GAGASAN
Yusuf Yazid (helmi/pin)
26/1/2018 00:27:29
4421

Melongok Kinerja Tim Kandidat Gubernur Lampung

Harianlampung.com - Pemilihan pasangan Gubernur – Wakil Gubernur Lampung periode 2019 – 2024 pada Juni 2018 mendatang, memasuki tahapan penetapan para pasangan calon. Sebelum memasuki tahapan yang diatur Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan diawasi Bawaslu, para calon kandidat memanfaatkan  waktu yang tersisa. Kian  gencar menebar pesona.

Lantas bagaimana cara para kandidat mengisi waktu-waktu yang ada. Baik saat bebas ataupun yang sarat aturan? Semua aktiiftas hanya untuk meraih simpati. Tujuannya hanya satu, warga memberikan kepercayaan untuk menduduki kursi kekuasaan tertinggi di Provinsi Lampung di masa mendatang.

Setidaknya akan ada enam hal yang akan menentukan keberhasilan atau kegagalan mereka meraih kursi gubernur. Pertama, partai politik.  Instrumen partai politik  yang mengusung atau mendukung para kandidat tentu akan bergerak. Mesin partai akan digunakan secara maksimal. Soliditas jajaran partai memiliki faktor yang cukup signifikan untuk memenangkan atau membuahkan kegagalan.  

Konflik internal atau solidnya partai, selain citra partai politik paska Pilgub DKI Jakarta yang lalu, dimata masyarakat mulai terpilah. Semua itu tentu akan mempengaruhi hasil yang akan diraih kandidat dalam mendulang suara.

Apalagi, ajang Pilkada (gubernur, bupati, walikota) tahun 2018, sejak jauh hari menjadi babak awal dimulainya pertempuran politik jelang Pileg dan Pilpres 2019. Ada kepentingan mesin partai untuk meraih kursi kekuasaan periode mendatang. Dilain sisi, kader-kader partai juga memiliki kepentingan meraih  kursi legislatif. Ada dua titik kepentingan akan bertemu: Kepentingan partai meraih kekuasaan di eksekutif  dan kepentingan kader-kader partai meraih kursi legislatif.

Ditengah mesin partai bergerak memenangkan kandidat yang diusung, kader-kader partai juga bersosialiasi di masyarakat pemilih. Baik untuk mempertahankan atau meraih tambahan kursi  anggota legislatif pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Situasi seperti ini akan menggerakkan mesin partai lebih kencang. Sehingga kesiapan manajemen dan soliditas jaringan partai akan diuji dan menjadi salah satu tolak ukur dalam menentukan kemenangan kandidat yang diusung.

Sejauhmana efektifitas dan soliditas gerakan mesin partai politik Golkar, PKB, dan PAN untuk membawa Arinal-Chusnunia menuju puncak? Begitu juga mesin Partai Demokrat, Gerindra, dan PPP yang mengusung Ridho – Bachtiar untuk mempertahankan kursi kekuasaan? Juga seperti apa mesin PDIP bergerak untuk memindahkan Herman dari kursi Walikota ke kursi gubernur? Tentu saja putaran mesin Partai Nasdem, PKS, dan Hanura akan diuji membawa Mustafa – Jajuli ke kursi Lampung-1.

Kedua, pola kampanye. Modal kuantitas partai politik tak menjamin unggulnya kandidat yang diusung. Bila pola kampanye bisa dibaca kompetitor secara baik, maka mesin politik partai akan terkubur dalam kubangan.

Pola kampanye darat yang konvensional, menggunakan pola seperti  kegiatan dangdutan, jalan sehat, wayangan, sembako murah atau sembako gratis, tak efektif untuk  mempengaruhi secara luas pemilih pada wilayah yang mayoritas dihuni pemilih rasional. Bahkan bisa menjadi bumerang bagi kandidat yang melakukan.

Begitu juga  pola kampanye udara yang menggunakan pola playing victim. Sebuah kampanye melalui dunia maya untuk menggambarkan kandidat sebagai korban diskriminasi dan intoleransi tak mampu mengubah cara pandangan pemilih secara mayoritas. Militansi yang berlebihan dari tim udara bisa menjadi blunder politik.

