GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
30/11/2017 20:07:31
1964

Episode 34: Mbak Pur Main Taktik Lobang Belakang

Harianlampung.com - Perburuan partai politik kian meruncing. Para Kandidat bakal calon gubernur berjibaku menggoyang persekutuan. Goyah. Ronald gerilya, hampir di semua kubu. Guntur meradang, Mbak Pur galau. Gaya Lobang Belakang dimainkan.

Guntur marah besar. Pasukan yang selama ini berjibaku menggalang partai-partai, lepas tangan. Sementara rujuk dengan Ronald sudah ada titik terang. Namun Ronald terus memainkan, berteriak kencang. Tak berubah walau Mbak Pur, Guntur dan Ronald sudah bersekutu di Singapura: “ Bisa bergabung, bila tanpa Juned.” Sebuah siasat persekutuan liwat Lobang Belakang.

Jalinan persekutuan Lobang Belakang merupakan pilihan yang cerdas, publik terkecoh. Pabrik Permen dan Ronald, sama-sama tidak kehilangan muka. Di Ruang Publik, sosok Ronald mendapat bonus sebagai sosok pemberontak, menentang Pabrik Permen. Sebaliknya, Pabrik Permen keukeh sebagai penyokong utama Juned. Dua sisi yang saling bertentangan. Begitulah bisnis dan politik dimainkan. Ibarat dua sisi mata uang. Kog bisa terjadi?

Skenario Lobang Belakang, muncul diawali langkah Juned mengganjal anggaran belanja Ronald. Melalui diskusi matang di jajaran Go-Kart dan Anak Nakal, dilakukan penggalang lintas fraksi. Kesepakatan didapat, siap mengganjal anggaran. Entah apa yang menjadi faktor, peluru pengganjalan batal didistribusikan ketua Fraksi Go-Kart dan ketua Fraksi Anak Nakal. Sebuah tanda tanya besar? Padahal, dari kuota anggaran yang ada, minimal Ronald akan mengais pendapatan 300 miliar.

Situasi berbalik. Malah Ronald yang menembakkan peluru-peluru tajam ke fraksi-fraksi. Ditengah derasnya operasi tangkap tangan, kesepakatan untuk mengesahkan anggaran tercapai. Walau penuh dengan catatan-catatan khusus, palu pun diketuk.

Belakangan diketahui, peluru yang ditembakkan Ronald, bersumber dari Pabrik Permen. “Gua yang keluarin. Tiap anggota dapet 15 ribu,” ujar Limun Asem seraya menerangkan kembali terjadi persekongkolan antara Pabrik Permen dan Ronald.

“Bagaimana ceritanya?” tanya Najib Afansa.

“Mbak Pur pusing. elektabilitas Juned nggak naik-naik. Itu hasil survey Lembaga Suka Indehoy,” jelas Limun Asem.

“Terus solusinya bagaimana?” kejar Najib Afansa.

“Lembaga Suka Indehoy menyarankan agar pentas Wayang digiatkan. Ini potensi mendapatkan elektabilitas. Tapi Juned nggak mau. Dia suka dangdutan dan jalan sehat,” kata Limun Asem.

“Kenapa nolak?” tanya Najib Afansa.

“Juned bilang, dia sudah jadi Wayangnya Pabrik Permen, nanti malah menguatkan citra dimasyarakat, dia jadi Gubernur Wayang,” kata Limun Asem.

“Ooooo…begitu,” ujar Najib Afansa.

“Ada yang bersifat pribadi. Saya tak tahu,” kata Limun Asem.

“Pribadi bagaimana?” pancing Najib Afansa.

“Ya soal hubungan Juned dan Mbak Pur,” ujar Limun Asem sembari menjelaskan secara panjang lebar (simak Episode mendatang).

“Bisa-bisa Juned jadi Dul Monges dong?”ujar Najib Afansa.

“Waduh, saya nggak paham,” jawab Limun Asem.

