GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
30/10/2017 11:12:24
701

Episode 24: Mbak Pur Kalap, Sabar ya...

Harianlampung.com - Bila ada jargon yang menyebutkan: Tidak ada kawan dan lawan yang abadi, tentu bisa dimengerti. Konteksnya cendrung keurusan bisnis dan politik. Tapi, jika itu terjadi pada hubungan Ibu dan Anak, sungguh sulit diterima oleh akal sehat. Ibu meninggalkan anak yang sudah cukup berbhakti padanya. Dan itu terjadi.

Diatas 50 persen penduduk di kawasan Pabrik Permen, apalagi kalangan politisi dan penggiat demokrasi, selama ini mengetahui bahwa Mbak Pur mentasbihkan Ronald sebagai putera kesayangannya. Hampir disejajarkan dengan putera kandungnya.

Ronald dibina sejak muda. Proses ini tak lepas dari sentuhan tangan dan curahan hati Mbak Pur. Bahkan diberi kesempatan belajar dan praktik dalam dunia bisnis. Begitu juga ketika Ronald “dipaksa” Mbak Pur untuk merebut kursi kekuasaan di kawasan Pabrik Permen. Ratusan miliar digelontorkan untuk meraih simpati dan suara pemilih. Perjalanan waktu melahirkan pengalaman, lantas memuncul sikap kemandirian pada Ronald. Dan itu berhasil. (Soal mengapa Mbak Pur mencampakkan Ronald, simak episode sebelumnya).

Liku-liku perjalanan Ronald menjadi penguasa, tampaknya dijadikan Mbak Pur sebagai rujukan untuk menempatkan Juned merebut kursi kekuasan yang kini diduduki Ronald. Mulai dari memberi uang transport warga yang dimobilisasi agar berpartisipasi pada pertunjukan wayang, senam, jalan sehat, dangdutan, longok-longok pasar, sama persis dengan cara Ronald bersosialisasi, ketika itu. Hadiah mobil, motor, traktor, hingga sarung tidur dan uang ratusan juta pada setiap penampilan Juned pun digelontorkan. Bahkan, dalang, artis dangdut, lokasi pagelaran, pun pihak penyelenggaranya copypaste. Semua uangnya Mbak Pur. Tak ada uang Juned. Dari mana sumber uang Mbak Pur? Tentu dari hasil jarahan Pabrik Permen.

Seandainya Mbak Pur ingin sedikit saja berpikir jernih, mengurangi keangkuhan dan syahwat cintanya, langkah massif  sosialisasi untuk Juned, tidak menemui sasaran. Selain tingkat elektabilitas tetap rendah, kegiatan sosialisasi malah menimbulkan banyak konflik, baik di internal Partai Go-Kart, maupun di Tim Hore. Cilakanya lagi, diantara sesama parta koalisi, terjadi kecemburuan yang tinggi. Partai Kutu Busuk dibayar 50 miliar, Partai Anak Nakal dibayar 40 miliar, sementara Partai Gergaji dibayar 100 miliar plus mendapat jatah wakilnya Juned.Semula ketiga partai tidak saling tahu, belakangan bocor melalui mulut orang-orang kepercayaan Juned. Gedubrax… gengsi partai meninggi.

Jadi, langkah Mbak Pur membandingkan Ronald dengan Juned merupakan sebuah kekeliruan. Kenapa? Ketika Ronald digadang-gadang menuju arena kontestasi, para pemilih memang belum mengenal Ronald. Anak muda berpendidikan cukup tinggi, penuh tata krama, tampan pula. Ini menjadi modal besar memikat para pemilih. Apalagi Ronald tampil berpasangan dengan sosok egaliter pemegang jabatan politik dan publik yang penuh kematangan dalam mengelola biroraksi. Sebuah pasangan yang sangat menjanjikan untuk memincut hati para pemilih. Dan perlu dicatat, petahana ketika itu tak turut serta secara langsung dalam arena kontestasi.

Sementara Juned sudah kejemur di tengah terik matahari dan terkena hujan. Masyarakat mengetahui secara persis rekam jejaknya hingga pensiun. Bahkan jabatan terakhir Juned, tak bisa didudukinya, bila Mbak Pur tidak memaksa Ronald. Begitu juga ketika Juned merampok Partai Go-Kart, semua atas syahwat Guntur melalui Nusronda Wahabi, Ini pun sudah menjadi pengetahuan publik, khususnya para politisi dan jejaring pegawai tata praja. Keangkuhan Juned, ibarat Golok bertemu Sarung, dengan syahwat menjajah Mbak Pur pas betul. Bangiq Mong….

