GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
21/12/2017 12:42:25
3774

Episode 41: Mbak Pur Happy, Cak Lelek Happy

Harianlampung.com - Deklarasi  pengantin Pabrik Permen sudah dilakukan. Sebuah perkawinan tanpa jiwa, sungsang (langsung dipasangkan), seperti sudah diduga sejak awal. Dimana etika dan komitmen dikesampingkan. lebih karena melihat jumlah tumpukan uang.

Sesuai dengan skenario awal, partai politik yang diberi uang muka oleh Mbak Pur untuk mengusung Juned, ibarat ikan dalam Bubu, selain tak dirawat juga tak diberi makan. Terjadi pemberontak atau saling kanibal. Bagi Mbak Pur, hal demikian tak penting. Tujuan Mbak Pur hanya memastikan Juned memenuhi syarat jumlah kursi dukungan dan menyingkirkan Ronald dari arena kontestasi.

Klik Link Akhirnya Terkuak  harianlampung.com/index.php

Klik Link Ulah Mbak Pur harianlampung.com/index.php

Ada moment menarik yang ditangkap kamera wartawan, ketika berlangsung deklarasi pasangan Juned dan Nyonya Centil (sepatutnya disebut nona, karena status formalnya lajang?). Ketika asik berfoto, sadar atau memang disengaja, ketika Juned berhimpit-himpit sembari menyelimpangkan tangan di bahu kiri si Centil, tiba-tiba istri Juned menyeruak kedepan. Mengambil posisi memisahkan keduanya. Hadirin terkejut.

Sebelumnya, mengambil posisi diantara Juned dan Nyonya Centil. Cak Lelek dengan sumringah  mengumumkan bahwa Partai Kutu Busuk mengusung keduanya sebagai pasangan untuk mengikuti kontestasi Pilgub di Kawasan Pabrik Permen.

Usai deklarasi, masuk pada sessi tanya jawab bersama para juru warta. Cak Lelek ditanya, kenapa Kutu Busuk mendahului Go-Kart melakukan deklarasi, padahal Juned katanya diusung Go-Kart belum melakukan? Cak Lelek gagap. “Visi dan misi Juned selaras dengan kita,” jawab Cak Lelek.

“Memang apa visi dan misi Juned?” kejar juru warta. “Ooo tanyakan langsung dengan Juned,” jawab Cak Lelek sembari ngeloyor.

Pertanyaan yang sama diajukan ke Juned. Pasangan Mbak Pur (eh maaf, pasangan Nyonya Centil) menjawab “Kita satu visi. Memajukan rakyat di Kawasan Pabrik Permen.” Sementara menjawab pertanyaan lainnya, Juned mengatakan deklarasi oleh Kutu Busuk merupakan jembatan menuju deklarasi Go-Kart. Membingungkan. Ada apa?

Begini ceritanya. Ketika Nyonya Centil (tidak jelas siapa yang menjadi tuan) mengadakan acara Pesta Gajah, beberapa bulan lalu. Cak Lelek turut hadir (entah dalam kapasitas apa. Pejabat negara bukan, padahal ini acara pemerintah. Mungkin karena rasa kangen) dikejar para juru warta yang sudah dibeli Mbak Pur. Sebab para juru warta ini diperintahkan untuk mendapat kepastian  jawaban dari Cak Lelek tentang dukungannya terhadap Juned. Mengingat jajaran Kutu Busuk dibawah, keras menolak Juned.

Nah, saat itu Cak Lelek menjawab sumbang: Sedang kita pikirkan keputusan mendukung atau tidak mendukung Juned. “Sekarang sudah dikeluarkan rekomendasi untuk Juned agar berkoordinasi dengan jajaran partai. Kita lihat nanti hasilnya.”

Sementara Nyonya Centil menjawab: "Saya akan maju bila berpasangan dengan Ronald,” ungkap Nyonya Centil.

"Apa yang jadi pertimbangan?" kejar para juru warta.

"Secara pribadi saya tidak cocok dengan mereka. Selain itu, kemungkinan Mustajab dan Juned menang cukup susah," jawab Nyonya Centil.

"Sudah sejauhmana pembicaraannya?" kejar juru warta.

"Sudah jauh sih. Kita tunggu saja perintah Mas ( eh.. Cak) Lelek, ketua partai," terang Nyonya Centil.

Sebelum Nyonya Centil memberi jawaban kepada para juru warta, memang terjadi dialog serius antara dirinya bersama Masdulhak dan Faisal Redo, orang kepercayaan Cak Lelek, juga langsung dihadiri Cak Lelek dan Mahabarata, orang kepercayaan Ronald.

Dari dua fragmen diatas, moment deklarasi dan Pesta Gajah, muncul banyak tanda tanya. Baik di kalangan internal Kutu Busuk maupun di masyarakat luas (jawaban Nyonya Centil dan Cak Lelek di Pesta Gajah, memang tidak dirilis juru warta yang mendapat suap dari Mbak Pur. Hanya media independen yang merilis wawancara tersebut).

Banyak pihak terkejut, termasuk orang kepercayaan  Cak Lelek, ketika Kutu Busuk mengusung Juned berpasangan dengan Nyonya Centil.

"Ini bukan soal serasi atau tidak. Ini soal uang. Mbak Pur bayar besar. Permintaan kita dikabulkan semua. Satu kabupaten dapet 5 M," jelas Faisal Redo dalam obrolan sore di Warung Sate.

"Cuma karena uang?" timpal Sri Aminah.

"Partai perlu uang. Ini kesempatan dan ditangkap. Itu aja. Nyonya Centil tau itu semua. Bila berpikir sehat dengan fakta lapangan, ini tidak dilakukan," jelas Faisal.

"O gitu. Cuma sebatas kalkulator," gumam Sri.

"Ya begitu. Lembaga survey yang dibayar Juned saja, menempatkan dia di urutan ke-empat. Go-Kart belum mendeklarasikan Juned. Nah kita yang mendahului deklarasi," ujar Faisal.

“Bukan karena hubungan Nyonya Centil dan Cak Lelek?” timpal Sri.

“Bisa juga jadi pertimbangan. Sulit menggunakan nalar rasional, baik dari aspek politik ataupun strategi,” jawab Faisal.

“Lantas apa?” kejar Sri.

“Ya nggak apa-apa. Yang penting Cak Lelek, Nyonya Centil dan Mbak Pur happy,” bisik Faisal.