GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
26/12/2017 15:03:06
4271

Episode 42: Bersekutu Membobol Brankas Mbak Pur

Harianlampung.com - Tiada pesta yang tak usai. Koalisi sementara yang selama ini diaku bersama Mbak Pur buyar. Partai Anak Nakal berang, merasa dilecehkan. Semua berawal dari ingkarnya kesepakatan dalam proses menentukan pasangan Juned. Padahal sejak awal, pasangan gelap Mbak Pur ini sudah menyatakan, untuk menentukan cawagub, harus dirembuk bersama partai koalisi.

Serbuan musuh Mbak Pur ke pusat kekuasaan Go-Kart, sejatinya bukan hanya dilakukan lawan politik yang terlihat nyata. Namun dilakukan dan dirancang oleh Juned dan sekutunya yang ada di pusat Go-Kart. Sebuah langkah cerdik menguras lebih dalam brangkas Pabrik Permen. Buah kekesalan atas ketatnya anggaran yang dikucurkan Mbak Pur kepada Juned.

Perlawanan Adit dan para sekutunya menggerus Juned dari kursi kekuasaan di Go-Kart, terus berlanjut. Ditengah badai serangan tadi, Juned menemukan kesempatan membobol pundi Mbak Pur lebih dalam. Untuk menambah pundi pribadinya. Situasi lebih kritis diciptakan. Juned bersekutu dengan Nusrodin Wahabi, Idris Marhaban, Yahut Zainudin meniupkan suasana kritis tadi. Melalui ketiga petinggi Go-Kart, informasi kritis ditiupkan langsung ke Singapura, dimana Mbak Pur berada.

Bagi pihak yang dekat dengan Juned, langkah membobol brangkas model begitu, bukan sesuatu yang luar biasa. Sudah menjadi kebiasaan Juned. Itulah yang menghantarkan Juned ditunjuk sebagai Ketua RCTI (Rombongan Calo Tanah Indonesia), sejak masih aktif sebagai tata praja diurusan hutan menghutan.

“Bukan soal saya tidak menjadi cagub. Sebab saya sendiri tidak sudi jadi wayang Pabrik Permen. Saya bisa jadi anggota DPR saja,” ujar Juned membuka pembiacaran.

“Serius bang?” tanya Yahut.

“Ya serius. Untuk apa itu. Saya juga punya harga diri. Kalau saya jadi gubernur, kita yang atur Pabrik Permen, bukan mereka yang atur. Lihat saja nanti,” ujar Juned.

“Kita mainkan. Biar dolar bertambah, sekalian buat liburan tahun baru,” sergah Nusrodin.

“Kalianlah yang memainkan. Tugas saya meyakinkan Mbak Pur,” ujar Juned.

“Ok. Nanti aku yang menghubungi Mbak Pur. Kau yang ngolah ya,” jawab Yahut kepada Nusrodin.

Nusrodin, Yahut menghubungi Mbak Pur. Minta agar segera dikucurkan ratusan ribu dolar Singapura, sebagai biaya operasional. Tujuannya menutup gerakan politik yang akan menumbangkan Juned. Guna meyakinkan situasi kritis serta melakukan percepatan memastikan Juned tetap diusung Go-Kart, dirancang rapat pengurus, pada Kamis lalu. Berkas surat keputusan disiapkan dan ditandatangani Idris Marhaban untuk segera diterbangkan ke Bali, menemui Air Hartawan, ketua baru yang belum didaftarkan di lembaga negara. Berhasilkah?

Lantas dirancang agar berkas kepengurusan Go-Kart didaftarkan. Hanya dengan komposisi mengganti ketua umum saja. Ternyata, Juned masih tersandung dengan langkah mahkamah yang menunda sidang. Disini ditemukan pelanggaran serius terhadap aturan partai. Walau ditunda, tetap menjadi ancaman dalam minggu-minggu mendatang. Tertipu kah Air Hartawan yang mencanangkan Go-Kart bersih?

Terlepas dari skenario di tubuh Go-Kart, yang pasti, brangkas Mbak Pur bobol makin besar. Buah persekutuan Juned, Nusrodin Wahabi, Idris Marhaban, Yahut Zainudin. Mereka senang dan bahagia membagi hasil jarahannya. Kian banyak serangan terbuka terhadap Juned, bertambah pula pundi-pundi pribadi Empat Penjarah ini. Semua bisa terjadi karena hubungan pribadi antara Kak Pur dan Dik Juned.

