GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
16/11/2017 00:36:50
902

Episode 29: Mbak Pur Cerdas atau Nekat

Harianlampung.com - Heboh…Sebuah ledakan besar terjadi malam ini. Dedengkot Partai Go-Kart kabur dari sergapan tukang urus perampok uang. Sebuah ancaman serius bagi eksistensi Juned dan Pabrik Permen menyeruak dahsyat ke publik. Bahkan tersiar kabar kencang Pabrik Permen akan terseret dalam kategori Tindak Kriminal Nyuci Duit.

Sementara waktu terus berjalan, negoisasi antar pelaku politik dan bisnis terus berlangsung. Persekutuan konkrit partai untuk mendukung bakal calon gubernur Pabrik Permen, bukannya bertambah solid, malah berujung pada keretakan. Semua bermuara pada keangkuhan Juned dalam mengelola persekutuan. Padahal sejak awal sudah disiapkan Guntur dan Mbak Pur.

Akibat ulah Juned, kini Pabrik Permen dijadikan musuh bersama oleh berbagai elemen masyarakat, juga oleh kekuatan partai politik. Lebih dari itu, para penggiat demokrasi yang menentang kehadiran Pabrik Permen, dikelola secara baik oleh para pentolan Partai Demikianlah dan Partai Go-Kart, juga Partai Gergaji yang menginjak gas melalui Pansus.

Kini terjadi keretakan di lima sisi. Pertama, implikasi manuver pemilik Pabrik Permen membeli partai-partai, tanpa mengindahkan tata krama, melahirkan perlawanan keras. Kedua, dampak atas ketidakmampuan dan keangkuhan Juned mengelola persekutuan melahirkan kisruh antara sesama partai. Padahal Guntur dan Mbak Pur telah menggelontorkan ratusan miliar untuk itu. Ketiga, hasil jajak pendapat terkini berbagai lembaga penyedia jasa survei menempatkan Juned tetap berada diurutan bawah. Keempat, hasil jajak pendapat internal partai-partai yang sementara ini berada dalam persekutuan mengusung Juned, hasilnya malah memperkuat hasil jajak pendapat lembaga survey independen. Juned berada diurutan bawah.Kelima, terjadi unjuk rasa di jajaran Pabrik Permen yang mengusung ketidaksetujuan terhadap Juned.

“Kog situasi jadi begini ya?” ujar Mbak Pur lirih.

“Lu sih,minta gua dorong Juned jadi gubernur. Gua kan cuma sebatas dia pimpin Go-Kart doang,” ujar Guntur.

“Kalau Juned nggak maju, kan si anak durhaka tambah kurang ajar,”jawab Mbak Pur.

“Ya bener, tapi kan harusnya elo berpikir lebih tenang. Kita liat-liat orang yang bisa bela dengan all-out, jadi sahabat kita, bukan hanya Juned. Soal anak durhaka, babenya kan tinggal disekolahkan,” ujar Guntur.

“Kan masih ada waktu. Kita lihat situasi,” balas Mbak Pur.

“Nunggu situasi, entar terlambat. Lu bayangin aja, semua pasukan yang nempel Juned aja kagak sreg dengan dia. Anak-anak di Pabrik kagak setuju mengusung Juned,” turur Guntur.

“Wo juga denger, kita juga paham, mulai dari sopir sampai menejer di kebun pada nggak setuju dengan Juned,”ungkap Mbak Pur.

“Terus gimana?” tanya Guntur.

“Kita harus pikirin. Gara-gara Juned, kita langsung keseret dalam politik. Soal Pabrik Permen malah jadi ruwet. Data-data beredar dimana-mana, gugatan udah muncul di pengadilan, ada yang di deket pabrik, juga ada di pusat,” ujar Mbak Pur.

“Itu kita hadapi. Entar gua yang lobi-lobi. Emang nggak boleh dianggap enteng. Gua denger-denger si Kancil ambil alih ini masalah. Ini semua muncul gara-gara Juned nyagub,” jelas Guntur.

“Ya udah, entar gua ngomong dari hati kehati dengan Juned. Biar dia juga lihat kenyataan-kenyataan yang ada,” balas Mbak Pur.

Nun di ruang publik, padahal media massa sudah banyak yang dibayar Mbak Pur, informasi terkait penjarahan tanah yang dilakukan Pabrik Permen, secara massif menembus ruang dan waktu, bahkan  sudah menembus ke kamar-kamar di istana raja.

Bila Mbak Pur dan Guntur, realistis melihat keadaan, melepaskan hasrat dan syahwat mencaplok kekuasaan, terjadinya kisruh di persekutuan justru bersumber dari Juned. Belum lagi ketika membicarakan bakal cawagub. Perdebatan soal ketokohan dan kelayakan serta karakter Juned, hingga rekam jejaknya diketahui luas oleh publik. Soal Kompetensi, Kapabilitas, Akseptabilitas, dan Elektabilitas jadi menu utama penolakan. Walaupun secara logistik, sudah disiapkan Guntur dan Mbak Pur.

Kini rakyat sudah cukup memiliki pengetahuan, ditengah pengalaman ter-eksploitasinya suara mereka ketika Pilkada,Pileg,dan Pilpres yang lalu. Rakyat tak akan mudah lagi tergiur akan janji-janji, termasuk gelontoran bingkisan dan uang sebagai alat kampanye. Ada kesadaran, bahwa memilih pemimpin,perlu adanya pertimbangan azas kelayakan, kepatutan dan pertanggungjawaban.

Apa langkah lanjutan Guntur dan Mbak Pur yang sudah terjun bebas dalam kontestasi Pilgub Pabrik Permen kali ini? Mau terus nambah masalah dan berhadapan dengan ribuan rakyat atau meredam masalah dengan langkah-langkah alternatif penyelamatan? Dan yang penting harus diketahui, tanpa keterlibatan Pabrik Permen, Pilgub terus berlanjut. Disini akan terlihat kecerdasan atau kenekatan Mbak Pur dan Guntur yang akan muncul.