GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
19/1/2018 01:51:20
4112

Mengukur Kekuatan Suara Kandidat Gubernur Lampung 2018

Harianlampung.com - Pilkada serentak 2018, termasuk Pilgub Lampung akan diselenggarakan pada 27 Juni 2018. Menarik untuk disimak. Setidaknya ada  empat  pasangan kandidat  yang telah mendaftarkan diri di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung.  

Guna meraih kursi Gubernur Lampung Periode 2019 – 2023, pasangan tokoh-tokoh yang memiliki kapasitas dalam perpolitikan di Lampung sudah mendaftarkan diri.  Sebut saja, pasangan  petahana Muhammad Ridho Ficardo – Bachtiar Basri, Mustafa – A Jajuli, Herman HN – Sutono, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung  yang mendadak mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil, dan pasangan Arinal Djunaidi, pensiunan pegawai negeri sipil dengan jabatan terakhir Sekretaris Daerah Provinsi Lampung – Chusnunia Chalim.

Sebagian besar tokoh tersebut telah memiliki pengalaman naik ring politik. Terlibat dalam pemilihan langsung yang dilakukan oleh rakyat  dalam Pilkada. Hanya Arinal dan Sutono yang belum pernah dipilih rakyat secara langsung. Sehingga untuk mengukur suara kandidat dalam Pilgub 27  Juni 2018 mendatang sulit ditebak.

Dari gambaran diatas, selain petahana Ridho, ada tiga kepala daerah yang turut serta mengikuti kontestasi menjadi  gubernur.  Mustafa kini  Bupati Lampung Tengah dan Herman pemegang jabatan Walikota Bandarlampung dua periode. Sementara Chusnunia Chalim, pemegang jabatan  Bupati Lampung Timur. Namun hanya sebatas menjadi  pendamping Arinal, maju menjadi calon wakil gubernur.

Disisi partai politik, petahana Ridho Ficardo adalah Ketua DPD Partai Demokrat (PD)  Lampung, Mustafa, Ketua Partai Nasdem Lampung, Arinal Djunaidi belum dalam hitungan tahun menjabat sebagai Ketua Partai Golkar (PG)  Lampung.  Pasangannya Chusnunia Halim yang juga baru dalam hitungan bulan menjabat  Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Lampung.

Terlalu dini untuk menebak siapa yang akan terpilih menjad Gubernur Lampung periode mendatang. Namun demikian, ada empat  aspek yang bisa ditinjau guna mendekati kondisi yang ada, yakni Aspek Strength Of Political Parties, History Of Political, Regional Strength Candidate dan Political Conflict.

Pertama, Strength Of Political Parties adalah bagaimana melihat kekuatan partai politik yang mengusung kandidat tertentu dari aspek kursi di parlemen, dukungan suara rakyat dan persepsi positif partai tersebut.

Di antara empat kandidat gubernur, koalisi parpol yang mengusung Ridho memiliki kekuatan partai politik yang mumpuni, yakni Partai Demokrat, Partai Gerindra, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam Pemilihan Legisltaif  lalu, Partai Demokrat meraih kursi kedua dengan kekuatan 11 kursi. Sementara Partai Gerindra memilik kekuatan 10 kursi. Namun menempati urutan kedua, setelah PDIP dalam hal peraihan jumlah suara. Kursi gemuk. Sementara PPP pemegang mandat 4 kursi DPRD Provinsi Lampung. Ini sebagai pertanda, bahwa Provinsi Lampung merupakan basis partai-partai pendukung Ridho-Bachtiar.

Meskipun demikian, perlu mencermati, salah satu kandidat yang turut dalam kontestasi adalah Herman HN yang kini didukung PDIP (17 kursi). Pada Pilgub sebelumnya,  Herman berpasangan dengan  Zainudin Hasan. Pasangan ini menjadi peraih suara terbesar kedua, setelah Ridho-Bachtiar.

