GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
22/10/2017 21:15:53
556

Epiosde 22: Tersengat Listrik, Mbak Pur Murka

Harianlampung.com - Aksi protes para aktifis dari berbagai elemen melalui aksi Seribu Lilin di berbagai tempat, tampaknya membuat Ronald menggeliat. Dilain sisi, aksi keprihatinan masyarakat atas krisis lsitrik yang berkepanjangan, membuat Mbak Pur tersengat.

Memang, perseteruan antara Mbak Pur dan Ronald, bukan hanya akibat penolakan atas keinginan Mbak Pur menempatkan kaki tangannya pada level eselon II di seluruh satuan kerja saja. Ditolaknya syahwat Mbak Pur mengakuisisi seluruh aset tata praja yang ada di pusat kota, melalui cara tukar guling dengan bangunan baru di kawasan yang baru, juga jadi pasal kemarahan. Puncaknya ketika pusat kekuasaan mengambil alih penanganan krisis listrik dari wilayah. Mbak Pur tersengat. Pemilik Pabrik Permen murka.

Begini ceritanya:  Seperti diketahui, rakyat turun berunjuk rasa tak ada habis-habisnya. Beragam aksi keprihatinan dilakukan masyarakat. Hingga gerakan menyalakan Seribu Lilin. Bukan hanya itu, media sosial dipenuhi beragam kecaman. Mulai dari kecaman pasien di rumah sakit, hingga makian pedagang es buah.

Upaya perusahaan listrik untuk membangun jaringan interkoneksi transmisi dari wilayah tetangga, selalu terkendala. Intinya, lahan perkebunan Pabrik Permen terlarang untuk dilintasi pembangunan jaringan transmisi. Melalui tangan penguasa wilayah, Mbak Pur melarang Izin Penetapan Lokasi Pembangunan SUTT 150 KV dikeluarkan. Padahal, perusahaan listrik berusaha kuat untuk mengatasi kekurangan daya pasok untuk seluruh wilayah.

Rakyat mengetahui, sudah lama perusahaan listrik berupaya mengatasi kekurangan pasokan.Namun selalu terhambat. Rakyat capek dengan kondisi byar-pet yang begitu lama.  Perusahaan listrik tidak diberikan izin mendirikan tower (98 tower dari total 179 tower) yang melewati lahan perkebunan Pabrik Permen. Pembicaran dan mediasi sudah dilakukan berulang kali, dan tidak menghasilkan apa-apa.

Komunikasi Ronald dan perusahaan listrik, sudah berjalan baik. Pada 2 Mei 2016, Ronald telah meminta perusahaan listrik untuk melaksanakan pembangunan Tapak Tower. Walau jalurnya agak dibelokkan. Namun, setelah itu, persoalan izin Tapak Tower, melalui tekanan Mbak Pur, diambil alih oleh Juned. Maklum saja, memang Mbak Pur yang mendudukkan Juned menjadi sekretaris wilayah.

Juned bergerak cepat mengemban amanah Mbak Pur. Pada Mei 2016 itu juga, Juned melayangkan surat kepada direktur utama perusahaan listrik untuk menanggapi surat general manager divisi III perusahaan listrik. Intinya tidak setuju dengan pembangunan jaringan transmisi yang direncanakan perusahaan listrik. Bahkan dibuat alasan baru, agar jaringan dibuat dibawah tanah. Tarik ulur soal izin lokasi Tapak Tower terus berputar-putar.

Protes dan kecaman rakyat karena krisis listrik, terus berlangsung. Ronald galau. Bila mengambil langkah-langkah formal, seperti yang selama ini dilakukan, akan melahirkan perdebatan yang berkepanjangan dengan Mbak Pur. Disatu sisi, di internal Ronald ada Juned yang memata-matai, dilain sisi Mbak Pur mematok harga mati, bahwa izin jaringan interkoneksi tak boleh dikeluarkan.

