GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
03/11/2017 15:10:35
1007

Episode 25: Goyang Santan Mbak Pur, Ancam 4 Partai

Harianlampung.com - Demi memastikan pasangan “Orang-orangan Sawah”, Juned dan Harto Wardoko aman memasuki arena pertarungan Pilgub mendatang, Mbak Pur menggelar jurus Goyang Santan. Setelah membeli Partai Go-Kart dan Partai Anak Nakal, kini Partai Kutu Busuk, Partai Gergaji, Partai Hati yang Luka, dan Partai Demikianlah segera dibeli total. Partai Daun Itunya Pepaya pun tak ketinggalan digoyang.

Menjelang batas pendaftaran peserta kontestasi Pilgub di Kawasan Pabrik Permen, dinamika politik berkembang secara cepat. Sradak-sruduk Mbak Pur untuk tetap memegang kendali kekuasaan, kian menggila. Padahal, bila Mbak Pur hanya sebatas mengantarkan pasangan Juned dan Harto Wardoko menjadi peserta kontestasi, bila dikelola secara baik, sesuai dengan komitmennya, sejak jauh hari sudah selesai. Jumlah kursi Partai Anak Nakal, Partai Gergaji, Partai Kutu Busuk, ditambah Partai Go-Kart, telah melampaui ambang persyaratan kursi yang ditetapkan. Langkah-langkah konsolidasi,membentuk tim pemenangan, dan aksi penggalangan suara, selayaknya sejak dua bulan lalu bisa dilaksanakan. Mengapa tidak dilakukan Mbak Pur?

Merujuk pada laporan mingguan Badan Intelijen Pusat Partai Kutu Sapi bertajuk : Goyang Santan Mbak Pur, Ancam Kedaulatan, dipaparkan data dan fakta, baik berupa rekaman percakapan telpon, whats app, telegram, hingga notulensi rapat khusus, terungkap. Ketika Mbak Pur membeli perahu Partai Anak Nakal untuk mendukung Juned, dalam negoisasinya, selain membeli perahu, juga dijanjikan untuk membiayai sosialiasi partai. Selain itu, ada tawaran menempatkan kader menjadi pendamping Juned. Alih-alih membicarakan pendamping, langkah sosialisasi pun tak bisa dilakukan. Sementara jajaran Partai Anak Nakal di  berkali-kali rapat bersama jajaran Partai Go-Kart. Hasilnya kosong-kosong, berhenti sebatas proposal-proposal kegiatan.

Dalam laporan setebal 70 halaman itu, menengarai permainan bisnis Mbak Pur yang demikian, petinggi Partai Anak Nakal menyiapkan langkah penyelamatan. Kongsi politik diarahkan kepada Mustajab. Gayung bersambut. Mustajab yang menjadi salah satu calon kandidat gubernur, terbang ke luar daerah, menyambangi Hasan Hasan. Terjadilah kesepakatan, Mustajab disandingkan dengan Hasan Hasan. Pintu persekutuan menggunakan perahu Partai Hati yang Luka.

Lantas, gerakan politik Partai Anak Nakal, diantisipasi Mbak Pur secara cepat dengan menggunakan kekuatan uangnya. Secara internal, menyetop agenda aksi Partai Anak Nakal bersama Partai Go-Kart. Secara eksternal, Mbak Pur merayu petinggi Partai Hati yang Luka. Alasan yang disampaikan, tentu mengadu domba Hasan Hasan dengan petinggi Partai Anak Nakal.

“Ini perahu partai sudah kita bayar. Sekarang adiknya maju melalui  partai lain. Bo Ceng Li,” ujar Mbak Pur kepada petinggi Partai Hati yang Luka. “Ganti saja pengurusnya. Saya siapkan orangnya. Saya all-out membiayai untuk membesarkan partai,” sambung Mbak Pur. Berhasilkah Mbak Pur merontokkan pengurus Partai Hati yang Luka di daerah? Kita simak aja.

Berikutnya Mbak Pur dan Juned ingin mengambil alih kursi ketua Partai Kutu Busuk. Kebetulan, Mustakim sudah mendapat bea siswa tahunan untuk disekolahkan. Semua tahu, Mustakim dan jajarannya berpihak ke Mustajab. Selain karena kekerabatan, keduanya merupakan kader organisasi yang menjadi penyokong kekuatan partai. Sementara ini, guyuran uang Mbak Pur di pusat kekuasaan partai menjatuhkan pilihan Cak  Lelek bersekutu dengan Juned. Porak porandalah Partai Kutu Busuk. Diatas mendukung Juned, dibawah mendukung Mustajab. Sama seperti yang terjadi di Partai Anak Nakal.

Demi mengamankan belahan hatinya, Mbak Pur merancang penggulingan Mustakim. Rancang bangun eksekusi dibuat. Mustakim akan diganti oleh Aryanti Munafik yang kini duduk sebagai sekretaris ormas pendukung Partai Kutu Busuk. Iming-iming uang dan khalayan kenikmatan masa depan, dinegoisasikan melalui utusan Cak Lelek. Kabar sudah disampaikan, terkabulkah Aryanti Munafik gantikan Mustakim?

