GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
20/10/2017 19:23:29
629

Epiosde 21: Fase Mbak Pur Mulai Bergelinjang

Harianlampung.com - Bagi para pemerhati politik, utamanya para kader, dinamika yang terjadi di Partai Go-Kart di kawasan Pabrik Permen lebih banyak yang merasa bahagia, ketimbang bersedih. Kebahagian mereka, tentunya dilatarbelakangi banyak hal. Alasan paling dominan, adalah adanya peluang mendapat kucuran dana, disamping adanya peluang jadi anggota legisatif. Bukan karena Juned nyagub. Benarkah?

Ditengah tarikan nafas intervensi tangan-tangan ajaib yang melanda kantor pusat, politisi Partai Go-Kart di kawasan Pabrik Permen, sejak kursi pimpinan mereka dibeli Mbak Pur, menimbulkan geliat yang beragam. Juned hanya dipandang sebelah mata dalam kapasitas memimpin Partai G0-Kart. Kemampuan Juned sangat dibawah rata-rata untuk memimpin. Jauh Panggang dari Api, tak kan mungkin, hanya dengan keangkuhannya untuk membesarkan partai sebesar Go-Kart.

Politisi Go-Kart menjadi harimau-harimau pemangsa siap menerkam. Hanya soal waktu. Ini sudah pernah terjadi, ketika Juned dibuat remuk redam jelang Musdalub. Bila tidak dengan kekuatan uang 300 juta per suara dan tekanan Setan November, dipastikan Juned gagal meraih kursi Ketua Go-Kart.

Situasi yang demikian disadari Juned, tentu juga oleh Mbak Pur. Namun para politisi Go-Kart juga memahami pengetahuan yang demikian. Sehingga para pembalap menyusunkan strategi dan langkah lain. Strategi 3 M: Menurut, Mengikuti, Memojokkan, diberlakukan.

Fakta yang demikian sangat tergambar jelas. Para pembalap Go-Kart kompak merangkul habis Juned. Mulai dari pagi hingga malam hari,secara bergilir orang demi orang mengepung Juned tanpa henti. Dan Juned berhasil duduk dalam pangkuan.

Disinilah letak keteledoran Juned dan Mbak Pur. Juned terbawa arus yang dibentangkan. Hampir semua kehendak Juned, dalam menata personil organisasi, merupakan hasil kepungan para pembalap yang telah memangkunya. Juned tak sadar sudah terjadi kerapuhan di tubuh partai. Terjadi perpecahan yang cukup dalam. Lebih cilakanya, para pemangku Juned berkoordinasi dan melakukan sinkronisasi gerakan bersama para penentang.

Hanya dengan dasar kemampuan berpikir yang berpatokan dengan kekuatan uang, Mbak Pur mengantisipasi gerakan politik yang demikian menggunakan rumus 3 M pula: Murah, Meriah, Mencret. Gudang logistik dikunci. Aktifis partai sulit bergerak. Ini sebuah pilihan yang keliru. Terperangkap dalam gerakan 3 M para Harimau. Mengapa? Para pembalap Go-Kart tidak bereaksi atas langkah penguncian gudang logistik. Sebab secara otomatis, aktifitas yang melibatkan partai jalan tersendat-sendat. Buntutnya akan memperlebar jurang ketidakpuasan, yang berarti, gerakan mendukung Juned tambah menurun. Apalagi belakangan, Juned lebih memilih menghamburkan dana untuk partai-partai koalisi, ketimbang partai sendiri.

Kini berkembang Iklim ketidakpuasan, kecemburuan di internal Go-Kart. Bahkan tiga  orang kepercayaan Juned, meniup terompet keluar, menelanjangi situasi dan kondisi yang ada di internal. Lebih cilaka lagi, proses pembongkaran strategi internal ini, diungkapkan kepada kubu Mustajab dan Hermanus yang menjadi pesaing Juned pada kontestasi Pilgub mendatang.

“Sisa enam amplop, isinya 200 ribu diambl Juned. Padahal Juned cuma ngisi 100 ribu per amplop, yang nambah 100 ribu kan aktifis partai,” tutur Mat Raji, seorang petinggi partai.

