GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
06/12/2017 11:50:07
2141

Episode 37: Mbak Pur Diantara Keangkuhan dan Cinta

Harianlampung.com - Ditengah deruan Badai Dahlia memporak porandakan rumah warga, Pabrik Permen pun mengalami hal serupa. Ratusan  miliar digelontorkan, demi Juned merengkuh kursi gubernur, tampaknya akan bermuara pada rasa kecewa. Akankah Juned jadi Dul Monges?

Sejak awal  Mbak Pur gigih mempersiapkan kuda-kuda. Pondasi penopang Juned untuk merebut kursi yang kini diduduki Ronald. Hanya saja, realita menunjukkan, Juned tak sekokoh kuda-kuda yang ada. Pelana yang dikenakan, tercerai burai ke kiri dan ke kanan. Juned terjerembab pada urutan nomor satu dari belakang. Tak diterima oleh mayoritas warga. Angka elektabilitas hanya bertengger di nol koma.

Kontradiktif. Antara syahwat mencaplok kekuasaan yang terus bergelora, dibanding dengan realita. Luar biasanya lagi, Juned sudah merasa jadi gubernur. Sikap pongah kian dipertontonkan kemana-mana. Tim Pabrik Permen, Tim Partai, dan Tim Hore yang selalu mendampingi Juned kemana-mana, tak lebih menjadi Beduwo belaka. Dibayar sesuai kerja.

Realita lapangan disampaikan kepada Mbak Pur, tapi pemilik Pabrik Permen itu tak percaya. “Dilingkungan sendiri (Pabrik Permen), tidak berkenan memilih Juned. Selain pongah, dia bukan siapa-siapa,” ujar Herbanus, orang dekat Mbak Pur.

Juned tidak memiliki sikap kepemimpinan yang baik. Dia selalu menganggap dirinya paling benar. Sumbang pikiran Tim ke Juned, hanya sebatas didengar, agar terkesan dia dialogis. Levelnya belum pantas memimpin rakyat, baru cocok memimpin Panti Pijet. “Memang apa perannya Juned untuk Pabrik Permen? Kog dibelain habis-habisan,”ungkap Limun Asem.

Sementara persekutuan partai-partai yang tadinya kokoh, lambat laun Lunglai. Terlalu banyak masalah yang harus dihadapi Mbak Pur dan Guntur. Soal ketokohan, kelayakan dan karakter Juned, jadi menu utama hadirnya penolakan. Tapi itulah bentuk kombinasi rasa, antara keangkuhan dan cinta. Belum lagi dampak kasus si perampok uang rakyat, Setan November. Padahal, Setan November merupakan gantungan kokoh Juned (tentu saja melalui sang kakak ipar, Guntur).

Ratusan miliar uang sudah diguyurkan Pabrik Permen pada Setan November, akan terbuang sia-sia. Apalagi, kasus penobatan Juned sebagai calon gubernur partai, sudah memasuki fase pokok perkara. Mahkamah Partai dengan cepat menggelar persidangan. Ini sebuah pertanda awal, materi gugatan akan dikabulkan.

“Dik, gimana kabar mu..” sapa Mbak Pur dari Singapura.

“Baik Bun. Sedikit lelah, kurang tambahan vitamin saja,” jawab Juned.

“Lo, kamu suka minum vitamin tambahan ya..” tanya Mbak Pur.

“Tentu dong. Kalau nggak disuntik vitamin, kurang segar,” balas Juned.

“Apa….!!! Disuntik vitamin,” serga Mbak Pur dengan nada terkejut.

“Vitamin C aja Bun,” timpal Juned.

“Siapa yang suntik?” tanya Mbak Pur dengan nada tinggi.

“Ada perawat. Masih sepupu,” ujar Juned cepat.

“O..gitu. Coba sepupunya dibawa. Aku juga mau suntik vitamin,” jawab Mbak Pur.

“Sekarang nggak bisa Bun.. lagi dinas di luar kota,” ujar Juned ngeles (sembari berdebar. Terbayang wajah Vero akan berjumpa Mbak Pur).

Nun di seberang pulau, di pusat-pusat kekuasaan partai, terjadi serangan-serangan cukup gencar. Tidak hanya di Go-Kart, tapi juga di Demikianlah, dan Daun Itunya Pepaya. Pasukan-pasukan siluman melakukan manuver sebisa-bisanya, guna mendapatkan surat sakti menjadi calon gubernur untuk juragannya.

Bila tidak berlebihan percaya diri, cagub-cagub yang santer memasuki Ruang Publik, sewajarnya memahami, bahwa pergumulan untuk mengusung cagub atau cawagub, bukan sesuatu yang sederhana. Tidak bisa diselesaikan hanya dengan guyuran uang. Ideologi partai, menjadi pertimbangan yang diutamakan. Bila salah menjatuhkan pilihan, partai terancam  degradasi.  Sementara posisi partai merupakan kepentingan para kader. Daripada tenggelam, lebih baik hengkang. Bila tidak, korban pertama adalah para calon anggota legislatif diseluruh negeri. Tidak dipilih rakyat karena citra partai terdegradasi.