GAGASAN
Ilustrasi (pin/dok)
30/12/2017 04:19:55
3191

Episode Mbak Pur, Pilkada, dan Kontestasi Idiotisme

Harianlampung.com - Tatkala suhu politik di Lampung mulai menggeliat menyongsong pemilihan gubernur (pilgub) 2018, harianlampung.com sejak pertengahan Agustus 2017 menghadirkan sebuah serial yang menggelitik: “Episode Mbak Pur”.  Awalnya episode ini dianggap sebagai sebuah kisah picisan. Perpaduan roman dan syahwat kekuasaan dari seorang wanita setengah baya. Pembaca melihat sekenanya di tengah-tengah waktu luang mengakses media online. Sesekali tersenyum simpul dan dilalah pikiran cabul harta mulai merambat juga.  Mungkinkah Mbak Pur ini adalah sosok yang nyata ada? Seberapa seksi dia? Seberapa mudah dia digoda? Apakah selain Juned masih mungkin ada orang lain bisa merayu uang dan tubuhnya? Semua mulai menitikkan liur.

Episode demi episode terus mengalir. Rata-rata tiap minggu harianlampung.com menayangkan babak baru dari serial Mbak Pur. Kepenasaran cabul harta mulai melebar tetapi kesadaran pembaca malah semakin mengerucut: ini kisah nyata!

Pembaca juga mulai bergairah menebak-nebak siapa sebenarnya si Ronald, Mustajab, Hermanus, Juned, mbak Pur, dan lain-lain. Pun mulai asyik mengira-ngira Go-Kart, Demikianlah, Pas-Pasan, Gergaji, Kutu Busuk, Hati Yang Luka, Anak Nakal, dan sebagainya adalah partai apa. Meski pembaca sanggup menduga tetapi mereka tidak berani 100% pasti bahwa Episode Mbak Pur mendeskripsikan situasi politik Lampung mutakhir. Pikiran yakin tetapi hati masih penasaran. Inilah persepsi. Konfrontasi dalam pikiran terhadap apa yang diketahui dan dipahami (frame of reference) tetapi tetap tidak terlalu percaya karena fakta yang ada pada dirinya (field of experience) tidak utuh. Masing-masing pembaca memiliki potongan-potongan fakta. Semakin banyak fakta yang dia peroleh, semakin mantap tuduhannya dalam proses menikmati Episode Mbak Pur. Sedangkan pembaca yang minim bukti hanya akan terbengong ikhlas. Ingin berhenti mengikuti tetapi mengapa Episode ini belum berakhir juga dan jumlah pembacanya terus bertambah hingga beribu-ribu pengunjung.

Sang penulis, Yusuf Yazid, begitu piawai membenturbenturkan persepsi pembaca. Racikan cerita dan ramuan kata-kata yang dipilih selalu menggoda pembaca yang melihat kesesuain kisah dengan konteks pilgub Lampung. Mereka saling bersahutan mengomentari Episode Mbak Pur di ruang-ruang maya ataupun berkelakar ketika berjumpa-sapa. Nama-nama tokoh semisal Juned, Ronald, Mbak Pur, menjadi nama pengganti ketika mereka mendedah situasi politik menjelang pilkada di Lampung.  

Benarkah Episode Mbak Pur ini kisah nyata? Yusuf Yazid dalam sebuah kesempatan mengatakan silakan saja pembaca mengartikan apapun. Lewat berbagai perumpamaan dan perbandingan, Episode ini berupaya menderangkan kepada publik bahwa mayoritas tokoh-tokoh politik di Lampung sikapnya sangat elitis. Masalah masyarakat ingin diselesaikan dengan cara-cara arisan. Kekuasaan ingin direbut melulu atas hitung-hitungan uang. Sedangkan mereka memiliki tanggung jawab untuk memecahkan persoalan-persoalan publik. Nasib masyarakat akan fatal. Melalui Episode Mbak Pur pula, Yusuf Yazid berharap semakin banyak publik yang terlibat dalam memahami kepentingan-kepentingan politik di Lampung. Sehingga diharapkan output pesta demokrasi akan optimal berpihak pada masyarakat.