Gerakan penggembosan Juned dari dalam, menuai keberhasilan. Tentu saja, selain karena tidak memiliki nilai jual, juga akibat peran penting Mbak Pur dan Pabrik Permen yang bertindak sebagai pemodal. Kondisi yang demikian sudah menyebar rata, tidak hanya pada strata golongan menengah atas, tapi sudah menyentuh akar rumput, hingga tingkat kecamatan. Ini semua merupakan buah karya Tim Hore Mustajab dan Hermanus yang berhasil menggalang aktifis Go-Kart.

Out put dari rambahan kerja politik tadi, bisa terlihat dari hasil survey yang dilakukan lembaga survey independen dan milik partainya Mustajab serta partainya Hermanus. Juned menempati urutan nomor satu dari bawah, bila dibandingkan dengan kontestan cagub lainnya, termasuk kalah jauh dengan Ronald yang terancam masuk zona degradasi.

Sebenarnya, Tim inti Mbak Pur sangat memahami situasi. Hanya saja mereka tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan secara terbuka. Bukan apa-apa, mereka paham betul betapa intimnya hubungan antara Mbak Pur dan Juned. Misalnya soal siasat membawa  rombongan tokoh-tokoh berpengaruh dari Partai Kutu Busuk berwisata ziarah. Tim tahu bahwa tak memiliki pengaruh yang signifikan. Melulu menghambur-hamburkan uang. Sebab kunci para pemilih ada dalam kekuasaan struktur formal organisasi, bukan di partai. Disamping itu, adanya perpecahan serius didalam partai koalisi.

“Sama aja nyiram api dengan bensin,” ujar Liman, seorang anggota tim yang bertanggungjawab urusan catat mencatat yang diamini Suparlan, anggota tim kegiatan hore-hore.

Sebaliknya, oleh kalangan organisasi formal, mulai dari akar rumput hingga ke tingkat cabang,  strategi yang dilakukan Juned, selain untuk membungkus Go-Kart sebagai partai pendukung utama penista agama, juga ingin membungkus rencana kolonisasi Mbak Pur yang menjadi sponsor utama kegiatan kampanye Juned.

Disisi yang lain, Partai Gergaji, Partai Kutu Busuk, dan Partai Anak Nakal yang berkoalisi dengan Partai Go-Kart untuk mengusung Juned sebagai calon gubernur, juga dilanda keragu-raguan. Selain karena logistik seret, juga terjadi perpecahan hingga ke akar rumput. Hingga kini petinggi partai sedang melakukan konsolidasi, menuntaskan persoalan internal.

Selain itu, gerak politik pemilik Partai Anak Nakal, juga liar. Saudara kandung petingginya ditasbihkan berpasangan dengan Mustajab. Sementara di tubuh Partai Kutu Busak,  terjadi perundingan serius terkait dukungan pada Pilgub di Pulau Jawa. “Tarik dukungan untuk Juned, kami tarik dukungan untuk khompimpah.”

Jadi, memandang Pilgub di Kawasan Pabrik Permen, tidaklah sesederhana yang dipikirkan. Terkini, terjadi gerakan masyarakat, ruang publik, melalui media massa dipenuhi semangat kebangkitan menolak cagub yang dibekingi konglomerat. Dipastikan tema ini ditujukan kepada Juned yang membawa misi kolonisasi Mbak Pur terhadap seluruh kawasan Pabrik Permen. Banyak pihak sadar, bahwa uang yang dihambur-hamburkan Mbak Pur untuk mendorong Juned, merupakan hasil penjarahan Pabrik Permen terhadap hak pribadi warga masyarakat, termasuk hak ulayat.

Apalagi belakangan terkuak alasan Mbak Pur mencampakkan Ronald. Selain karena penolakan Ronald atas keinginan Mbak Pur menempatkan kaki tangannya pada level eselon II hampir di seluruh lini satuan kerja dan mengakuisisi seluruh aset tata praja yang ada di pusat kota, melalui cara tukar guling dengan bangunan baru di kawasan yang baru, juga terkait soal krisis listrik berkepanjangan yang membuat rakyat menderita. Byar Pet tak ada hentinya. Aneh bukan? Jelasnya simak pada episode mendatang.