GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
02/12/2017 07:00:49
2386

Episode 35: Manuver Mbak Pur Jelang Hengkang

Harianlampung.com - Pilgub 2018 jadi bagian akhir cawe-cawe pemilik Pabrik Permen. Guntur dan Mbak Pur bersiap hengkang menuju kawasan jajahan baru. Transaksi akuisisi saham Pabrik Permen bersama pengusaha Rusia tinggal menunggu waktu. Kasus penjarahan tanah dan penggelapan pajak yang terbongkar luas,jadi ganjalan yang signifikan.

Guntur mengambil langkah kuda. Lurus dan menikung secara tajam. Masalah yang terpendam puluhan tahun, mulai dari perampasan tanah warga, tanah ulayat, dan lahan konservasi masih tersimpan rapat. Kini, Api Dalam Sekam itu membara. Warga menggugat dimana-mana. Baik secara hukum di Pengadilan, secara politik di lembaga rakyat, hingga gerakan para aktifis demokrasi di jalan raya.

Waktu terus berjalan. Negoisasi digencarkan agar akuisisi saham Pabrik Permen lancar. Setidaknya ada kesepakatan, 70% saham Pabrik Permen akan ditransaksikan. Sisanya, 30% sebagian besar tetap menjadi milik keluarga Mbak Pur, sisanya dimiliki para pengabdi yang jadi pelindung kejahatan, baik berupa pajak hingga perampasan tanah rakyat selama ini.

Satu persatu masalah perlu dituntaskan. Penggusuran Pansus yang menjadi awal semaraknya kasus, wajib dilakukan. Setelah Juned gagal menghalangi terbentuknya satuan penyelidikan itu, Mbak Pur menugaskan petinggi tata praja terpilih. Namun Pansus gagal diberangus, hanya mempreteli anggota.

Perintah membrangus Pansus senilai 10 miliar gagal. Pansus terus berjalan dan menghasilkan dokumen resmi  hasil penyelidikan. Adu siasat  terus dilakukan. Setelah hasil penyelidikan dilaporkan kepada lembaga rakyat yang lebih tinggi, persoalan-persoalan terkait perampasan tanah warga, terungkap secara terang, walau belum benderang. Butuh penyelidikan lanjutan guna mengembalikan hak warga dan hak ulayat, juga kawasan konservasi yang selama ini dikangkangi Pabrik Permen.

Setelah Juned dan Winadek gagal menaklukan, kini  petinggi tata praja yang segera lengser, melakukan manuver serupa. Mempreteli Pansus yang tersisa. Namun  gagal. Anggota Pansus dari Kutu Sapi dan Hati yang Luka, menampik tawaran 2 miliar yang disodorkan Hantu Rozali.

Secara bersamaan, teror-teror melalui sambungan telpon, menggunakan nomer tak nyata gencar dilakukan. Ancaman dilakukan terhadap Ketua Pansus dan anggotanya. Termasuk para pelapor, juga para akademisi, penulis Buku Putih menyoroti kasus yang sudah berlangsung puluhan tahun di Pabrik Permen, terkena teror.

Disisi lain, Mbak Pur melakukan manuver penyelamatan Juned. Sumbangan untuk petinggi Go-Kart diselaraskan, menjelang detik-detik pelengseran Setan November. Ongkos perlawanan Idris Marhaban disiapkan, menentang acara pelengseran. Puluhan tas golf berisi dolar di stand by kan. Tinggal angkat dan didistribusikan.

Sementara pergulatan memperebutkan Partai Daun Itunya Pepaya, terus dilakukan. Teknan Mbak Pur sedikit dikurangi, membiarkan Ronald melakukan manuver. Pointnya membuat petinggi Partai Daun Itunya Pepaya goyang.

Kegelisahan menerpa banyak pihak. Ada dua skenario yang mengkristal.  Berpaling ke Ronald bersama Pak Ogah, atau berpaling ke Mbak Pur dengan menggeser Juned jadi cawagub, berpasangan dengan sang mantan jenderal. Keduanya satu tujuan: Menggerus Hermanus.

Siapa saja kandidat cagub yang akan tampil pada kontestasi? Masih terlalu dini untuk ditentukan, namun minggu kedua Desember menjadi waktu yang menegangkan. Berlangsung sangat dinamis, ditengah Mbak Pur melanjutan pelepasan saham Pabrik Permen dan bersiap-siap meninggalkan daerah  jajahan, sebelum menuju daerah  jajahan baru.