Terlepas Episode Mbak Pur ini fiksi atau fakta, penuturan sebuah konteks bisa saja dikamuflase. Bahkan bisa juga didramatisir untuk menghadirkan ikatan emosi yang optimum dan tokoh-tokoh yang mengira masuk dalam diskripsi menjadi baper nan blingsatan. Ini adalah pilihan gaya bercerita yang menjadi hak prerogatif penulisnya. Di sisi lain, pembaca pun memiliki hak setara: bebas menafsirkan. Melibatkan imajinasi yang paling liar sekalipun, bolehlah. Kesepahaman dan orgasme publik mungkin dapat terbentuk ketika episode ini memasuki babak akhir.

Meski demikian, kita bisa melihat beberapa hal dalam jalinan kisahnya. Yang pertama adalah sosok Mbak Pur itu sendiri. Beliau merefleksikan ambisi para pengusaha dalam arena politik di Indonesia. Hampir semua pengusaha di Indonesia merasa tidak nyaman apabila mereka tidak memiliki cantolan ke tangan-tangan penguasa politik. Tinggal seberapa besar porsi pengaruhnya. Semakin besar akses politik yang ingin diambil sang pengusaha berarti semakin besar angka investasi yang harus ditanamkan. Rata-rata pengusaha tidak ingin berlebihan. Senyamannya saja dalam menopang iklim usaha mereka. Investasi yang terlalu besar, resiko politiknya juga besar. Belum tentu modal dapat kembali. Stigma bendera politik tertentu akan melekat. Sesuatu yang dihindari para penguasa karena politik itu dinamis dan rezim mudah berganti-ganti. Perubahan angin politik tentu tidak menguntungkan pengusaha yang telah mengibarkan sebuah bendera politik.

Mengapa mbak Pur malah memilih posisi berbeda dengan melemparkan semua koin dalam satu keranjang? Bisa jadi karena kesombongan atas kekuatan uangnya atau malah ketakutan yang luar biasa bila kekuasaan tidak berpihak padanya. Namun apapun alasannya, pilihan dari dua keadaan itu menunjukkan sikap idiot yang tiada berperi. Bukankah politik itu seni? Sebuah seni tidak dapat dikonversikan pada hitungan satu tambah satu sama dengan dua. Dia memerlukan pengaturan bidak-bidak sehingga dapat bersinergi dalam memberikan manfaat yang optimal. Kalau uang adalah ukuran kekuasaan, pastilah para presiden atau pemimpin politik di dunia ini adalah orang yang paling kaya di kawasan itu. Lantas apa pula yang dinginkan dari sebuah kekuasaan yang absolut bagi seorang pengusaha? Bukankah dunia usaha saling berkelindan dengan berbagai variabel sosial? Pada era modern, faktor “pasar” tidak bisa dikendalikan oleh faktor kekuasaan politik semata. Psikologi pembeli, daya beli, citra penjual, dan sebagainya mempengaruhi volume transaksi. Semisal, variabel sosial dapat memunculkan gerakan pemboikotan pada sebuah produk. Kalaupun persoalan kepemilikan lahan yang menjadi kegelisahan utama mbak Pur, seharusnya mbak Pur lebih percaya pada pengaruh komitmen layanan sosial dari Pabrik Permen itu sendiri, bukan malah berjumpalitan pada dahan-dahan lentur di wilayah politik. Di serial episode ini, akibat faktor Juned juga, mbak Pur akhirnya sekedar menjadi tokoh lang ling lung.

