jangan pernah ada kata penyesalan,” tambah Sutan Cecuk.

“Sebenarnya, bila Mbak Pur tidak memaksakan Juned menjadi gubernur, cuma sebatas membenahi dan membesarkan Partai Go-Kart, seperti tujuan semula, tak akan ada kericuhan di partai-partai, juga di masyarakat,” jawab Radin Jambat.

Cepat atau lambat, kekalahan akan semakin mendekat. Sudah sejak awal Mbak Pur berpikir, bahwa kekuasaan yang akan diraih, sebatas mengelabui rakyat. Melulu demi kepentingan memperluas akses bisnisnya. Mbak Pur mengerti, Juned merupakan sosok yang tak laku dan akan melahirkan banyak penolakan. Namun Guntur sengaja memilih Bidak yang salah. Sebab tujuannya untuk melahirkan ketidaktentraman di kawasan. Guntur tak mengingkan adanya kerukukan dan kekompakan di kalangan elit dan masyarakat. Bila para elit dan masyarakat kompak, menjadi ancaman bagi mereka.

“Mbak Pur mendefiniskan baik dan buruk, hanya menurut keinginannya saja. Dia beranggapan, nilai-nilai dalam keteraturan bisa diatur melalui kekuatan uang dan kelicikan. Ini yang salah,” jelas Mat Sriding.

“Rakyat memilih keadilan agar dapat tetap setia pada tanah leluhur mereka. Kesewenang-wenangan Mbak Pur selama ini saatnya diberi pelajaran. Tak perlu Pabrik Permen ikut campur pada proses rakyat menentukan pemimpin mereka. Laksanakan saja kewajiban sosial Pabrik Permen terhadap rakyat dengan benar dan terbuka, ” jawab Siti Nurbuat.

“Bila Mbak Pur memang baik, berikan hak warga atas tanah leluhur mereka yang jelas-jelas dijarah Pabrik Permen. Jangan berdalih-dalih. Rakyat mengetahui seperti apa proses perizinan yang diperoleh Pabrik Permen,” ujar Radin Jambat.

“Untuk apa uang ratusan miliar dihambur-hamburkan hanya untuk joget-joget, mengundang artis seronok yang merusak moral rakyat. Jika uang ratusan miliar itu digunakan untuk menyelesaikan masalah dengan warga disekitar Pabrik Permen, kan lebih berarti. Masalah tuntas, warga disekitar Pabrik Permen mendapatkan hak dan kehidupan sebagaimana semestinya,”ujar Mat Sriding.

“Sudah jadi karakternya Mbak Pur dan Guntur, sombong dan angkuh. Jadi mereka tak peduli dengan penderitaan rakyat disana. Entah siapa yang jadi pembisik, sehingga hati mereka hitam dan kejam?” ungkap Siti Nurbuat.

Kesewenang-wenangan dan syahwat menjajah Mbak Pur membuat banyak pihak melawan. Nah di ujung jalan, selalu ada pilihan: Mbak Pur menang atau kalah. Itu saja.

“Mbak Pur itu banyak dikitari sosok-sosok yang memendam keputusasaan. Nah keputusasaan memiliki kekuatan yang tak kenal kasihan. Itulah yang akan menghancurkan,” ujar Radin Jambat.

“Meraih kebahagian merupakan penaklukan terbesar. Sebuah kemenangan atas nasib yang melekat disetiap hati rakyat yang ditindas. Bahkan, dalam kekalahan sekalipun, kebahagian dan ketentraman itu tetap melekat dalam sanubari rakyat. Sebab mereka bukan kacung, boneka, apalagi jongos penjajah,” ujar Siti Nurbuat