Bila merujuk persekutuan sementara, Juned diusung empat partai: Go-Kart,Gergaji, Anak Nakal, dan Kutu Busuk. Sementara Mustajab diusung:  Nasi Goreng Adem,  Hati yang Luka,dan Kutu Sapi. Hermanus diusung Daun Itunya Pepaya, dan Ronald diusung partai: Demikianlah dan Pas Pasan.

Ketiga bakal cagub, Juned, Hermanus,dan Mustajab, secara legalitas sudah memenuhi syarat sebagai peserta kontestasi. Hanya Ronald yang belum memenuhi syarat. Nah, adanya kesepakatan Lobang Belakang (kebetulan Ronald memang suka), membuat syahwat Ronald tambah bergelora. Sebelumnya sudah gontai. Misalnya memerintahkan para tata praja mencari sebanyak-banyaknya kartu nama.

Kini, Ronald dan Juned terus menggoyang. Membeli dan menawarkan nilai perahu yang tidak masuk akal sehat banyak orang. Ronald  menggerogoti Mustajab di Partai Hati yang Luka. Misi telah dilaksanakan. Jajaran devisi 2, digalang untuk menyatakan dukungan terhadap Ronald. Sementara jajaran devisi 1 diliwati, langsung mengirim delegasi ke pusat kekuasaan partai.

Three Musketeers yang diutus Ronald, menenteng Kadu senilai 5 M, langsung disambar petinggi di pusat partai. Pintu telah dibuka untuk bergeser dari Mustajab. Menunggu detik-detik akhir pengeksekusian. Potensi kekisruhan, kembali bertambah.

Di lain sisi, upaya Ronald mengusung Partai Demikianlah menggandeng Partai Daun Itunya Pepaya terus berlangsung. Ronald mengajak persekutuan, berpasangan dengan Pak Ogah. Bila skenario ini tercapai, maka Partai Kutu Busuk, Partai Hati yang Luka, Partai Nasi Goreng Adem, Partai Pas Pasan  bersatu. Sebuah komposisi menarik, mengelabui banyak pihak soal adanya persekutuan bersama Pabrik Permen. Minimal, target persekutuan Ronald dengan Partai Hati yang Luka dan Partai Pas Pasan akan tercapai. Sehingga cukup syarat untuk mendaftar pada Januari 2018 mendatang.

Bagaimana dengan Juned? Persekutuan Go-Kart, Kutu Busuk, Anak Nakal, dan Gergaji terus bergoyang. Beragam alasan membuat gunjang-ganjing. Utamanya karena faktor Juned sendiri. Tidak bisa mengangkat elektabilitas, selain karena prilaku pribadi. Dilain sisi, upaya kerasnya menggandeng Nyonya Centil dari ujung Timur sebagai calon wakil gubernur, menimbulkan kekecewaan di Anak Nakal dan Gergaji. Sebab, secara kursi, Kutu Busuk berada di urutan buncit koalisi. Apalagi, terkini, perampok uang rakyat Setya November yang dibeli Mbak Pur, digusur dari kursi ketua Go-Kart. Sebuah gesekan serius menjadi pemicu bubarnya koalisi.

Dampak kesediaan si Nyonya Centil, Anak Nakal melakukan gerakan senyap. Sudah terjadi skenario penyelamatan. Sikap Anak Nakal akan diambil pada menit-menit terakhir, manakala kader Anak Nakal, Irfandi tak mendapatkan posisi wakil. Sementara Gergaji, yang berhak mendapat kursi wakil, melakukan reaksi secara terbuka. Sebagai Ketua Gergaji, Gundala menyatakan tidak bersedia mendampingi Juned. Bila memang dibutuhkan dan sesuai dengan keinginan Mbak Pur, berpasangan dengan etnis Jawa, Gergaji menyodorkan Kolonel Honor (bukan pangkat dalam militer) Sugiyo, kader akar rumput yang siap bekerja 24 jam. Bisa disuruh buat Kopi dan mijet Juned, hingga menyuntikkan vitamin, bila diperlukan.