GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
10/11/2017 09:35:54
706

Episode 27: Ketika Mbak Pur Membela Hercules

Harianlampung.com - Mbak Pur kian tak berdaya menolak keinginan Juned. Walau kerap muncul hasrat untuk menolak, namun tetap saja wanita setengah tua ini tak mampu menampik. Semula, ketika masih berstatus tata praja, Kacung yang disuap 40 juta setiap bulan, waktu berjalan, hubungan meningkat, gelombang asmara menerpa.

Dunia memang tak ada yang berubah, hanya saling berganti rupa. Peranan yang dimainkan, sama saja. Syahwat kolonisasi sudah disemburkan kemana-mana. Bukan hanya melalui penguasaan media massa, partai-partai pun akan dan telah terjarah, menembus hingga ke puncak kekuasaannya.

Sebenarnya, bagi Guntur dan Mbak Pur, hal demikian tak ada yang aneh. Semangat menjajah keduanya, sejak dahulu kala memang sudah kental. Manusia-manusia disekitarnya dijadikan boneka-boneka yang tak berdaya. Tergantung kehendak keduanya.

Semangat menjajah yang demikian, dimulai dari ruang rapat. Bagi yang pernah bekerja dan mengikuti rapat rutin bersama Guntur dan Mbak Pur, narasi dibawah ini, bukanlah sesuatu yang luar biasa, sudah menjadi protap mereka.

Ketika Guntur memimpin rapat, tentu didampingi Mbak Pur, ruang rapat, pada setiap tempat duduk peserta rapat, diatas meja peserta, selalu diletakkan beragam boneka. Ada boneka Kelinci, Burung, Anjing, Babi, Kucing, Tikus, Barbie,Teddy Bear, Kodok, Batman, Hercules, dan jenis boneka lainnya.

Ketika rapat berlangsung, dan terjadi dialog, Guntur dan Mbak Pur menyapa peserta rapat bukan dengan menyebut nama, tapi menyebut nama boneka yang ada dihadapan peserta. Bila direktur bisnis, diatas meja rapatnya ada boneka Kelinci, maka: “Coba Kelinci, ceritakan perkembangan bisnis bulan ini,”. Begitu seterusnya, “Anjing, kenapa keuntungan bulan ini berkurang,” Tak ada satu orang pun peserta rapat yang protes, atas teror mental yang demikian. Semua takut dipecat dan rela menghadapi teror psikologis yang demikian. “Kodok, kog banyak hama minggu ini.”

Usut punya usut, ternyata sejak kecil, Guntur dan Mbak Pur memang hoby bermain dengan boneka. Pada setiap perjalanan bisnisnya, singgah dinegeri manapun, tak lupa mereka membeli boneka. Tentu kita mengetahui, banyak sekali jenis boneka yang ada di dunia. Semuanya memiliki definisi objek untuk digerakan atau melakoni sebuah cerita yang akan dimainkan. Memang boneka dimainkan untuk memberikan pesan yang tersirat atas perannya.

Dan terkini, Mbak Pur memiliki boneka khusus yang selalu setia didalam tasnya. Dibawa kemana saja, boneka getar, vibrator berbetuk lipstick. Terkadang digunakan dalam kamar mandi, ketika dirinya tak mampu mengendalikan hasrat, atau digunakan ketika sendirian, saat menjelang tidur. Bagaimana cara menggunakannya? Tanya langsung pada Mbak Pur.

“Dik Hercules, coba sampaikan perkembangan politik Pilgub terkini,” tanya Mbak Pur menyapa Juned yang diatas mejanya ada boneka Hercules.

“Terakhir, bersama Partai Anak Nakal konsolidasi. Khusus Go-Kart baru dilakukan pencucian gudang,” terang Juned.

“Itu mobil Partai Anak Nakal, kog nggak ada foto mu?” ujar Guntur (menyapa tanpa menyebut Hercules. Bisa jadi hanya Mbak Pur yang tahu makna Hercules dimeja Juned).

“Mereka yang desain sendiri, kita tidak tahu,” jawab Juned.

“Partai Kutu Busuk bagaimana?” tanya Guntur.

“Sulit diajak koordinasi. Bingung, pengurus didaerah sulit diajak komunikasi,”terang Juned.

“Partai Gergaji gimana? Anda bilang kalau didaerah urusan anda, semua bisa beres. Anda bisa atasi. Kenapa malah teriak-teriak protes menolak Anda?” ujar Guntur.

