GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
05/1/2018 02:09:09
2735

Episode 43: Sebagian Syahwat Mbak Pur Tersalurkan

Harianlampung.com - Penerbangan panjang melintas lautan atlantik tak membuat perempuan setengah tua itu merasa lelah. Kegembiraan menyelimuti wajah tirus Mbak Pur. Melalui sambungan telpon jarak jauh, pemilik Pabrik Permen ini mendengar laporan Hasta Kramayudha.  Partai Daun Itunya Pepaya memutuskan Hermanus dan Sutikno menjadi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung partainya. Sesuai dengan rencana yang ada.

Tentu kegembiraan Mbak Pur cukup beralasan. Begini ceritanya. Sejak awal, bersama kokohnya, Guntur memang memburu habis-habisan agar Partai Daun Itunya Pepaya berkoalisi dengan Juned. Namun hambatan besar menganga didepan mata. Sang Nenek tidak mau berkawan dengan pemilik Pabrik Permen. Sebab Pabrik Permen barang haram, penyandang dana Sang Begawan Yahud. Ditambah lagi, pada moment memburu partai,  pertemuan Guntur bersama Sang Begawan Yahud didengar oleh Sang Nenek.

Mbak Pur tak kehilangan akal. Itulah kenapa, sejak awal cerita ini nama Hermanus ditulis berakhiran S. Tentu bukan secara kebetulan. Huruf S pada bagian akhir, adalah Sutikno. Kog bisa? Begini kisahnya. Setelah patah menghadapi Sang Nenek, hobby Mbak Pur yang doyan main lobang belakang, digulirkan. Nama Sutikno diluncurkan melalui Bamboe Doreng. Kebetulan Bamboe Doreng sempat bertugas menjadi pelaksana partai di kawasan Pabrik Permen. Saat yang sama, Mbak Pur meluncurkan Hary Wargoyo berdiskusi dengan Hasta Kramayudha. Dan sebelum menguatkan nama Sutikno, diluncurkanlah cerita buruk tentang Ronald yang bergelora untuk mendapatan Daun Itunya Pepaya. Sebuah skenario yang sama dilakukan, ketika menjadikan Yusron Komet di kawasan kota raja.

Untuk sementara syahwat Mbak Pur melampiaskan geramnya kepada Ronald tercapai. Bahkan berbonus. Mementahkan Ronald dari usungan Daun Itunya Pepaya dan berhasil menempelkan Sutikno sebagai calon wakil gubernur.

Bukan Mbak Pur bila berpuas diri. Mental penjajah tak akan berhenti. Mbak Pur harus memastikan bahwa penaklukan sudah secara total dan aman.

Rontoknya koalisi di tubuh Juned dengan hengkangnya Anak Nakal dan Gergaji, tidak membuat pusing Mbak Pur dan Guntur. Sebab Juned, sangat disadari Guntur tak akan mampu memenangkan kontestasi Pilgub. Tentu hal ini tak disampaikan Guntur kepada sang adik, Mbak Pur. Guntur menjaga perasaan adiknya yang begitu mesra bersama Juned.

Bagi Guntur, hengkangnya Anak Nakal dan Gergaji  bisa menjadi ganjalan untuk menjegal Ronald dari arena kontestasi pilgub. Manakala Anak Nakal atau Gergaji bergabung bersama Ronald. Bahkan lebih berbahaya lagi, ketika kedua partai ini bersekutu dengan Ronald. Bila ini yang terjadi, sudah terbayang dibenak Guntur tokoh-tokoh keren dan kharismatik yang akan turun gunung menjadi juru kampanye Ronald.

Rancang bangun strategi pun disodorkan. Mbak Pur bergerak. Melalui orang yang hingga kini menjadi kepercayaan Ronald, ditiupkan analisa yang masuk akal ketelinga Ronald. Bahwa Hasan Hasan tak layak jadi wakil Ronald. Dan memang kenyataannya tidak layak, penuh masalah. Disisi lain, tema kekhawatiran juga ditiupkan, bila Gundala yang dirangkul Ronald akan berbahaya.

Bila dalam hitungan hari, skenario Mbak Pur menembus jantung pertahanan Ronald mentah, sudah ada skenario lain yang disiapkan. Bila ini yang terjadi, maka Ronald akan menjadi penonton di arena kontestasi Pilgub. Partai Hati yang Luka tetap dipertahankan bercokol di Mustajab. Dan para boneka Mbak Pur diyakini akan melibas Mustajab dan pasangannya. Ujungnya, Mbak Pur dan Guntur menang besar. Namun peperangan  belum usai. Masih terlalu banyak arena pertempuran yang belum diselesaikan. Lima hari yang tersisa, kian banyak prajurit infantri yang diturunkan. Amunisi tanpa batas sudah disiapkan. Berhasilkah Mbak Pur melanggengkan penjajahannya? Tergantung sikap patriotik petinggi partai dan tekad rakyat untuk menghilangkan  penjajahan di kawasan Pabrik Permen.