Ujungnya Ronald bersiasat. Melalui lobi-lobi khusus di pusat kekuasaan, Ronald memaparkan kondisi listrik di wiayah kekuasaannya, termasuk tekanan Pabrik Permen yang menghambat pembangunan jaringan, turut dipaparkan.

Dari lobi-lobi intensif, muncul jalan keluar. Dimulai pada 29 September 2016, ada surat dari perusahaan listrik yang ditujukan kepada Ronald. Inti dari surat dimaksud, point pentingnya adalah  digunakannya UU Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum, yakni Pasal 10 butir f: Tanah untuk kepentingan umum, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 4 ayat 1, digunakan untuk pembangunan pembangkit, transmisi, gardu, jaringan dan distribusi tenaga listrik.

Gayung bersambut. Ronald tak membalas surat. Berulang kali Juned menghadap Ronald terkait untuk menjawab surat tersebut.  Juned dicuekin. Bukannya Ronald menjawab surat, malah berkoordinasi dengan panglima yang jadi penguasa perusahaan listrik. Ujungnya, persoalan pembangunan jaringan transmisi dari daerah tetangga ditangani oleh pusat kekuasaan.

Hari berganti minggu, berganti bulan, hingga berganti tahun. Sesuai dengan agenda yang direncanakan, Ronald dipanggil untuk mengikuti rapat terbatas di pusat kekuasaan bersama sang Raja. Selain membahas hal-hal strategis lainnya, persoalan krisis listrik pun dibahas. Panglima penguasa perusahaan listrik dan panglima pengatur urusan tanah, turut dihadirkan. Langkah pun disusun.

Pada ksempatan rapat terbatas khusus tingkat panglima, diputuskan bahwa pembangunan jaringan transmisi harus dilanjutkan. Komando dipegang pusat kekuasaan. Duarr !!!

Inilah yang membuat Mbak Pur murka. Sebab Pabrik Permen digiring berhadap-hadapan langsung dengan pusat kekuasaan. Bukan lagi urusan Ronald. Sitausi inilah yang membuat Guntur marah besar. Pabrik Permen dibuat bertekuk lutut. Ronald mengalihkan medan pertempuran.

Selama ini, memang ulah Pabrik Permen menghalangi pembangunn jaringan listrik, sudah diluar perikemanusiaan. Bukan apa-apa, rakyat diseluruh kawasan bertahun-tahun tersiksa karena adanya pemadaman listrik.

Selain melarang Ronald mengeluarkan izin, jurus Pabrik Permen menghambat pembangunan juga menggunakan cara yang diluar kepatutan. Bayangkan, bila perusahaan listrik ingin melintasi perkebunan, Pabrik Permen minta dibayar sewa. Memangnya tanah milik siapa?

Berbagai cara mereka lakukan. Road Show yang dilakukan Juned keberbagai instansi, selalu memaparkan betapa penting arti kehadiran Pabrik Permen. Bila dibangun tower jaringan, akan mengganggu pesawat pemupukan dan penyemprotan hama, akibatnya produksi bisa terhambat. Sebuah logika yang dibangun dengan penuh kekeliruan.

Namun, setelah penangan pembangunan jaringan digiring Ronald menuju pusat kekuasaan, harapannya, penderitaan rakyat akibat krisis listrik, akan segera bisa diatasi. Sementara Pabrik Permen gigit jari, takluk dilalui oleh jaringan transmisi.

Namun, kabar terkini, Mbak Pur sedang merancang siasat menghambat pelaksanaan pembangunan jaringan. Alasannya, sedang studi banding ke Jerman. Sebagai obat penawar penundaan, Pabrik Permen akan membiayai pembangunan jaringan. Sebuah langkah akal-akalan, siapa tahu nanti Juned jadi gubernur. Baru kemudian Juned akan berkoar-koar, mengklaim bahwa teratasinya krisis listrik di seluruh kawasan, karena upaya dirinya. Jangan-jangan sudah disematkan dalam visi dan misi cagub. Akal Bulus. Posau terus….