“Hercules kan sibuk keliling Ko, mungkin waktu koordinasinya tidak pas,” sela Mbak Pur memotong Guntur.

“Kita sudah all out, what ever the cost. Bila di daerah tak mampu dikendalikan, merepotkan kita. Sekarang gelombang menerpa Pabrik Permen,”ungkap Guntur.

“Kita bisa atasi. Mereka yang bergerak orang-orang bayaran semua. Jajaran Go-Kart sudah mengantisipasi,” jawab Juned.

“Nyatanya tidak bisa distop. Kata anda orang-orang Go-Kart yang menangani. Aksi terus berjalan, aneh? Bukannya diredam, malah bergelombang. Kalau analisa sih bisa macam-macam. Saya sendiri mempercayai, bahwa orang-orang Go-Kart berada dibalik semua ini,” ujar Guntur.

“Saya belum tahu. Tapi mereka memang Harimau-harimau lapar semua,” jawab Juned.

“Bukankah sudah cukup kita beri mereka  makanan. Kog masih lapar?” tanya Guntur.

“Memang perlu kita evaluasi lebih dalam lagi Ko.. orang-orang Go-Kart selalu kelaparan, walau sudah kita beri makan cukup,” sela Mbak Pur, sebelum Hercules menjawab.

"Sudah, kita borong semua agar tak ada lawan,"ujar Guntur kesal.

Terlihat secara jelas, betapa keperkasaan Juned kian membuat Mbak Pur tak berdaya. Selalu menyela Guntur ketika pertanyaan kritis ditujukan kepada Juned. Sebuah gambaran, betapa lidah Juned memang terbilang panjang. Mampu menjilat hingga ke bagian paling dalam.

Dalam kekinian, secara sadar, setidaknya terlihat pada sosok Juned dan beberapa politisi lainnya. Banyak cara mencampakkan martabat diri yang berujung pada rusak dan runtuhnya kehidupan masyarakat dan demokrasi.

Guntur dan Mbak Pur menyadari adanya perspektif yang demikian.Semua mereka kendalikan dengan uang.Keduanya tahu persis, bahwa koalisi yang ada sementara ini, melulu karena faktor ketertarikan terhadap uang, bukan karena sosok Juned.Itulah kemudian yang menyebabkan gairah pengusaha Pabrik Permen ini kian menggila. Tentakel Guntur dan Mbak Pur merambah dan melekat kemana-mana.

Tentu saja, bagi sebagian petinggi partai, prilaku kakak beradik ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Ada tanggungjawab moral yang besar harus dikedepankan. Membela habis-habisan kepentingan rakyat yang selama ini terjajah oleh Pabrik Permen.Rakyat akan melihat, siapa yang peduli atas nasib mereka.

Guntur dan Mbak Pur terus  meng-kolonisasi kawasan Pabrik Permen secara total. Tidak cukup hanya sebagian. Bagi Guntur dan Mbak Pur, Juned hanya sebatas satu simpul pada rangkaian jaringan.Tapi secara khusus, Juned  sebagai Hercules dihati Mbak Pur, walau tetap statusnya sebagai  Kacung. Semua dibayar sesuai dengan bentuk penugasan.

Penjajahan itu sudah berlangsung cukup lama. Tak sedikit korban harta dan benda, bahkan nyawa. Sudah cukup banyak warga pribumi yang keluar masuk penjara. Dan tak ada yang mau peduli. Kleptokrasi sudah terjadi. Hak-hak rakyat telah dilucuti dan monopoli mutlak kekuasaan uang, dipertontonkan secara nyata.

Kini penyakit yang diderita sudah mencapai taraf lanjut, bahkan mungkin sudah dibatas akhir. Tubuh sudah merasa tidak sakit lagi, tidak dapat menangkap gejala atas pukulan-pukulan lingkungan. Kuman masuk dengan masif, trauma bertubi-tubi datang dengan intensitas yang meningkat, polutan mengepung, padahal gizi kurang, tetapi badan tidak merasa apa-apa --- Badan membisu, tidak mengeluh, apalagi berteriak. Kita menderita penyakit “tak dapat jatuh sakit”.---- Rasa keadilan sudah terusir dari kehidupan. Mengembalikan unsur pokok ini adalah terapi yang sangat  dibutuhkan.Kini saatnya tiba.