Pihak kedua dari Episode Mbak Pur ini adalah para tokoh yang disebut berpotensi sebagai kandidat Gubernur. Mereka adalah Mustajab, Juned, Ronald, dan Hermanus. Di luar Hermanus yang konsisten pada Partai Daunnya Itu Pepaya, ketiga tokoh yang lain digambarkan selalu kebat-kebit bermanuver. Berbagai kecanggihan trik dan langkah politik mereka lakukan. Bahkan sekilas seperti usap-usap ala ilmu lampu Aladdin. Namun, apapun yang mereka lakukan, tabiat mereka segaris seiman dengan mbak Pur: kekuatan uang menjadi ukuran utama untuk mencapai keberhasilan. Tidak ada kepercayaan sama sekali di kepala mereka bahwa variabel rakyat dalam proses demokrasi setara dengan suara Tuhan. Jin lampu Aladdin mengalahkan suara Tuhan. Eksistensi rakyat dimarjinalkan. Rakyat sebatas hanya dinilai dengan panggung artis dangdut seronok dan organ tunggal. Hingar-bingar pesta rakyat ini dipersatukan dengan joget asoy para kandidat yang tanpa malu-malu menampilkan mimik idiot agar mendapat sorak-sorai dari rakyat. Bila tidak mempan juga, sawerkan saja uang. Pasti hasilnya histeris haha-hihi.

Pendidikan politik seperti apa kalau sudah begini? Jauhlah kalau ingin bicara komitmen politik. Kalau ditanya program, jawabannya pun asal-asalan dan berkesan ngaco. Kewajiban menyusun visi-misi oleh penyelenggara pemilu dipandang sekedar formalitas. Termasuk apa yang mereka bentangkan di spanduk-spanduk dan baliho-baliho, semuanya superfisial. Rakyat tidak penting. Parpol-lah segala-galanya karena mereka menentukan tiket apakah seorang kandidat dapat berlayar atau tidak di atas perahu.  Maka urusan cipika-cipiki dan sowan sana-sini melulu hanya pada pengurus-pengurus parpol. Wajah tertawa hati gelisah. Menyedihkan. Mereka lupa bahwa apa gunanya mendapat perahu bila kemudian ternyata kalah. Siapa yang menentukan kemenangan? Rakyat! Pada situasi inilah pihak kedua setara konyolnya dengan mbak Pur.

Pihak ketiga dalam Episode Mbak Pur ini adalah parpol-parpol. Parpol menyadari bahwa dalam pemilihan langsung seperti sekarang ini, mereka tidak terlalu memikirkan gaya-gaya pendekatan kandidat. Mereka biarkan kandidat bermanuver secantik-cantiknya ataupun segoblok-gobloknya. Terserah. Parpol sadar ini adalah kepentingan tiap lima tahun. Berbaik-baik tiap lima tahun sekali. Pada titik tertentu parpol-parpol ini akhirnya akan tahu mana kandidat yang potensial untuk didukung. Dilihat dari: potensi uang dan potensi menang. Jadi apapun yang dilakukan Mustajab, Hermanus, Juned, maupun Ronald, parpol-parpol ini tetap terus–menerus mengayunkan pendulum demi memperkuat bargaining position mereka. Bukan karena tarian kandidat-kandidat ini menawan atupun menyentuh hati.  

Itulah realita parpol. Simple. Namun sayangnya, akibat racun uang mbak Pur, parpol-parpol ini tergiring melacurkan ideologi dan harga diri. Survei-survei potensi menang dari para kandidat tidak diperiksa-periksa lagi. Semuanya menginjak gas untuk memperoleh pendapatan maksimal. Harga diri partai menjadi nomor sekian. Akibatnya publik dibuat terkejut-kejut. Hari ini nangka besok ketela. Ideologi berantakan. Mana kandidat yang memiliki komitmen tertinggi pada rakyat tidak lagi menjadi ukuran. Kian banyak parpol yang percaya bahwa uang adalah faktor yang paling handal untuk membeli suara Tuhan. Kandidat yang paling banyak memiliki cadangan uang diyakini yang paling mungkin untuk menang. Dia harus didukung agar besok parpol dapat terus berpesta. Mereka lupa bahwa rakyat memiliki logikanya sendiri. Angin perubahan tidak dapat digiring hanya dengan jaring uang. Rakyat sebagai kekuatan demokrasi malah diabaikan juga oleh pihak ketiga ini. Rakyat melihat mereka dengan miris.