Ketika itu,  Herman – Zainudin Hasan, adik kandung Ketua Umum PAN yang kini menjadi Bupati Lampung Selatan, diusung  partai parlemen, yakni Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Bintang Reformasi (PBR) dan Partai Gerindra serta 18 parpol non parlemen. Herman meraih suara sebanyak  33,12 persen. Sementara Ridho – Bachtiar sebagai pememang meraih suara sebanyak 44,96 persen.

Kini, Herman berpasangan dengan  Sutono maju hanya dengan dukungan PDIP (17 kursi). Sementara PAN (8 kursi) kini dipimpin mantan pasangan Herman, Zainudin Hasan bergabung di kubu Arinal. Sementara Gerindra bergabung di kubu Ridho-Bachtiar. Namun  PDIP merupakan peraih suara terbanyak  pada Pileg yang lalu.

Partai Golkar ketika itu mengusung Ketua Golkar Lampung Alzier Dianis Tabrani, salah seorang tokoh Lampung yang cukup diperhitungkan banyak kalangan. Maju berkoalisi  dengan Partai Hanura. Alizier  berhasil meraih suara sebanyak 7,11 persen. Kali ini Partai Golkar (10 kursi) pun mengusung sang ketua,  Arinal Djunaidi, koalisi bersama PKB (7 kursi) dan PAN (8 kursi).  Partai Hanura (2 kursi) kini berada di kubu Mustafa. Sebelumnya PKB  berada di kubu Ridho-Bachtiar dan PAN berada di kubu  Herman.

Diantara empat kandidat gubernur yang maju, Arinal dan Mustafa merupakan pendatang baru dalam Pilgub Lampung. Partai Nasdem (8 kursi) yang dikomandani Bupati Lampung Tengah ini juga merupakan partai baru parlemen yang turut serta dalam ajang Pilgub Lampung. Namun Mustafa berhasil meraih simpati PKS (8 kursi, dulu ada di kubu Ridho-Bachtiar) dan Hanura (sebelumnya berada di kubu Golkar).

Kedua, History of Political merupakan sejarah politik yang pernah dilakoni masing-masing kandidat. Dalam hal ini Ridho – Bachtiar terlihat lebih diuntungkan. Keduanya kompak, tidak pecah kongsi. Kemenangan meraih kursi Gubernur Lampung pada Pilgub 2014, menjadi sebuah potensi  dukungan politik rakyat yang  masih cukup kuat. Ditambah lagi, saat ini Ridho - Bachtiar yang berbasis pada Partai Demokrat (11 kursi) mendapat dukungan  penuh  PPP (4 kursi) dan Partai Gerindra (10 kursi) yang memiliki citra baik dalam keberpihakannya membela rakyak. Selain itu Gerindra memiliki jaringan akar rumput yang solid dan dalam satu komando.

Tentu  juga perlu dicermati  perseteruan internal partai politik yang terjadi di Lampung menjelang Pilgub (Golkar, PAN, PKB) yang mengusung Arinal. Ini menjadi potensi positif untuk ketiga kandidat gubernur lainnya. Sementara partai-partai  politik yang mengusung Ridho, Mustafa dan Herman, relatif solid.

Ketiga, Regional Strength Candidate atau lebih lazim diistilahkan sebagai geopolitik. Dalam menentukan geopolitik menggunakan pendekatan budaya, suku, adat, bahasa dan agama. Untuk di Lampung dapat dibagi menjadi Tiga  wilayah, yakni wilayah I, yakni Lampung Utara, Way Kanan, Lampung Barat, Pesisir Barat. Antara penduduk pribumi dan pendatang sudah terjadi asimilasi yang cukup baik. Namun tingkat heterogenitasnya tidak terlalu variaitf. Wilayah II yakni, Kota Metro, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, Mesuji, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus.  Antara penduduk pribumi dan pendatang juga sudah terjadi asimilasi yang cukup baik. Namun tingkat heterogenitasnya cukup variaitf.  Wilayah III yakni, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Timur, Bandarlampung. Selain antara penduduk pribumi dan pendatang  sudah terjadi asimilasi yang cukup baik.Tingkat heterogenitasnya sangat variatif.  Wilayah ini merupakan basis pemilih besar. Selain juga memiliki pemilih yang lebih melek politik dan melek informasi,  dibanding wilayah I dan II .

