GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
07/11/2017 01:06:59
427

Episode 26: Mbak Pur Ajaib, Cukup Sebatas Epiosde 25

Harianlampung.com - Bila episode-episode sebelum ini dianggap sebagai cerita nyata, Alhamdulillah. Setiap orang, merdeka untuk menafsirkan apa saja. Disitulah tingkat akurasi dan kecerdasan seseorang dinobatkan. Diluar itu, anggap saja sebuah fiksi, imajinasi, atau hasil nalar yang keliru, untuk menyanjung diri sendiri. Maklum, narasi ini disajikan dari atas dua Bukit Doyot (tapi nggak pakeg sholat dengan kiblatnya nisan kubur).

Suatu hari, usai Episode ke 12 tayang, tamu-tamu istimewa datang menemui saya (saya akan paparkan dua tokoh saja). Pertama, seorang tokoh top di bidang tulis menulis. Kebetulan memang kami sudah saling bercengkrama lebih dari 20 tahun. Bedanya saya dengan dua orang tamu ini (berbeda waktu tibanya), Mas Gembrot masih menekuni profesi tulis menulis, bahkan luar biasa aktif. Sehingga susah membedakan antara dua profesi yang digelutinya: Calo atau Penulis. Sementara yang kedua, Kyai Brengos. Mengaku sebagai politikus senior, tapi yang saya tahu, dia tidak pernah jadi anggota parlemen. Bahkan tidak pernah menduduki jabatan penting di partai.

Tentu, kedua teman ini, tak ujuk-ujuk datang atau hanya untuk menjaga tali silaturahim. Sebuah hajat yang sangat disengaja, menyambangi kediaman saya yang sudah pensiun, yang jelas bukan karena rasa rindu.

Kebetulan, malam itu, tepatnya pukul 21.00, saya belum menuju peraduan. Masih leyeh-leyeh di kursi ogleg dipojok teras. Sebuah Vellvire berwarna putih, kemudian, sekitar 30 menit kemudian, datang Rubicon dua pintu berwarna orange. Dua kendaraan hebat ini berhenti, dan parkit berjajar di depan gerbang, kebetulan sedang menganga.

Assalamualaikum…

Waalaikumsalam. Wah, tumben bro.. Kemana aja, ayo masuk, saya menyapa.

Disini aja. Di Teras lebih santai. Tidak kemana-mana? Sampean nggak berubah ya? ujar Mas Gembrot, seusia dengan saya, menimpali sembari menghempaskan diri di kursi ogleg. Teman yang satu lagi, datang belakangan, Kyai Brengos, usianya lebih muda dibanding kami berdua, pun melakukan hal yang sama. Duduk mantap.

Saya: Apa cerita dunia?

Mas Gembrot: Terlalu banyak cerita dunia. Apalagi cerita dinegeri sana.

Saya: Bila dijahit, tentu banyak angle yang bergemuruh.

Mas Gembrot: Sangat banyak. Nah, diantara angle-angle tadi, saya tertarik dengan narasi angle yang sampeyan buat.

Saya: Tersanjung sekali, sekaliber sampeyan menyimak angle-angle saya. Memang yang mana?

Mas Gembrot terganggu sebentar melangsungkan dialog karena ada nada panggil di telpon pintarnya.

Mas Gembrot menjawab telpon: Selamat malam bu..

Penelpon: saya tak mendengar suaranya.

Mas Gembrot: Iya. Saya sedang menuju kediamannya. Nanti saya laporkan perkembangannya Bu..(Telpon ditutup).


Mas Gembrot: Konkritnya, serial tulisan ente di media ini dan di media lainnya, banyak pihak yang merasa terganggu. Kebetulan yang terganggu cukup dekat hubungannya dengan aku.

Saya: O.. Episode tentang Mbak Pur yang sampeyan maksud? Jadi yang terganggu dan dekat dengan sampeyan itu siapa?

Mas Gembrot: La iya. Juned dan Mbak Pur itu dekat dengan ku. Dia sangat terganggu dengan tulisan ente.