Pihak terakhir di Episode Mbak Pur ini adalah mereka yang termasuk tim hore-hore (aslinya adalah disebut tim sukses alias TS). Mereka yang mengaku trengginas dalam penggalangan pemenangan. Mereka sebenarnya tidak hebat-hebat benar. Namun daya berisiknya memang luar biasa. Semakin berisik semakin mereka berharap kandidat akan melirik mereka. Bayangkan kaleng rombeng yang ditabuh, seperti itulah. Ilmu tiup-tiup asap juga mereka keluarkan. Persis usap-usap ala lampu Aladdin tadi. Mulai dari ilmu kampus, ilmu perasaan, hingga ilmu kemenyan mereka gelar. Latar belakang mereka pun bermacam-macam. Umumnya pengurus parpol yang frustasi dan rakus, jurnalis galau, atau juga akademisi yang ingin kaya mendadak. Berharap ada kandidat idiot yang dapat mereka perdaya. Air jernih mereka katakan keruh, udara sejuk mereka katakan sumuk. Jika sudah dikontrak oleh kandidat, mereka akan lebih banyak meniupkan kata-kata manis pada kandidat. ABS, Asal Bapak Senang. Yang penting dapat uang, bisa cekakak-cekikik dengan kandidat. Lalu saat pulang masing-masing berwajah sumringah. Yang satu ceria karena membawa pulang uang via proposal, yang satu lagi pulang dengan mimpi pasti jadi Gubernur.

Tidak ada kandidat yang tidak merekrut tim hore-hore. Minimal sebagai sugesti. Di tengah gelontoran uang sana-sini, kandidat lupa bahwa tim hore-hore sebenarnya adalah penghubung yang paling potensial dalam membaca kehendak rakyat. Merekalah yang sejatinya dapat menjadi tulang punggung meraih kemenangan. Bila bayaran yang disediakan setimpal profesional, kandidat dapat memperoleh tim sukses yang brilyan dengan segudang insting dan pengalaman berlevel nasional. Dengarkan saran-saran mereka. Tentu dengan catatan kandidat sendiri harus paham parameter kapasitas dan requirement-nya. Kalau tidak, kandidat tetap saja mendapat orang yang payah meski dibayar melimpah. Namun karena yang dilihat lebih banyak gelombang berisiknya, kandidat selalu mencari tim hore-hore dengan bayaran yang paling murah. Mereka menganggap tim hore-hore ini sebagai badut dan jongos. Sehingga kandidat tidak pernah memperoleh anggota tim yang pricise daya analisisnya. Bahkan kandidat merasa jauh lebih hebat karena kandidatlah yang membayar tim hore-hore ini. Dari keempat kandidat, Hermanus, Juned, Mustajab, dan Ronald, tidak ada satu pun yang memiliki tim sukses yang handal, tajam, dan efektif. Hampir semuanya adalah orang-orang yang oportunis yang mengikuti apa saja kata tuannya. Kelak, siapapun yang menang mereka tidak terlalu peduli. Tidak ada perjuangan ideologi di situ. Mereka pun kemudian dapat melebur berganti baju untuk bisa berasyik-masyuk dengan siapa saja yang kelak menjadi pemenangnya. Bagi mereka proposal adalah kunci. Dalam pihak hore-hore ini, di mana suara rakyat? Ah, juga tidak penting. Tokh kandidat hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar. Suara-suara merdu; bukan suara-suara sumbang.

Kesimpulan apa yang dapat ditarik dari Episode Mbak Pur ini? Senyatanya politik uang bisa menghancurkan demokrasi. Ketidakpedulian pada komitmen, pengabaian pada suara rakyat, pengkhianat-pengkhianat politik, membuncah. Lantas siapa yang disalahkan? Mbak Pur? Uang? Juned? Atau siapa? Kesalahannya tentu ada di pundak para civil society yang merasa urusan perutnya belum selesai. Para jurnalis yang melacurkan berita, para akademisi yang menggadaikan ilmu, para politikus yang melupakan ideologi partai, dan para aktivis yang hanya sigap membuat proposal hore-hore. Di sinilah Episode Mbak Pur menjadi signifikan. Agar kita tidak ikut-ikutan idiot, agar kita tahu diri: fox populi fox dei. Selamat membaca...



Penulis: Soeyanto

Konsultan Politik