Gerakan bisnis Mbak Pur berikutnya, sama juga. Prilaku keangkuhan dan kesombongan Juned membawa dampak yang signifikan terhadap hubungan koalisi bersama Partai Gergaji. Rancangan pertemuan antara Mbak Pur dan Ketua Partai Gergaji, Gundala, dihalangi Juned. “Api Pai, Gundala haga tungga Mbak Pur. Tentu mak ku juk. Dapok cadang ram,” ujar Juned berkoar-koar kepada jajaran petinggi Partai Go-Kart.

“Juned dan Mbak Pur jangan terlalu angkuh. Apa dengan uangnya, semua orang bisa dibeli? Kita berdarah-darah membesarkan partai. Berhadap-hadapan dengan rakyat. Tiba-tiba mau main ambil. Yang tahu situasi riil daerah itu kita. Yang akan bekerja dan banting tulang kita. Jangan mereka artikan, surat yang dikeluarkan itu sudah final. Masih ada tahapan-tahapan dan persyaratan yang harus dipenuhi. Kita ini bukan politikus, tapi pejuang politik. Kepentingan rakyat wajib kita kedepankan, sesuai dengan visi dan misi partai ini didirikan ” ujar Gundala dalam rapat koordinasi bersama jajaran anak ranting Partai Gergaji.

“Saya dengan Juned Tuhannya sama, masih Allah SWT. Nggak tahu kalau tuhannya sudah berubah, sama dengan tuhannya Mbak Pur. Yakinlah, jadi atau tidaknya kita sebagai pemimpin, sudah digariskan Allah SWT. Jadi yang menentukan bukan hanya uang. Masak Juned nggak percaya itu?,” ujar Gundala.

Langkah koordinasi bersama akar rumput di seluruh provinsi yang dilakukan Partai Gergaji, berimbas pada kemurkaan Juned dan Mbak Pur.Maka skenario menumbangkan Gundala dan Patinasaromli, sekretaris Partai Gergaji dilrancang. Sebelum melangkah, Mbak Pur dan Juned meyakinkan Handoko Rozali, mantan penguasa yang sebentar lagi lengser, agar bersedia menggantikan posisi Gundala. Sementara untuk posisi sekretaris, menggantikan Patinasaromli, akan dicari kader Partai Gergaji, yang memiliki mental pengkhianat. Apakah Mbak Pur berhasil?

Selain Partai Hati yang Luka, Partai Kutu Busuk, dan Partai Gergaji, Mbak Pur juga menebar kekisruhan di tubuh Partai Demikianlah, dan Partai Daun Itunya Pepaya. Menggunakan kekuatan pengaruh uangnya, Guntur meminta Sabar Bonar Yohanes, boss Partai Demikianlah agar memberikan perahu kepada Juned. Guntur berjanji akan menggelontorkan dana tanpa batas demi kesuksesan putra Sabar Bonar Yohanes pada Pilpres mendampingi Mat Solar. Goyahkah? Kita lihat saja.

Disisi lain, melalui Pak Ogah, pesuruh Mbak Pur yang duduk sebagai petinggi daerah Partai Daun Itunya Pepaya, dimainkan cara penjajah, Devide Et Impera. Pak Ogah, bergemuyuh di pusat kekuasaan agar Partai Daun Itunya Pepaya diberikan kepada Ronald. Bahkan melalui petinggi hansip, Titih Kartubi, jaringan Mbak Pur memberi harapan, sembari mengumbar ancaman, agar Ronald all-out mendapatkan Partai Daun Itunya Pepaya, demi menyingkirkan Hermanus. Bukan apa-apa, Hermanus merupakan musuh berat dalam arena kontestasi Pilgub mendatang. Mengadu Ronald dengan Hermanus, demi keuntungan Juned yang berujung pada tidak terpenuhinya perahu Ronald untuk maju. Disini Mbak Pur lalai, bahwa Partai Hati yang Luka, bila lepas dari Mustajab, akan berlabuh ke Ronald.

Namun, bagian akhir laporan intelijen tadi, menyebutkan, bila Ronald takluk berhadapan dengan Mbak Pur, akan terjadi koalisi paksa, antara Ronald dan Juned atau bersama Harto Wardoko untuk dimajukan sebagai kontestan dalam Pilgub. Mbak Pur juga menyadari, bahwa Juned tidak memiliki nilai jual di mata masyarakat.

“Prilaku menjajah Guntur dan Mbak Pur itu tidak ada hebat-hebatnya. Ini semua karena kelemahan iman tokoh-tokoh partai yang ada. Harusnya bersatu, melawan penjajahan yang telah nyata. Bukan malah membantu Pabrik Permen untuk memperlebar daerah jajarannya. Juned sadar dia bukan apa-apa, makanya dijadikan Mbak Pur sebagai alat propaganda,” ujar tokoh senior pemerintahan yang juga politisi di pusat kekuasaan, mengomentari laporan diatas.