Semua mengerti, arena kontestasi Pilgub merupakan ranahnya partai dan para politisi. Partai politik yang memiliki jejaring hingga tingkat pedesaan, menjadi sarana yang baik untuk dijadikan tempat bersosialisasi. Namun, hingga tulisan ini diturunkan, sudah lebih dari dua bulan, Mbak Pur jor-joran menggelontorkan ratusan miliar buat Juned bersosialisasi, tak ada keberanian sedikitpun untuk mengungkapkan siapa jati diri Juned yang sesungguhnya. Melalui media massa yang dikontrak Mbak Pur, ratusan kegiatan telah dipublikasikan. Pemberitaan tentang Juned yang bernada miring, dilarang terbit. Bila dilanggar, kontrak iklan dan pemberitaan dihentikan. Merusak jargon demokrasi yang diusung media massa. Sungguh ironis.

Pertanyaannya kemudian, ulah Mbak Pur yang demikian sudah menghasilkan apa? Pertama, timbul perpecahan serius dikalangan internal partai politik hingga keakar rumput. Kedua, alhamdulillah muncul semangat kebersamaan diantara bakal calon gubernur, menjadikan Mbak Pur dan Pabrik Permen sebagai musuh bersama. Ketiga, muncul gerakan aktifis-aktifis demokrasi dan kaum intelektual untuk mengusung tiga point fakta integritas yang ditujukan kepada para cagub: 1. Bila para cagub menjadi gubernur, siap menuntaskan pencaplokan tanah rakyat, hak ulayat, kawasan konservasi yang dimasukkan dalam HGU perusahaan. 2. Bila para cagub menjadi gubernur, siap menuntaskan krisis listrik yang membuat rakyat bertahun-tahun menderita. 3. Waktu yang diberikan untuk menuntaskan kedua point diatas, hanya dua tahun.

Mengapa semua itu bisa terjadi? Pertama, Mbak Pur mengubah syahwat awalnya. Juned yang semula hanya mengemban tugas untuk membesarkan Partai Go-Kart, sesuai janjinya dengan para petinggi partai. Perubahan kedua, Juned hanya menjadi wakil Ronald dan perubahan ketiga, memaksa Juned menggantikan Ronald.

Kedua, sejak awal Mbak Pur dan Guntur menyadari bahwa Juned tak memiliki nilai jual. Mereka berpikir, dengan cara menggenjot sosialiasi, seperti yang sebelumnya dilakukan terhadap Ronald, nilai tawar Juned bisa tingkatkan. Hasilnya, Juned tetap bertengger di urutan satu dari bawah alias nomor buncit. Siapa yang menarik keuntungan? Calo partai, calo artis, calo media, dan tukang hasut.

Bukan Guntur atau Mbak Pur namanya kalau menyerah pada keadaan. Sudah menjadi karakter kakak beradik ini, setiap kehendaknya harus tercapai. Itulah yang terjadi dalam kekinian. Mereka tak mau melihat realita dan fakta yang ada. Keduanya makin menggila, menganggap semua tokoh partai tertarik dengan uang mereka. Sebuah kesalahan fatal. Diatas langit, masih ada langit.

 “Kamu jaga kesehatan. Jangan lelah seperti dua malam yang lalu. Apa perlu check up ke Singapura lagi?,” desah Mbak Pur.

“Orang-orang kepercayaan, menikam saya dari belakang. Itu yang membuat lelah. Tapi dua malam yang lalu, kan lumayan…,” balas Juned sembari membalikkan letak badannya.

“Kan Bunda sudah bilang. Mereka tidak bisa dipercaya. Makanya Bunda minta nota-nota pengeluaran, sampai nota makan. Air mineral saja Bunda hitung hingga botol-botolnya. Kamu sabar ya…,” ujar Mbak Pur sembari membelai rambut Juned yang menutupi daun telinganya.

“Bayangkan Bun, atribut-atribut aku dirubuhkan. Ada yang dirusak, dipenggal bagian kepalanya. Ini keterlaluan,” keluah Juned menuturkan peristiwa yang terjadi di kawasan tengah dan tanggamas.

“Jangan diambil hati. Kamu sih pakai foto lama, biar terlihat muda. Jadi mereka penggal kepalanya. Kalau kamu nggak jadi penguasa, kan tidak ada ruginya. Sabar ya..,” hibur Mbak Pur.

Seperti apa nasib para bakal cagub, Mustajab, Hermanus, Ronald, dan Juned kedepan? Tampaknya akan melahirkan banyak kejutan yang membuat banyak orang kelojotan. Suhu semakin panas, jantung kian kencang berdebar. Dua bulan kedepan menjadi arena pertarungan di bawah permukaan. Sabar ya….