Ketiga, dukungan finansial. Modal finansial besar yang dimiliki kandidat bisa membuat keteledoran dalam penggunaannya, sehingga menjadi tidak efektif. Melimpahnya dukungan finansial yang dimiliki kandidat tak tepat guna untuk agenda pemenangan secara efisien.

Ini bisa dicermati sejak jauh hari dari pembiayaan yang besar untuk imaging politic melalui media massa dan media sosial, tetapi tidak berbuah pada meningkatnya elektabilitas. Kampanye udara yang berbiaya besar, lebih diutamakan dibanding kampanye darat yang sesungguhnya bisa lebih efektif dengan menggerakan mesin politik secara kultural.

Ketidakcermatan menggunakan modal finansial yang besar akan berujung pada antipati dan jengahnya masyarakat terhadap kandidat. Citra angkuh dan sombong akan melekat secara massif dibenak warga.

Keempat,  komunikasi publik. Kandidat yang tak tepat mengungkapkan pikiran akan membingungkan para pemilih. Apalagi bila kandidat terlihat tak santun. Bila tak tepat, pernyataan-pernyataan publik para kandidat akan menimbulkan rasa antipati, bukan simpati. Dalam konteks sosiologis politik, cara komunikasi santun, menampilkan hasil kerja nyata atau target kerja yang ingin dicapai secara rasional akan jauh lebih diterima warga.

Menyampaikan cita-cita dan keinginan bila terpilih menjadi gubernur, tentu sah-sah saja. Namun warga masyarakat jangan dianggap buta atau mudah dibodoh-bodohi. Mereka cukup cerdas membedakan, mana janji-janji yang bisa direalisasi atau hanya basa-basi.

Identifikasi atas problem dan keluhan yang selama ini dihadapi masyarakat serta menawarkan solusi yang rasional, akan membantu para kandidat untuk meraih simpati.

Kelima,  kerja relawan atau simpatisan. Tindakan fatal ketika sosialisasi, pendaftaran, penetapan resmi para kandidat, hingga waktu kampanye dan masa tenang, akan berdampak buruk bagi kandidat. Apakah melalui meme, vidoe, atau operasi bagi-bagi sembako yang dilakukan relawan atau simpatisan akan menimbulkan kesan negatif terhadap kandidat yang diusung. Elektabilitas kandidat yang semula tinggi akan tergerus dan yang rendah akan hangus.

Keenam, kampanye. Ini merupakan kegiatan politik dalam rangka mengenalkan, membumikan sosok kandidat di masyarakat. Intinya, kampanye merupakan marketing politik. Produk yang dijajakan akan menyangkut partai politik, sosok kandidat, visi-misi, karakter yang diramu dengan strategi jual yang tepat.

Ketikdacermatan dalam menerapkan pola kampanye akan berdampak negatif. Sehingga kampanye  membutuhkan detail perencanaan. Sejak awal perlu diperhatikan tentang khalayak yang disasar. Juga menetapkan tujuan komunikasi yang ingin dicapai. Dari sini akan muncul arti penting menetapkan juru kampanye, pesan kampanye dan sarana yang akan digunakan. Ketepatan dalam menggunakan jenis media untuk penyebarluasan pesan akan menimbulkan dampak yang positif.

Sehingga penetapan strategi kampanye menjadi hal yang penting. The Art of General, rancangan untuk memenangkan peperangan. Sebuah seni yang melibatkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan dengan memperoleh keuntungan yang maksimal dan efisien.

Pada titik ini, kehadiran seorang Spin Doctor atau manajer kampanye menjadi penting. Sosok ini memiliki tugas  untuk merencanakan dan mengelola kampanye. Spin Doctor juga berfungsi dalam  merekayasa cara- cara “pemaksaan” dalam kampanye menjadi sebuah bujukan.

Dari semua itu, tentu saja faktor memilih juru kampanye atau komunikator politik menjadi hal yang sangat strategis. Setidaknya, seorang juru kampanye perlu memiliki  kekuatan pribadi, kemampuan pengendalian emosi massa dan memiliki kekuatan dalam berargumentasi. Dan itu akan tercermin pada sosok juru kampanye dengan ukuran-ukuran pada : Usia, Penampilan, Kecerdasan, Ketrampilan Komunikasi dan Popularitas.

Kandidat mana yang akan berhasil atau gagal dalam menerapkan aspek-aspek diatas? Tentu akan terlihat pada akhir Juni 2018 mendatang.