GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
07/1/2018 09:36:27
2948

Episode 44: Ketika Dul Monges Masuk Sarung Mbak Pur

Harianlampung.com - Kini kompetisi  mulai beralih. Bukan lagi berlomba memperebutkan partai politik. Era itu sudah berlalu. Kompetisi menjelang mengambil tiket pada pelaksana pemilihan gubernur, mengubah peta politik dan kekuatan para kandidat. Mustajab, Juned, Hermanus, dan Ronald akan berlayar sukses menuju kontestasi 2018, itupun bila tak ada kekuatan yang luar biasa mengubahnya.

Ada dua kesuksesan yang luar biasa terjadi. Hermanus tak tergoyahkan dari pelukan Partai Itu Daunnya Pepaya. Ronald sementara sukses  menaklukkan Juned. Partai Anak Nakal dan Gergaji melakukan perundingan untuk berkoalisi bersama Partai Demikianlah dan Partai Pas Pasan. Sementara Mustajab kokoh bercengkrama  bersama partai koalisi, Nasi Goreng Adem, Kutu Sapi, dan Hati Yang Luka.

Sikap nyata Partai Anak Nakal yang mendeklarasikan ketuanya menjadi calon gubernur, pasca dicuekin Juned yang tanpa ba-bi-bu mendeklarasikan diri sendiri bersama Nyonya Centil, memang merupakan tamparan keras. Sebuah bentuk penistaan terhadap petinggi dan akar rumput Partai Anak Nakal. Masihkah Anak Nakal ingin bersekutu dengan Juned? Entahlah. Berhasilkah Mbak Pur membujuk rayu, menambah bonus 50 M kepada Ketua Anak Nakal dalam diskusi khusus Jumat malam di Senayan City? Entahlah. Diyakini, bila ini terjadi, telah terjadi transaksi jual beli partai bersama Mbak Pur, serupa dengan yang terjadi di Go-Kart.

Masih ingat Dul Monges? Kini telah muncul dihadapan kita. Walau Juned meruyuh, tapi tetap bahagia. Bercengkrama dalam satu sarung bersama Nyonya Centil dan Mbak Pur. Satu sarung bertiga. Tak ada ruginya. Lantas apa yang jadinya para Beduwo? Kita pun melihat secara nyata. Mereka sibuk berupaya mencari juragan baru dengan menjual kebobbrokan Juned dan Pabrik Permen. Sebuah karakter nyata dan baku, begitulah pengkhianat. Tak peduli dengan orang disekitarnya, yang penting pemasukan selalu ada.

Mapasss, tepik Go-Kart jamo Kutu Busuk di Mbak Pur,” celetuk Radin Jambat usai membaca serangkaian berita yang tersebar di dunia maya.

“Nyatanya begitu. Ini semua karena karakter Juned dan ulah tim Horenya,” timpal Mat Jelabat.

Ano kedah. Jag awal kag ram teduh. Molo no dang seago ago. Mak calak mak yo, mak gayo mak yo, mak beduit mak yo. Ulun pandai, yo eno bedowo,” ujar Radin Jambat sembari nyeruput kopi dingin.

Dang geheno Din. Tamek atei moneh jamo Juned. Kag jadei Dul Monges,” balas Mat Jelabat.

“Ini sebab akibat. Sudah Juned sifatnya begitu, tim horenya lebih gawat lagi. Seharusnya seluruh lawan-lawan politik dirangkul, malah ini sebaliknya. Menciptakan musuh dimana-mana,” ujar Radin Jambat.

“Juned pikir, dengan uang Mbak Pur, dia bisa kendalikan semuanya. Dia lupa, ini kawasan Pabrik Permen. Juned dan tim horenya sudah kebablasan. Mereka menistakan pedoman dan budaya hidup masyarakat disini,” kata Mat Jelabat berfilsafat.

“Seakan semua berjalan lancar, padahal masalah besar sudah terbentang secara nyata. Menunggu saat meledak saja,” jawab Radin Jambat.

“Juned bilang semua beres. Semua bisa selesai dengan tumpukan dolar. Apalagi kalau melapor, saat mereka dalam satu sarung. Laju telayau tian,” timpal Mat Jelabat.

Eno kan ilmu Juned. Cara membobol brangkas Mbak Pur sama tim horenya. Coba audit, pasti terjadi korupsi besar-besaran disetiap pos sosialisasi dan pos partai,” jelas Radin Jambat.

“Namanya juga duit setan, dimakan iblis,” kata Mat Jelabat.

“Sekarang, walau Juned ikut dalam kontestasi Pilgub, mereka sudah kalah sebelum bertanding,” ujar Radin Jambat.

“Kenapa seperti itu?” tanya Mat Jelabat.

“Peristiwa hengkangnya Anak Nakal, terlepas dari bisa kembali lagi, merupakan bentuk penegasan kepada publik, bahwa Juned dan Mbak Pur memang benar tak layak untuk mendapat suara dari rakyat. Semua pihak tahu, bahwa Pabrik Permen memaksakan pasangan Juned dan Nyonya Centil, hanya untuk melanggengkan penjajahan mereka,” balas Radin Jambat dengan kening berkerut.

“Memang terlihat secara terang benderang. Serunya lagi, Ronald sudah kian matang untuk menabuh genderang perang bersama koalisinya. Nggak ada Ronald aja, jagoan utama Pabrik Permen udah jadi Dul Monges. Beduwo cadangannya cuma jadi calon wakil gubernur, nggak berarti apa-apa. Paling Cuma rusuh-rusuh aja, seperti yang terjadi sekarang,” ujar Mat Jelabat.

Adew pai kedah. Kupiey kag geleg. Nyak ago nyeruput susue Nyonya Centil sai kag dibagei-bagei Juned,” timpal Radin Jambat sembari tersenyum todau.

Pertanyaannya kemudian, semakin muluskah laju perahu Ronald? Masih menunggu arah angin buritan. Tapi tidak tergantung dengan batu-batu keramat atau kuburan. Yang jelas, Mbak Pur tak akan membiarkan Ronald begitu saja untuk berlayar. Sebuah gerakan lanjutan yang perlu dicermati secara matang. Masih cukup waktu untuk membuat pesta pilgub melahirkan banyak kejutan. Masih adakah Dul Monges lainya?

Bagi rakyat di Kawasan Pabrik Permen, peristiwa lintang pukang di kubu Juned, membahwa hikmah dalam meningkatkan kewaspadaan. Apalagi bila merujuk pada tesis Karl Polyani dalam The Great Transformation:  Apakah pendatang baru itu membutuhkan tanah demi kekayaan yang terkandung di dalamnya, atau apakah cuma ingin mendesak penduduk asli memproduksi surplus pangan dan bahan mentah, sering kali tidak relevan.

Juga tidak banyak bedanya, apakah warga pribumi itu bekerja di bawah supervisi langsung pendatang baru itu ataukah hanya dibawah satu bentuk tekanan tak langsung, karena dalam setiap kasus, apa saja, sistem sosial dan budaya penduduk pribumi harus dihancurkan. Dan itulah yang telah dilakukan Mbak Pur dan Juned, melalui prilaku memecah belah petinggi dan jajaran partai di Kawasan Pabrik Permen. Sebuah konsep dasar yang dijadikan pintu masuk melanggengkan penjajahan.