Diluar kemesraan Juned dan Nyonya (eh nona) Centil menikmati hamparan pantai, juragan Partai Anak Nakal menyatakan hengkang dari koalisi Juned. Sikap ini sebenarnya sudah disadari sejak awal oleh jajaran Anak Nakal. Mereka merasa ditipu. Semua janji yang diungkapkan pada awal persekutuan, diingkari Mbak Pur. Kini mereka tak diajak bicara saat menentukan berpasangan dengan Nyonya Centil.

Soalnya kemudian, seriuskah langkah juragan Anak Nakal hengkang? Apakah hanya merupakan cara menciptakan daya tawar baru. Ditambah dolar, terus diam. Tak jadi hengkang. Bila ini yang dilakukan, harga diri personal dan martabat partai, kian terkubur dalam jurang yang sangat dalam.

Sementara Partai Gergaji, tak lama setelah berjalannya persekutuan, sudah merasa diingkari. Lantas melakukan perlawanan. Menolak diajak bersekutu dengan Pabrik Permen. Sebab persekutuan yang ada merupakan persekutuan antar partai. Bukan dengan Pabrik Permen.

Pasca deklarasi Juned dan Nyonya Centil oleh Kutu Busuk, tanpa Go-Kart, situasi politik di Kawasan Pabrik Permen, menyulut api yang sejak awal dalam Sekam. Ada yang sudah merasa jadi gubernur, ada pula yang merasa bimbang. Tentu saja ada yang merasa tertawa melihat tingkah pola yang demikian.

Pertanyaannya, berapa pasang peserta kontestasi Pilgub di Kawasan Pabrik Permen? Jawabannya akan ditemukan, pada minggu pertama Januari 2018 mendatang. Namun, bila Partai Hati yang Luka posisinya tak berubah, Mustajab dipastikan turut serta. Bila sebaliknya, peluang Mustajab ada pada Anak Nakal yang hengkang dari Juned.

Bila Juned benar diusulkan Go-Kart, keikutsertaannya dalam kontestasi terbilang aman. Walaupun sudah dikatakan ada kepastian, tapi politik tetap bergeliat hingga detik-detik akhir. Masih terlalu banyak yang dipersoalkan. Dan ini menjadi rezeki tambahan, membobol brankas Mbak Pur agar lebih dalam.

Sementara posisi Hermanus, masih berkutat untuk memastikan dukungan Partai Daun Itunya Pepaya. Gangguan yang dialami Hermanus, bukan hanya datang dari eksternal, tapi juga bersumber dari kalangan internal. Disisi lain, secara diam-diam, Mbak Pur memainkan peranan membantu Ando agar berpasangan dengan Hermanus. Targetnya, Mustajab tereliminasi, Ando mengusung masuk Hati yang Luka ke Daun Itunya Pepaya, sekaligus menggagalkan Ronald untuk mendapatkan.

Bagaimana dengan Ronald? Sejauh ini, Ronald baru menggenggam Partai Pas Pasan. Masih belum memenuhi persyaratan untuk turut kontestasi. Bila Partai Daun Itunya Pepaya gagal hengkang ke pangkuan Ronald, masih ada potensi Anak Nakal atau Gergaji  yang bisa membawa masuk arena kompetisi.

Meski dikemas dengan beragam gaya, munculnya persoalan-persoalan ditubuh partai dan para kandidat, semua karena ulah Mbak Pur. Juragan Pabrik Permen ini mengandalkan kekuatan uang hasil penjajahan mereka di Kawasan Pabrik Permen. Partai-partai dibeli dengan nilai puluhan miliar. Bahkan harga perahu dinaikkan tiga kali lipat. Semua diadu domba, memang ilmunya penjajah.

Partai saling cakar-cakaran. Bahkan hingga terjadi perseteruan di akar rumput. Simak saja, Partai Anak Nakal, Partai Kutu Busuk ricuh hingga ke akar rumput. Kebijakan petinggi partai di tingkat pusat, ditentang habis oleh akar rumput. Mbak Pur berpandangan semua bisa diselesaikan dengan tumpukan dolar.

“Kalau Boneka, masih bisa diajak tidur bersama, kalau Juned itu  Orang-Orangan Sawah, bergerak kalau Mbak Pur menarik talinya,” ungkap Patinasaromli, sekretaris Partai Gergaji dihadapan ribuan kader.

Kini rakyat hanya ada dua pilihan. Memilih kaki tangan penjajah atau memilih pejuang yang ingin membebaskan rakyat dari penjajahan Pabrik Permen.