GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
08/1/2018 02:01:33
3407

Episode 45: Menguji Keberadaan Telur Mbak Pur

Harianlampung.com - Babak pertama pesta belum usai sepenuhnya. Masih diselimuti rasa was-was, menyongsong berakhirnya tanggal 10 Januari. Debaran jantung seirama dengan tingkat rasa lega. Tentu saja ada kekesalan dan kebahagian yang mengiringinya.

Hermanus,Mustajab, Juned, dan Ronald telah bersiap diri untuk mengusung pasangan masing-masing. Mereka akan menuju kantor pendaftaran pemilihan gubernur. Ada yang mengambil kesempatan hari pertama, ada pula yang kedua, bahkan pada hari ketiga. Pilihan hari pendaftaran, tentu banyak aspek yang menjadi pertimbangan. Selain kelengkapan administrasi, tafsir hari baik juga jadi alasan untuk memilih hari pendaftaran.

Memasuki babak kedua, dimulai ketika pendaftaran ditutup. Tentu akan semakin banyak tema terkait pasangan-pasangan kandidat yang akan terungkap di  ruang publik. Bisa melalui media massa, media sosial, bahkan melalui pamplet dan poster. Termasuk broadcast-broadcast pesan via jejaring WA, BBM, Instagram, Facebook hingga SMS. Rakyat di seantero Kawasan Pabrik Permen akan disuguhi  beragam  informasi. Mulai dari yang bersifat puja-puji  ataupun yang bernada negatif. Sebuah peristiwa yang seakan menjadi kebiasaan dalam setiap kontestasi pemilihan langsung para pemimpin publik.

Bila melihat para kandidat calon gubernur dan calon wakil gubernur yang akan mengikuti kontestasi, setidaknya ada tiga kejutan  terjadi. Pertama, Hermanus membawa pasangan yang tak terduga, walau sekilas sempat diperbincangkan. Kedua, Ronald yang diinginkan banyak pihak terdegradasi, berhasil melaju. Ketiga, Juned yang semula didukung empat partai, ternyata hanya diusung dua partai.

Pertanyaannya kemudian, dimana posisi Mbak Pur? Jelas Mbak Pur ada dipelukan Juned. Lantas dimana posisi Pabrik Permen? Hitungannya, tentu akan berada dikeempat pasangan kandidat yang ada. Kog bisa?

Bagi rakyat, guna menguji keberadaan Pabrik Permen, tak perlu bersusah payah mencarinya. Cukup  melihat komitmen dan sikap yang ditampilkan para kandidat cagub ataupun wagub. Bisa terlihat dalam visi-misi ataupun pernyataan publiknya. Termasuk  komitmen partai-partai yang menjadi pendukung para kandidat. Apa?

Pertama, seluruh rakyat di Kawasan Pabrik Permen sudah bertahun-tahun tersiksa akibat kekurangan pasokan listrik. Mesin pembangkit yang ada, tak mampu memenuhi kebutuhan. Sudah bertahun-tahun,  pasokan listrik dari daerah tetangga terhambat. Itu disebabkan adanya penolakan Pabrik Permen. Mbak Pur dan Guntur melarang tiang transmisi melintasi kawasan kebun mereka. Walaupun belakangan, karena tekanan pusat kekuasaan, Pabrik Permen sudah memberi kelonggaran.

Kedua, beriringan puluhan tahun Pabrik Permen menikmati trilunan rupiah keuntungan, dibalik sana, terjadi perampasan atas tanah rakyat, tanah ulayat, bahkan kawasan konservasi. Pabrik Permen mengkooptasi tanah di tiga kecamatan dengan mengatasnamakan Hak Guna Usaha.

Dua hal diatas menjadi ukuran bagi rakyat untuk menemukan pasangan kandidat yang bebas dari kooptasi Pabrik Permen, termasuk dengan partai politik yang mengusung mereka. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, khususnya partai politik pendukung  di parlemen pada berbagai tingkatan, akan mengambil sikap atas hasil Pansus Pabrik Permen.

Dari sini akan terlihat nyata, partai politik mana yang secara cepat menuntaskan dua persoalan penting yang sudah diderita rakyat selama puluhan tahun. Baik soal kooptasi tanah bertabir HGU ataupun soal pelarangan lintasan kabel transmisi listrik dari daerah tetangga.

Tentu saja, selain kedua masalah penting tadi, figur para kandidat juga perlu ditelisik secara teliti. Kata Sun Tzu, kepemimpinan itu gabungan unsur-unsur kecerdasan, sifat amanah, rasa kemanusiaan, keberanian dan disiplin. Hanya ketika seseorang memiliki unsur itu menyatu dalam dirinya, masing-masing dalam porsi yang tepat, baru dia layak dan bisa menjadi seorang pemimpin.

Sehingga, bagi para pemilih, sebelum menjatuhkan pilihan, ada baiknya menyimak kutipan pidato M Hatta di Universitas Indonesia pada 11 Juni 1957 “ Revolusi kemerdekaan Indonesia telah berhasil membangun sebuah negara baru dan identitas nasional, tetapi gagal mengimplementasikan cita-cita sosialnya karena kemerdekaan politik hanya dimanfaatkan demi kepentingan kelompok dan pribadi. Politik tidak dianggap sebagai tanggung jawab bagi kebaikan bersama, tetapi disalahgunakan semata-mata sebagai sarana untuk bagi-bagi kekayaan dan jabatan di kalangan kelompok terbatas.