Pada Pilgub 2014, Ridho-Bachtiar hampir menguasai  tiga  wilayah tersebut. Kemenangan Ridho – Bachtiar pada Pilgub lalu terjadi di Metro, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Way Kanan, Tanggamus, Tulangbawang Barat, Lampung Timur, Pringsewu, Lampung Utara. Petahana tidak unggul di wilayah Lampungbarat (unggul pasangan Berlian – Mukhlis), Tulangbawang (unggul pasangan Berlian – Mukhlis) dan Bandarlampung (unggul pasangan  Herman – Zainudin).

Pada Pilgub kali ini, fragmentasi pengaruh politik pada wilayah III terjadi pergeseran. Mustafa adalah Bupati Lampung Tengah (Ketua Nasdem), Chusnunia Chalim, Bupati Lampung Timur (Ketua PKB). Juga ada faktor Zainudin Hasan yang menjadi pasangan Herman sebelumnya, kini tidak maju, menjadi Bupati Lampung Selatan, sekaligus Ketua PAN Lampung, sebelumnya dipegang Bachtiar Basri. Sementara Herman tetap dalam posisi semula, Walikota Bandarlampung yang kini diusung PDIP.

Disisi lain, keempat pasangan cagub dan cawagub yang maju kali ini, terpolarisasi sama, yakni pribumi asli dan pribumi campuran.

Keempat, Political Conflict atau konflik politik, baik yang terjadi secara individu maupun partai politik. Konflik politik niscaya dapat mempengaruhi perolehan suara bagi masing-masing kandidat. Untuk bagian ini, pasangan Arinal – Chusnunia menyimpan konflik politik di partai yang menjadi pengusung mereka. Faktor ini bisa berakibat secara signifikan menggerus potensi suara. Diseluruh wilayah bisa  terjadinya “pembangkangan” yang dilakukan oleh kader partai. Sementara pasangan Mustafa – Jajuli, Herman – Sutono, dan Ridho Bachtiar, partai politik yang mengusung dan mendukung mereka relatif solid.

Konfilik yang terjadi di  internal partai, bisa berdampak positif bagi pasangan  Ridho – Bachtiar, Mustafa – Jajuli, dan Herman – Sutono dalam meraup suara. Pasangan Ridho – Bachtiar memiliki tokoh sentral dan laik jual, Presiden Republik Indonesia dua periode, Susilo Bambang Yudhoyono (PD) dan Prabowo Subianto (Gerindra) yang memiliki  pencitraan yang sangat positif dimata masyarakat. Berdasarkan hasil banyak survey nama Prabowo masuk dalam papan atas calon Presiden Indonesia  2019.

Dari beberapa gambaran diatas, tentunya masyarakat telah dapat mengukur kekuatan suara kandidat gubernur Lampung sebelum Juni 2018 mendatang. Hanya saja dalam politik, selalu muncul kejutan-kejutan. Sebab politik tidak pernah berpola sama, selalu muncul pola yang tak terduga. Seperti analisis banyak pihak sebelumnya,dimana  petahana Ridho Ficardo akan terdegradasi pada kontestasi Pilgub kali ini. Kenyataannya, malah Ridho maju dengan kekuatan yang signifikan. Lolos dari serangan meriam dan bazoka banyak pihak.

Belajar dari Pilgub DKI Jakarta lalu, betapa kampanye negatif, bahkan bernada hitam, dan gelontoran uang atau sembako,berakibat negatif bagi pelakunya. Tak perlu mengulang kebodohan yang sama. Perlu dihindari oleh Tim Pemenangan para kandidat. Kini rakyat Lampung segera memasuki pesta demokrasi pada 27 Juni 2018. Jangan sia-siakan hak yang dimiliki. Datang dan penuhi undangan Komisi Pemilihan Umum, menuju bilik-bilik suara dengan hati yang lapang.Tentu saja turut menjaga ketertiban dan keamanan.