Saya: Lho… Juned toh. Memangnya siapa Juned?

Mas Gembrot: Yang sampeyan maksud dengan Juned kan salah satu cagub. Begitu juga Mbak Pur, yang sampeyang maksudkan bandarnya Juned?

Saya: Ya bener sekali. Juned emang salah satu cagub, dan Mbak Pur memang menjadi pemodalnya Juned. Bahkan ada hubungan cinta diantara keduanya. Kan sudah jelas tertulis disana.

Mas Gembrot: Ampun aku rek. Yo koyo ngene iki, mbulet. Juned itu kan Si …., Mbak Pur itu Si…. , dan Ronald itu si……Gitu kan?

Saya: Wah, itu penafsiran sampeyan. Jangan dipaksakan menjadi penafsiran ku, ya nggak bener. Sampeyan atau pembaca lainnya, tentu sah-sah saja untuk menafsirkan. Tergantung pengetahuan masing-masing. Begitu juga dengan tokoh-tokoh yang lain.

Saat terjadi adu argumentasi antara kami berdua, Kyai Brengos sudah tak sabar nimbrung. Terlihat dari sedotan rokoknya yang dalam.

Kyai Brengos: Sebagai politisi, tentu yang anda maksud Juned itu Si … dan Mbak Pur itu Si……. Sama penafsiran kami berdua. Tak perlu kita berdebat soal wilayah itu.

Saya: Anda belajar dimana? Jika penafsiran anda berdua sama, sepenuhnya menjadi hak kalian. Tapi saya tidak berpikir demikian. Sejak kapan anda mengklaim, bahwa apa yang ada dalam pikiran anda, harus sama dengan pikiran saya. Itu sebuah kekeliruan. Anda hakimi saja pikiran sendiri. Jangan hakimi pikiran orang lain.

Kyai Brengos: Yang anda lakukan itu namanya Political Branding. Segmen demi segmen yang anda sampaikan, hampir 90 persen cocok dengan persitiwa dan kondisi yang kini sedang terjadi. Aku minta tolong.

Saya: Apa yang saya bisa bantu?

Kyai Brengos: Bisa nggak episode 25 ini menjadi yang terakhir?

Mas Gembrot: Iyo mas, saya sama dengan maunya Kyai Bregos.

Saya: Lho anda berdua sama-sama utusan Si….dan Si…. toh?

Kyai Brengos: O tidak. Saya dekat dengan beberapa politisi Partai …... Ini kepentingan mereka.

Saya: Tentu saja bisa. Sangat tergantung situasi dan kondisi. Apalagi kalau saya sedang males nulis.

Kyai Brengos: lamon sekam dapok, tentu kami sangat berterima kasih. Kami takkan melupakan begitu saja.

Saya: Seharusnya, perbuatan baik yang kita lakukan, layaknya kita lupakan. Namun perbuatan yang tidak baik, harus kita ingat, agar kita sadar akan pintu taubat.

Saya merasa tersanjung, juga merasa kurang enak. Teganya dua koncolawas ini menemui saya, hanya karena penafsiran mereka terhadap tokoh-tokoh yang saya tampilkan dalam serial Mbak Pur (jangan-jangan bener juga penafsiran mereka). Lebih tidak enak lagi kalau kedua sahabat itu, memang mendapat penugasan khusus dari si ….. dan si……. serta si…... (mohon maaf, si….. si…. dan si….. saya tak bisa tuliskan, demi menjaga kode etik jurnalistik).

Dengan perasaan haru, setelah dua jam berbincang, saya menyalami mereka. Keduanya beranjak dari kursi ogleg menuju roti tawar Vellvire dan gerobak Rubicon yang parkir di depan rumah. Ajaib dan keajaiban terkait tulisan ini, sudah empat kali saya alami. Hikmahnya, saya kian banyak mendapatkan pasokan informasi untuk tulisan berikutnya. Wat-wat Gawoh.